Nikmat Tuhan mana lagi yang kini kau dustakan ? Jika manusia setampan dirimu kemudian tiba-tiba hadir didalam kehidupanku. Seorang pria yang memiliki kesempurnaan dalam segala hal. Hadirmu mampu menerangkan jalanku yang selama ini tertutup oleh kegelapan yang menyelimutiku. Tutur sapamu mampu menenangkanku dari gejolak badai yang mengombang-ambingkan batinku, pandangan matamu mampu menyejukkanku dari hancurnya hatiku karena luka lamaku.

"Maka jika Tuhan telah menghadiahkanmu untukku aku akan terus bersujud sebagai tanda terima kasihku karena telah memberikan cahaya setelah gelap yang begitu menyiksaku. "

Bagaimana aku tidak terlena dengan perilaku lembutmu kepadaku jika setiap hari kau selalu memberikan seikat mawar merah didepan pintu rumahku ? Bagaimana aku tidak berfikir bahwa kau mencintaiku jika setiap hari kau memberikan kata-kata indah yang membuat hati sseorang wanita menjadi berbunga-bunga setiap waktu ?

"Aku merasa seperti seorang ratu dengan caramu yang memperlakukanku dengan seromantis ini."

Karena kau hadir disaat aku sedang berada ditengah kegelapan. Kau hadir disaat aku merasa rapuh dan terjatuh. Kau hadir disaat aku butuh seseorang untuk menopang jalanku. Kau hadir disaat aku lelah menghadapi ujian Tuhan yang telah memberiku cinta kemudian mengambilnya dariku disaat batinku telah menyatu dengan batinnya orang yang begitu aku cintai luar dan dalam.

Advertisement

Namun awan cerah nan indah dengan pancaran sinar matahari yang begitu menyinari seluruh dunia ini tiba-tiba saja menjadi hitam tertutup awan gelap. Cahaya mataharipun perlahan mulai menghilang. Petir menyambar-nyambar seakan murka pada dunia dan seluruh isinya. Aku bahkan tak tau apa kesalahanku hingga aku merasa kau perlahan menjauhiku. Aku terpaku menatap hujan yang jatuh membasahi bumi, menikmati setiap tetesan hujan berharap nikmat Tuhan lewat hujan yang menyejukkan bumi ini membawa jawaban atas segala pertanyaanku.

Aku bahkan selalu mencoba dan berfikir setiap waktu apa yang terjadi padamu hingga perlahan kau menjauhiku . Mungkinkah kau tak pernah mencintaiku seperti aku mencintaimu ? Mungkinkah semua perlakuanmu kemarin tak lebih dari perlakuan seorang teman ? Mungkinkah kau tak suka dengan sikapku yang berlebih kepadamu sehingga kau menjauhiku ?

"Untukmu yang perlahan datang, kemudian menjauhiku . Tak usah bersusah hati, aku yang akan mundur teratur dan menghilang dari kehidupanmu. "

Mungkin aku yang terlalu cepat mencintaimu, mungkin aku yang terlalu cepat meletakkan separuh hatiku padamu. Mungkin juga kedatanganmu diwaktu yang tidak tepat itu membuatku mudah memberikan perasaan padamu. Aku yang bersalah dalam hal ini, bukan dirimu ataupun Tuhan.

Tapi jika diizinkan untuk kembali keawal dari sejak kau datang hingga saat ini, seharusnya kau tak perlu bermulut manis kepadaku, kau tak perlu memperlakukanku sedemikian rupa sehingga membuatku tertarik kepadamu, lalu setelah aku mulai mencintaimu kau pergi meninggalkanku, apa kau pikir hatiku tempat peristirahatanmu ? Kumohon bercanda jangan sekonyol ini. Ini masalah hati. Bahagiakan kau jika melihatku terluka ? Lalu haruskah aku mencabut kembali rasa syukurku pada Tuhan karena telah membawakan nikmatnya yang berupa dirimu untukmu yang hanya menjadikannku tempat peristirahatanmu ?