Hujan yang sendu membasahi bumi Jakarta malam itu, dan hujan selalu berhasil membuatku hancur dalam lamunan mengingat mereka yang telah berpulang. Hujan memiliki berjuta kenangan yang tertuju pada mereka. Bagaimanakah rindu ini akan terbayar jika aku tak dapat bertemu mereka lagi?

Aku tahu bagaimana rasanya patah hati ditinggal sang kekasih, bahkan pernah pula terpuruk dalam kegalauan. Namun, rasa yang tak tergantikan adalah rasa ketika merindukan mereka yang telah berpulang, perasaan berubah menjadi biru ketika tiba-tiba saja ada hal yang membuat teringat mereka

Dia yang paling baik, pasti lebih dulu dipanggil sang Maha Memiliki. Itulah yang aku percaya sahabatku yang selalu membantuku, menghiburku kala sedih, menemaniku kala aku patah hati, membuatku tersenyum kala bibir ini tak bisa memunculkan senyum. Dia wafat di usia yang sangat muda, kurang lebih usianya 24 tahun saat Tuhan memanggilnya untuk pulang ke rumah yang sesungguhnya.

Saat itu jantungku berdegup kencang saat membaca broadcast BBM

Telah berpulang dalam usia 24 tahun. Meninggal karena kecelakaan sore tadi

Advertisement

Tiba-tiba air mata menetes di pipi ini. Hari sudah larut, dan aku tak diizinkan untuk pergi. Dua hari setelah kematiannya, aku melayat ke rumahnya. Ayahnya mulai menangis mengingat dirinya dan menceritakan bagaimana sahabatku adalah orang yang sangat patuh terhadap kedua orang tua.

Dan saat itu aku menyadari, aku bukan hanya kehilangan sahabat yang sangat baik untuk diriku, tapi aku kehilangan seseorang yang sangat baik untuk kehidupan sekitarnya. Dia ternyata mampu memberikan canda pada sekitarnya. Kini, untuk melihat senyumnya yang khas, aku harus memohon agar dipertemukan dalam mimpi.

Satu hal yang aku ingat ketika aku menghubunginya dan menceritakan kesedihanku, dia lantas berkata "teteh dimana sekarang? Aku jemput sekarang ya, teteh gak boleh lama-lama sedihnya"

Namun aku kini bisa sedikit tersenyum, aku tahu di atas sana, dia pasti sedang tersenyum memperhatikan kami yang ditinggalkannya. Dia akan lebih bahagia melihat kami tetap bahagia meski dia tak lagi berada di tengah-tengah kami. Dengan kepergiannya, aku belajar menangani masalahku sendiri. Aku belajar kuat tanpa hadirnya, raganya mungkin tak lagi menemani, tapi jiwanya terus ada mengiringi langkahku.

Terimakasih sahabatku, terimakasih karena meski kamu telah di sana, keceriaanmu mampu membangkitkanku dalam keterpurukan, mengingatmu mungkin mampu membuat hariku biru. Namun entah bagaimana tiap kali mengingatmu kau berhasil membuatku bersemangat.