Ketika bisa mengenal dirimu adalah salah satu momen bahagia yang mungkin akan kuingat didalam puzzle kehidupanku, Setelah tak terhitung berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menjadi detektif mencari tahu dirimu dari berbagai sumber yang kuanggap bisa memuaskan rasa penasaranku.

Semua rasa penasaran ini menjadi kenyataan ketika Sang Pencipta Cinta mengizinkan aku dan dirimu untuk saling berbagi cerita di tiap-tiap hari, hari ke satu, dua, tiga hingga tak terasa sudah berapa banyak pagi yang kujalani bersamamu dengan saling mengucap "selamat pagi, semangat untuk hari ini, maaf ya semalam ketiduran". Bak sepasang roda motor yang berjalan bersama didorong oleh bensin yang kuartikan itu sebagai cinta, kita berdua saling menuju ke arah yang namanya "kepastian".

Banyak hari yang tak persis kuhafal banyaknya itu, karena yang kuhafal hanyalah apa yang menjadi kesukaanmu, sifatmu, momen-momen yang pernah ada dihidupmu, cerita tentang keluargamu, temanmu, dan yang pastinya tentang cita-citamu dan mimpimu.

Aku memang begitu cuek ketika menanggapi dibagian ketika kau menceritakan tentang cita-citamu dan mimpimu, tapi percayakah kau? Semenjak kau menceritakan pertama kalinya tentang cita-citamu dan mimpimu, isi dari tabung "ketidakyakinan bisa membahagiakanmu" perlahan-lahan mulai terisi. Selain itu jujur, aku memang kagum dengan cita-citamu dan mimpimu.

Aku dan kamu adalah dua insan yang sama-sama dimabuk asmara, aku dan kamu sama-sama sadar kita akan mengambil sebuah komitmen lebih dari sekadar teman, bahkan lebih dari sekadar pacaran ketika memang Tuhan mengizinkan aku menemanimu sampai rambutmu putih nanti. Aku laki-laki yang tercipta dengan logika, aku di lukis Tuhan untuk memimpin sang puteri mewujudkan mimpinya membangun istana indah.

Advertisement

Tabung "ketidakyakinan bisa membahagiakanmu" semakin terisi seiring dengan banyaknya yang kutahu tentang dirmu. Hingga akhirnya aku harus menggunakan logikaku dalam mengambil sebuah keputusan untuk kita berdua. Aku memutuskan untuk pergi, tapi aku buka sedang lari dari hubungan ini. Aku cuma ingin membantumu untuk bisa mewujudkan cita-cita dan mimpimu itu.

Aku terlalu biasa untuk jadi pangeran yang akan membangun istanamu, aku hanya akan jadi pengagum cita-cita dan mimpimu ketika kau berusaha mewujudkannya, bahkan aku bisa menjadi batu sandunganmu untuk kau mewujudkan cita-cita dan mimpimu.

Aku hanya ingin memberi yang terbaik bagimu, aku bukan orang yang tepat bagi dirimu. Jika kamus cinta mengatakan "kamu terlalu baik untukku" Iya, benar. Aku hanya ingin membukakan kepada ada pangeran sesungguhnya bukan dari negeri dongeng sepertiku yang bisa mewujudkan cita-cita dan mimpimu. Aku akan selalu berdoa untuk cita-cita dan mimpimu dan tentunya sang pangeran itu. Cita-cita dan mimpimu harus kau wujudkan, itu sangat mulia bagi orang lain diluar sana, bahkan bisa sangat berguna bagi ibu pertiwi ini.

Terima kasih telah menyadarkanku bahwa tiap orang punya cita-cita dan mimpi dan harus dengan orang yang tepat untuk mewujudkannya. Terima kasih untuk sekian waktu singkat yang kita lewati namun penuh makna. Maaf jika membuatmu berpikir aku lari dari hubungan ini, tapi tak apa asal ini yang terbaik bagimu.