Katakan aku jahat, katakan aku munafik, ya semua itu benar. Namun setidaknya aku tidak egois. Kau mungkin tahu seberapa besar aku mencintaimu. Atau mungkin kau hanya pura-pura tidak tahu.

Selama ini aku diam. Ya diam memendam semua perasaan bodoh yang ku rasakan seorang diri. Yang tak akan pernah kau balas. Aku mengerti bagaimana kondisinya. Karena rasa ini ada di waktu yang salah. Kau telah berdua, sementara aku tak berdaya menahan perasaan yang kini ku sebut cinta sendiri.

Sudah lama aku menunggu. Namun Tuhan tak jua memberiku keputusan.

Aku layaknya orang bodoh yang membuat pembenaran akan perasaanku sendiri. Merasa kau mencintaiku saat kau baik padaku. Merasa kau punya rasa yang sama saat kita tertawa berdua. Ya, aku terlalu naif untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak.

Aku akui rasaku tak pernah sedikitpun berubah, bahkan hilang. Tapi apa harus terus begini. Bukankah cinta tak harus memiliki? Tapi mengapa sulit sekali melawan keegoisan. Mungkin satu-satunya jalan untuk belajar mencintai orang lain. Dan sekarang itu yang sedang aku lakukan.

Advertisement

Kau tau, ini begitu sulit. Berkali-kali aku harus membunuh bayanganmu yang hadir setiap waktu. Kemudian menggantinya dengan dia. Dia yang sama sekali tak ku cinta. Namun ketulusannya membuatku mempertimbangkan segalanya. Karena sampai kapanpun aku menunggu, mungkin hasilnya akan sama.

Sesekali apakah terlintas di benakmu begitu mudahnya aku jatuh cinta? Melupakan perasaanku padamu yang jelas-jelas dapat kau rasakan setiap waktu. Tidak, aku tidak sejahat itu. Aku bahkan tak tega membunuh setiap kerinduan yang hadir. Aku tak mampu menghapus perkara indah itu begitu saja.

Andai kau tau, aku mencintainya demi melupakanmu. Bodoh memang, tapi setidaknya aku bisa mengalihkan perhatianku. Keinginanku yang sangat terhadap dirimu. Entah sampai kapan aku harus bersembunyi di balik kata cintaku padanya. Padahal jelas-jelas hatiku masih sangat haus memintamu bersamaku.

Lagi-lagi waktu tak berpihak kepadaku. Karena setiap saat aku harus melihat senyum dan juga wajah yang muncul di setiap aku terbangun hingga terlelap kembali. Wajah yang dengan lancang masuk kedalam mimpiku tanpa permisi. Kamu selalu di sekitarku. Oh Tuhan, bagaimana aku bisa melupakanmu?

Baiklah… Ini keputusanku. Biarku belajar melangkah menjauh darimu. Menutup setiap pintu hati. Memusatkan pikiranku hanya untuknya. Meskipun sulit setidaknya aku telah berusaha. Kelak kau kan ku kenang sebagai orang yang pernah ku cintai sebelumnya.

Untukmu yang terlalu sempurna.