Surat ini sengaja kutulis saat kamu dan aku sudah lama tak lagi bertemu, bahkan untuk bertukar kabar pun aku lupa kapan terakhir kalinya.
Kau bilang aku rindu? Mungkin saja.

Untukmu, yang pernah kuminta menjadi kekasihku. Dengan sangat menyesal, aku ingin jujur padamu bahwa saat kita berpisah aku tak benar baik-baik saja menerima keputusanmu. Aku merasa bahwa bahagiaku hilang, tenggelam, bersama pesan-pesanmu yang tak lagi muncul di layar handphoneku.

Aku tahu, bahwa kamu tahu betul bagaimana aku berjuang dulu. Waktu kamu tak sengaja lewat di depan ku saat itu, pertama kalinya aku melihatmu di sana, di depan perpustakan kampus. Aku melihatmu, seperti aku melihat bahagia. Maaf jika ini berlebihan, tapi kamu tahu kan bagaimana rasanya jatuh cinta? Jangan bilang kamu tak tahu, atau kamu memang benar tidak merasakan itu padaku? Ah, pantas saja…

Aku pernah berhenti berlari saat menujumu. Aku hanya berhenti dan menepi, bukan mencari jalan lain. Karena ku lihat, ketika aku berlari kamupun ikut berlari menjauh. Hingga sepertinya percuma untuk aku terus berlari, toh aku diam pun jarak menujumu sama saja jauhnya.

Tapi di satu ketika, entah bagaimana cara Tuhan menyadarkannya. Bahwa ada aku yang sedang menginginkannya. Kamu, orang yang ku sayangi. Menepi menujuku, dan menyambut inginku. Kamu tahu rasanya saat kau bilang 'Iya' pada permintaanku yang satu itu? Tak akan bisa ku jelaskan. Aku bahagia. Dan sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus memupuk rasa sayang ini. Untukmu.

Advertisement

Sayangnya, yang aku anggap bahagia belum tentu juga buatmu. Kau bilang aku baik, bahkan sangat baik. Tapi kebaikan tak selamanya membahagiakan. Setidaknya itu kata-kata terakhir yang kau ucapkan saat sebelum aku tak lagi bisa memanggilmu dengan kata 'sayang'.

Bersamamu yang kuimpikan ini ternyata berakhir hanya dalam waktu singkat. Kamu boleh jujur padaku sekarang, saat itu kamu benar-benar tak ingin bersamaku kan? Kamu hanya ingin meyakinkan bahwa tak bersamaku adalah pilihan yang benar? Tenang saja, Aku tak akan marah atau pun menyimpan dendam padamu. Karena, kau tahu rasa ini sudah begitu kuat, ke dalam jauh tempatku berpijak.

Kamu, yang pernah sangat ku inginkan menjadi kekasihku. Boleh aku menitip suatu pesan untukmu? Siapapun nanti yang berhasil merebut hatimu, dia harus orang yang benar-benar membuatmu bahagia. Bukan hanya karena dia baik, karena kalau kau pilih dia hanya karena dia baik, sudah seharusnya kau pilih aku.

Satu lagi, katakan padanya. Betapa beruntungnya dia. Sangat.

– Dariku, Rindu.