Apa kau masih ingat ketika kita menertawai hal konyol dan membuat gaduh seisi perpustakaan? Berlarian ketika dikejar anjing, pura-pura baca ke perpustakaan hanya untuk mengintip pasangan baru teman kita, mematung menikmati matahari terbenam di bibir pantai. Apa kau juga masih ingat kala kita menangis bersama di bawah tarian rembulan? Malam itu –ketika semua terlelap dalam pelukan mimpi, kau menjanjikanku satu hal; menetaplah bersamaku. Ah, aku masih mengingat semuanya –aku pikir kaupun begitu. Bahkan ketika aku membanting pintu karena begitu marahnya aku kepadamu. Aku juga masih mengingatnya.

Kudengar kau sudah dipinang laki-laki itu –laki-laki yang sempat membuat denyut jantungku berdesir lebih hebat ketika kami saling berpapasan sekaligus alasan kita saling menjauh. Bahagia sekali rasanya, ya. Apalagi kudengar kalian saling mencintai. Ah, betapa menyenangkan memiliki kisah cinta yang seperti itu. Aku jadi membayangkan betapa kau sangat bahagia hari itu. Oh ya, kau pasti akan terlihat sangat cantik. Hmm.. sudah kuduga. Orang-orang pasti akan mencemburuimu. Ah, selamat-selamat!

Soal perasaanku, kau tak perlu cemas. Aku sudah berusaha untuk melupakannya semampuku. Meskipun itu bukan hal yang mudah. Apalagi aku harus kehilangan dua orang sekaligus; kau dan dia. Dua tahun ternyata belum cukup. Kadang bayang senyummu dan dirinya masih sering datang. Aku tak pernah berhenti memarahinya. Tapi kenangan itu merangsek masuk begitu saja. Tenang saja, ini hanya persoalan waktu. Kelak aku pun akan bahagia bersama pilihanku. Doakan!

Sekali lagi, tak usah mengkhawatirkanku. Aku sudah berjanji untuk membuangnya jauh-jauh. Besok ketika ia mengucap akad bersamaan datangnya senja, aku sudah bersiap menenggelamkannya seiring matahari menemui ajalnya. Melarungnya bersamaan jejak langkah kaki yang hilang terbawa arus pasang Pantai Parangtritis –tempat favorit kita menikmati senja.

Duh, maafkan aku mengingatkanmu kembali. Aku tidak bermaksud menggagalkan rencanmu. Sungguh. Justru aku berterima kasih. Tanpamu mungkin aku tak sekuat dan setegar sekarang. Maafkan aku. Kau mau, kan? Aku tahu kau sedang mengangguk sekarang. Terima kasih sudah mengerti.

Advertisement

Oh ya, bolehkah aku meminta satu hal? Satu saja. Aku takkan pernah meminta apapun lagi. Mulai hari ini, berjanjilah untuk hidup bahagia dengannya dan melupakan perasaanku. Cukuplah apa yang pernah terjadi menjadi kepingan memori dalam hidup kita. Lupakan pintalan benang persahabatan yang pernah terjalin. Ia terlalu usang kalau terus menerus kau gunakan. Kau harus menggantinya dengan yang baru. Satu hal yang pasti; aku akan terus mendoakanmu dari jauh.

Selamat berbahagia, Sahabat!