Tak pernah berhenti Imron meneruskan perjuangan cintanya pada lembaran-lembaran kertas sembari menikmati secangkir Nescaffe sebagai penghangat. Tulisan-tulisannya sudah menumpuk sampai berserakan di atas meja belajarnya. Malam mungkin sudah terlalu larut, namun ia tak pernah surut. Lelaki yang kurus dan pemalu ini memang susah tidur di malam hari. Sejak ia jatuh cinta pada seorang gadis di kelasnya, kerjaanya setiap malam selalu berhayal dan berhayal dengan menuangkan goresan penanya. Siswa yang kini tengah duduk di kelas 2 SMA N 1 Pontang ini sampai detik ini pun belum mampu mengungkapkan cintanya itu kepada sang pujaan hatinya. Sebut saja namanya, Olip. Nama panjangnya Ratu Aprilia Khaerun Nissa. Memang terasa aneh, tidak ada hubungan yang jelas antara nama Olip dan nama panjangnya itu. Namun bagi Imron itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ia bisa menyebarkan virus merah jambunya itu kepada Olip dan berhasil memikatnya.

Berbagai cara sudah ia lakukan, namun tetap saja hasilnya nihil. Dengan perjuangannya yang terakhir, Imron mencoba mengungkapkan isi hatinya itu lewat sebuah puisi di selembar kertas yang ia bikin kemudian menaruhnya di kolong meja Olip. Dengan berinisial Pengagum Rahasia plus tanda tangannya.

Cara ini Imron lakukan setiap hari. Olip tidak pernah menghiraukan dan berusaha mencari siapa pemilik puisi itu. Namun ia selalu menyimpan puisi-puisi itu ke dalam tasnya. Entah puisi-puisi itu nanti bakalan di buang atau di simpannya di rumah.

Sampai saat ini sudah 29 puisi yang Imron kirim kepada Olip, artinya sudah hampir genap satu bulan ia belum juga berani secara langsung mengungkapkan isi hatinya kepada Olip.

Pada suatu hari, saat Imron sedang beraksi untuk menaruh puisinya yang ke-30 ke kolong meja Olip. Tiba-tiba saja terdengar gebrakan pintu,

Advertisement

“Ahaa…! Ayo lagi ngapain? Ye… ye… ye…, kamu ketauan …!” sambil menyanyi-nyanyi Giring dan kawan-kawannya masuk ke kelas. Imron tercengang kaget. Wajahnya pucat pasi. Aliran darah di sekujur tubuhnya seakan-akan mendadak berhenti. Ternyata Giring tahu kalau selama ini Imron sering mengirim puisi kepada Olip. Tak di sangka ternyata selama ini Giring dan kawan-kawannya menjadi detective gadungan mengintai Imron.

“Eh, ada Gir..Gir..Gir..Gir motor! Aduh salah nyebut lagi tuh kan!” dengan gugupnya Imron sambil menepuk jidatnya.

“Apa lu bilang? Jangan macem-macem lu yah ama gue!” sambil menunjuk-nunjuk wajah Imron. “Eh lu tahu gak, si Olip itu punya siapa? HAH? Dia itu milik gue, jadi lu jangan coba-coba rebut dia dari gue! NGERTI!” sorot mata tajam Giring bersarang di wajah Imron.

Hari yang ke-30 dalam pencarian cintanya lewat puisi, baginya adalah hari sial. Imron di hajar habis-habisan oleh Giring dan kawan-kawannya. Meskipun sebenarnya Imron tahu kalau Giring yang super ganas dan berbadan besar itu juga suka sama Olip. Tapi Imron tetap nekad mencintai Olip. Cintanya kepada Olip tidak bisa di pungkiri lagi. Olip memang sosok gadis cantik, belesung pipi, cerdas dan baik hati, serta multitalen di bidang kesenian. Karena itulah Imron termasuk Giring ngebet ingin memikat hatinya.

Olip, inginku berenang pada lentik pipimu yang belesung. Ingin kugoreskan tinta cintaku ini pada lensa matamu yang binar, pada bibirmu yang merekah…”

Malam itu dengan wajahnya yang masih memar, Imron membacakan puisi yang ditulisnya. Dengan gayanya sok sastrawan, ia pun terlena dengan puisinya sendiri. Mungkin Imron sudah terjangkit virus cinta stadium tiga saat ini. Sebentar lagi hatinya akan meledak sekencang bom atom.

Tak terasa Imron sudah dua jam berorasi di depan cermin di kamarnya. Jam dinding sudah menunjukkan jam setengah dua. Belum lelah juga ia setelah berorasi, malah ia mau bikin puisi lagi. Sambil menghirup secangkir Nescaffe, tangannya pun mulai menyetubuhi tubuh kertas itu dengan goresan penanya.

***

“Imrooon…! Banguuun…!” teriak ibu guru Tika. “Udah nggak ngerjain PR, malah tidur lagi di kelas!” sambil menggertakkan tangannya ke meja Imron.

Imron tersentak kaget, sambil mengusap-usap matanya yang masih merah. Nampaknya ia masih kelelahan karena semalaman suntuk begadang. Teman-teman sekelasnya menertawainya, begitu pun Olip. Imron malu melihat pujaan hatinya menertawainya dengan senyum-senyum malu namun begitu terlihat manis dengan lesung pipinya itu.

