Satu tahun yang lalu, dalam sebuah memoar waktu dan kenangan tertentu. Bola matamu masih candu memandangku. Tak cuma kamu, tapi juga dia, dia, dia, dan mereka. Ya. Mungkin lebih tepatnya mereka. Mereka yang memulai garis start bersamaan denganku. Kemudian akan memikul sebuah roda menuju lembah yang kusebut surga. Surga dunia. Oh bukan. Ini surga dunia menurut versiku dan versi mereka.

Tak ada yang muluk – muluk dari surga duni versi kita. Hanya guliran waktu yang melilit benang – benang kebersamaan. Yang ku tahu esok langkah kaki ku dan langkah kaki mereka akan bergerak bersama. Memberi jejak pada setiap gundukan pasir dipinggir pantai.

Alur kehidupan kita baru dimulai. Angin kecil hingga badai sudah siap menerjang. Pelukan dan kehangatan lah tameng pertahanan. Bukankah tidak ada yang lebih indah memang kecuali berada di tempat yang nyaman ?

Suatu saat kenyamanan akan membeli segalanya. Bisa saja sekarang. Iya sekarang masanya. Masa itu telah datang. Terang akan menjadi hangat karena kita memikul beban bersama. Dari matahari terbit hingga terbenam. Tak ada sedikit yang kuingin selain senyum kecil itu. Senyum kecil penuh makna yang selalu ku nanti saat peluh terbayarkan sukses.

Rangers. Itulah kalian. Sayap – sayap yang terkadang patah dan tersambung. Satu – satunya sebab yang membuatku pernah membenci kemudian akhirnya kembali. Membuat tangis sekaligus senyum. Setiap jiwa manusiawi negatifku muncul maka jiwa manusiawi positifku juga akan muncul setelahnya, dengan sebab yang sama. Cinta.

Advertisement

Ini bukan tentang persahabatan yang bergulir bertahun – tahun. Juga bukan kisah cinta antara romeo dan juliet. Tapi lebih dari itu. Ini tentang Cinta dan rasa memiliki. Kemudian rasa nyaman yang selanjutnya mendarah daging dalam tubuh. Bagaimana Aku bisa melepas? Tidak bisa! Meskipun waktu terus meradang berusaha melepaskan.

Aku punya memori pemberian Tuhan, yang kapasitasnya tak terbatas. Ku gunakan untuk menyimpan kisah – kisah indah dalam setiap lekuk kehidupanku. Agar setiap kelokan dan naik turunnya bisa ku ambil pelajaran. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga ?Bersama kalian, kelokan dan terjalnya jalan pernah menyelimuti satu tahun umurku. Hingga menjadi manusia mandiri pun harus dilewati. Tidak masalah, karena pelangi itu datang setelah hujan. Hujan yang membasahi tanah padahal ia masih ingin kering.