Saya takut tidak bahagia jika menikah dengan orang yang belum memiliki penghasilan tetap.

Saya takut terhina di mata orang jika memillih pasangan yang belum mapan.

Saya khawatir tidak bisa berbahagia jika berpasangan dengan orang yang belum saya pahami seluk beluknya, Sehingga saya memilih untuk menjalankan pacaran terlebih dahulu.

Saya takut. Saya khawatir.

Mungkinkah hal-hal seperti itu yang selama ini menghantuimu? takut tidak bahagia jika ini dan itu? mengapa? tahukah engkau dimana letak kebahagiaan sebenarnya?

Advertisement

Bukan maksud aku menggurui, tapi ini terasa penting untuk disampaikan

Abu Sulaiman berkata:

Ahli bangun malam itu, di waktu malamnya dapat merasakan yang lebih lezat dari pada ahli suka ria dengan segala macam kesukariannya.

Dibalik keresahan yang melanda, kadang ada alpa, luka dan rasa ingin kembali padaNya. Manusia memang begitu, kerap terpesona oleh hiruk pikuk dunia, tak jarang materi menjadi tolak ukur pertama yang membutakan mata.

Tapi ada satu hal yang jangan sampai terlupa, bahwa kebahagiaan adalah urusan ruhani, Allahlah yang memberikannya, Allah adalah penggerak hati apakah sedih atau bahagia. Bahagia adalah bagaimana seseorang merasakan puncak kenikmatan saat menggelar sajadah, dan mendaratkan keningnya penuh kekhusu'an untuk menyembah sang Ilahi. Kebahagiaan itulah yang akan hadir membahana dan takkan tergantikan oleh sukaria apapun.

Bahagia adalah saat hati lapang karena benar-benar menyerahkan segala urusan padaNya dan itu bisa engkau bangun dengan hamba yang sudah menjadi pilihanNya untuk menyempurnakan separuh agamamu.

Berdoalah agar Allah memberikan imam yang terbaik dan mampu membimbing langkahmu, agar mampu menuntunmu menuju tangga syuhada'. Karena bahagia bukan semata-mata urusan duniawi, materi memang perlu untuk menunjang kehidupan, tapi ia bukan prioritas utama. Ia bisa dicari dan sirna meninggalkan kita. Bahagia adalah ketika kita berada dalam balutan kasih sayangnNya yang kita sadari dengan bersyukur atas nikmatNya yang tak terhingga.

Jika sudah begitu masihkah engkau takut tidak bahagia?