Setelah merasakan sakit hati terlalu lama selama satu tahun silam, hatiku terasa seperti ada yang datang. Bukan hanya datang bahkan mengetuk hati ini dengan kerasnya, bahkan bisa mendobrak dengan hebatnya. BRAK!!! Ya, sosok pria yang tak pernah kukenal namun ia ingin mencoba mengenalku tanpa ragu. Awalnya, aku hanya berpikir siapa pria ini?

Dengan beraninya ia masuk ke dalam hatiku. Ia bukanlah sosok yang sesuai dengan tipeku. Ia bukan yang bermata sipit, berkacamata, berkulit putih, dan pendiam. Dia adalah sosok yang bertolak belakang dengan semua tipe di atas. Jujur ia adalah sosok yang paling berbeda dari lelaki yang kukenal, sempat meragu untuk mengenalnya lebih jauh. Namun, aku berpikir coba saja siapa tau kita bisa menjadi teman yang baik.

Lama-kelamaan kita mulai menemukan kesamaan walau sebenarnya lebih banyak perbedaan yang kita dapat, namun aku mencoba berdamai dengan semua perbedaan itu. Setelah menjadi seorang kekasih bagimu, matahari pun datang menyinariku. Kita tidak pernah absen minum kopi bersama (sebenarnya aku hanya menemani karena aku menghindari kopi dengan alasan kesehatan) di setiap hari jumat pada malam hari atau sekedar nonton film di bioskop karena sedang ada film kesukaanmu.

Tidak berselang lama, matahari itu makin meredup. sedikit ada mendung. Ya! Itu karena kamu tidak bisa melupakan masa lalumu. Bagaimana rasanya jika kita berjalan dengan seseorang yang raganya bersamamu namun hatinya bukan untukmu? Sakit? Sudah pasti. Kecewa? Tak dapat aku hindari. Kita sempat berdiam sejenak, tak saling bertegur sapa bahkan tidak memanggil nama kesayangan lagi.

Siang itu, aku berharap mendung pergi dan kita bisa memperbaiki semuanya. Walau sebenarnya aku tau sepertinya sudah seharusnya diakhiri saja. Benar saja, kamu bilang bahwa tak seharusnya aku menjadi kekasihmu. Kamu takut aku merasa lebih sakit jika harus terus bersama. Jujur, aku merasa tak adil, merasa usahaku selama ini sia-sia begitu saja tetapi aku bukan orang yang ingin memaksakan kamu untuk mencintaiku seperti kamu mencintai dia yang pernah mengisi hidupmu dulu.

Advertisement

Terima Kasih, pernah menjadi matahariku walau pada akhirnya kau menjadi hujan beserta halilintar di dalam hidupku. semoga saja setelah badai ada pelangi untukku, dan untukmu.

Dari aku yang pernah menjadi temanmu menonton film dan menyesap kopi, pada suatu Jumat yang kini tinggal memori.