Terimakasih sudah meneteskan air mata atas perpisahan kita. Tapi sungguh, bagiku itu sudah tak berguna! Apapun yang kamu dan dia lakukan dibelakangku, sesungguhnya aku sudah tahu semua. Pada suatu siang, saat kita makan di restoran. Kemudian tanpa sengaja dia lewat dan kamu tawarkan dia untuk bergabung dalam makan siang kita. Kalian saling melempar senyum. Aku bisa lihat ada cinta di mata kalian berdua.

Saat aku berpamitan untuk merapikan pakaianku ke kamar kecil, tak tahukah kamu jika aku mengintip dari balik pintu? Kamu membelai kepala, kemudian mencium keningnya. Sahabat yang kukenal sejak delapan tahun yang lalu. Sahabat yang kupersilahkan tinggal bukan hanya di rumahku, tapi juga masuk dalam setiap kehidupanku. Aku menggigit getir bibirku. Sudah hilangkah aku dari pikiranmu? Sudah tuntaskah cerita kita? Padahal aku masih betah berada di dalamnya.

Kamu yang sebelumnya berjanji untuk selalu di sisi, kenapa justru meninggalkan tempat yang pernah sama-sama kita diami? Kenapa harus dengan dia yang dulu selalu memelukku saat pertikaian kita membuatku tak bisa tidur sampai pagi menghampiri? Kenapa kamu renggut semua yang kuanggap begitu berharga?

Malam minggu yang seharusnya kamu berikan untukku, tapi malah kamu habiskan untuk membuatnya tertawa bahagia sepanjang hari. "Aku sedang tak ingin kemana-mana," itu ucapmu. Kuketuk pintu kamar sahabatku. Iya, sahabat terbaikku. Dengan niat menceritakan getir rinduku padamu. Tapi kulihat dia di sana sudah rapi dengan riasan di wajahnya.

Pipinya merona. Senandung kebahagiaan terlantun melalui bibirnya, yang dulu selalu bisa membuatku tenang saat menghadapi berbagai masalah. "Ingin pergi dengan teman." Dia coba jelaskan. Harusnya aku tak perlu curiga apa-apa. Tapi mungkin semesta selalu punya cara untuk menyingkap drama meski tertata dengan sempurna. Kulihat kamu dengan dia duduk di kafe tempat kamu dan aku biasanya menghabiskan kopi sambil bercerita.

Advertisement

Kamu tahu? Aku berharap Tuhan mencabut nyawaku saat itu. Duniaku yang sebelumnya selalu kamu buat berwarna, kini semuanya terasa gelap tanpa cahaya. Tak kusangka dialah penyebab kamu berubah. Apa yang ada dalam benaknya saat aku menceritakan bahwa kamu mulai tak terlalu mengindahkan keberadaanku? Tertawakah?

Aku menangis di sudut kamar. Diapun pulang dan mendapatiku meringkuk dalam isak tangis yang memilukan. Mungkinkah aku menceritakan luka pada penyebabnya? Rindu mama. Hanya itulah alasanku yang membuatnya percaya. Dia memelukku. Sungguh. Itu pelukan yang paling menyakitkan, yang pernah aku terima.

Saat dia di kamar mandi, kucoba beranikan diri membuka handphone-nya. Entah sejak kapan kalian berteman di BBM. Ah, aku ingat! Dia pernah membahas statusmu padaku. Aku sempat bingung tapi kulupakan begitu saja. Sudah cukup lama juga, ya kalian membagi cinta di belakangku.

Tiket sudah siap. Kita bisa liburan sepuasnya. Ingat! Jangan sampai dia tahu. Itu pesan terakhirmu di percakapan kalian malam itu. Tak lupa juga, kamu sisipkan kecupan hangat yang sebelumnya hanya milikku. Pantas saja! Dia membeli sebuah koper lucu. "Dia" dalam percakapan kalian, akukah itu?

Cukup sudah. Akulah si bodoh yang berharap semuanya masih bisa kuperbaiki. Tak pernah kuhampiri kamu saat sedang memeluknya di depan pintu rumahku. Semata-mata karena aku masih terlalu mencintaimu! Aku berharap dapat mempertahankan semuanya.

Tak kamu sadarikah aku mulai banyak berubah? Aku berusaha menjadi seperti dia, tempat hatimu berpindah sesaat setelah meninggalkanku. Aku masih berusaha mati-matian mempertahankan apa yang sebelumnya selalu dengan hangat kita perbincangkan.

Tapi kurasa cukup. Aku tak ingin lagi menyentuh hidupmu. Pergilah, bawa dia sejauh-jauhnya! Tak mungkin kubiarkan hama hidup dalam kebun yang selalu kujaga. Kumohon menjauhlah! Untuk alasan apapun, aku harap aku tak akan pernah melihat kalian lagi. Entah itu dalam keadaan bahagia ataupun terhimpit karma.

Pergilah! Bawa semua cerita cinta yang sebelumnya selalu membuatku tersenyum bahagia. Tak perlu menangis untuk menjelaskan apapun. Aku sudah tahu semuanya. Terimakasih kuucapkan pada kalian. Terimakasih karena pernah menggurat luka pada hati yang cukup tulus memberi sayang. Semoga kelak kalian membayar apa yang telah kalian lakukan.

Dariku,

Yang pernah berharap dapat meniti masa depanku bersama kamu.