“Kamu kenapa, kok tadi kamu tidur?” tanya Olip kepada Imron di sela-sela jam istirahat di ruang kelas.

Aduh, Olip nanyain gue, gimana nih…” dalam hatinya gugup, sambil mengusap-usap dadanya. “Ngg…ngg…nggak kok, nggak apa-apa. Cuma ngantuk aja” jawab Imron. Jantungnya semakin berdetak kencang.

“Oh iya, kamu tahu nggak ini puisi-puisi milik siapa?” Olip menyodorkan puisi-puisi yang dipegangnya kepada Imron.

Oh my God” ujar Imron dalam hati.

Imron tidak menyangka kalau Olip akan menanyakan hal ini. Apalagi yang di tanya adalah orang yang membikin puisi-puisi itu. Pikirnya selama sebulan ini Olip tidak peduli dengan siapa orang yang mengirim puisi-puisi itu. Imron menelan ludahnya dalam-dalam.

“Kamu kenapa? Kok wajah kamu pucat gitu?” Olip bertanya lagi. Semakin membuat darah di sekujur tubuh Imron memuncak dan mau meledak.

“Sebentar yah Lip, aku mau ke kamar kecil dulu!” Imron pun pergi meninggalkan Olip sambil mengerutkan cucuran keringat di dahinya. Olip hanya menatap curiga dengan sikap yang ditunjukkan Imron kepadanya.

***

“Eh, lu liat Imron nggak?” tanya Giring kepada temannya.

“Tadi sih gue liat dia lagi ama Olip di kantin”

“Hah…! Apa lu bilang? Di kantin? Eh, jangan boong lu!” Giring mengangkat kerah baju temannya, lalu menurunkannya kembali. Lalu Giring pun langsung pergi menuju kantin seorang diri.

Di kantin Imron dan Olip sedang mengerjakan tugas bareng. Imron tidak fokus mengerjakan tugasnya, ia terhipnotis lesung pipinya Olip. Di tatapnya dalam-dalam wajah cantik Olip dengan malu-malu. Namun Olip tetap khusyuk menjawab soal-soal Bahasa Indonesianya. Lalu, tiba-tiba seketika Olip berhenti menulis dan memalingkan wajahnya ke Imron. Imron yang sedari tadi menatapnya, tersentak kaget dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Eh, sini lu! Lu gak pernah nyadar yah kemaren gue ngomong apa ama lu? Lu lupa yah? Hah…! Tiba-tiba saja Giring datang sambil menarik tangan Imron.

“Gir..Gir..Girang!” rasa takut Imron nampak dari wajahnya.

“Girang.. Girang..! Tante lu Girang!” Jidat Imron di dengul-dengulkan.

“Eh, kamu apa-apaan sih? Maen seenaknya aja sama orang!” Bela Olip sambil menepis tangan Giring.

“Lip, lu nyadar nggak sih, dia ini sok caper alias cari perhatian ama lu”

“Terus apa hubungannya sama kamu?”

“Jelas ada hubungannya lah! Lu itu milik gue Lip. Gue nggak mau si Jelek ini merebut hati lu dari gue.” Sambil menunjuk-nunjuk Imron.

“Sejak kapan kita jadian? Aku nggak ngerasa tuh…!”

Imron yang ada di samping Olip pun mengejek Giring dengan menjulurkan lidahnya.

“Diem lu Jelek!” bentak Giring.

“Udah…udah…udah…! sebenernya kalian berdua ada apa sih?” sela Olip.

“Lu tahu nggak Lip, siapa yang ngirim puisi-puisi ama lu itu. Ya si Jelek ini nih. Gue kan jadi cemburu.” wajah Imron di tunjuk-tunjuk lagi.

Olip menatap dalam-dalam wajah Imron. Imron hanya menggeleng geleng kepala, menunjukkan kalau bukan dia yang melakukannya.

“Eh, ngaku gak lu?!” Giring memojokkan Imron.

“Bener Im, semua itu kamu yang ngelakuin?” tanya Olip dengan halus. “Iim… jawab yang jujur! Bener puisi-puisi itu punya kamu?”

“i..i..i..iya Lip, semua itu aku yang ngelakuin. Maaf kalo aku lancang suka sama kamu”

“Kenapa kamu tidak jujur dari dulu?”

“Aku..aku..gak berani ngungkapin perasaanku langsung sama kamu Lip”

“Aku suka kok dengan puisi-puisi kamu, apalagi yang judulnya gadis belesung pipi, aku paling suka dengan puisimu yang itu. Jujur Im, sebenernya selama ini aku juga… aku juga… suka sama kamu, tapi semuanya sudah terlambat Im.”

“Haah…!” Giring tak percaya.

“Kenapa?” Imron bertanya.

“Karena aku sudah…” Olip tidak melanjutkan bicara, karena tiba-tiba saja ia melihat seorang lelaki gagah, tampan, berambut jingkrak kayak David Beckham sambil menghisap sebatang rokok Marlboro. Lelaki itu datang menuju mereka bertiga. Sorot mata lelaki itu tajam tertuju pada Olip.

“Maaf yah sayang. Pasti nunggu lama yah? Jadi kan kita nonton?”

Imron dan Giring tercengang pilu melihat mereka pergi sambil bergandengan tangan.

Pontang, 23 Juni 2010

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Aneka Yess pada 2011)