Tempat yang jarang aku jumpai namun begitu pertama kali aku menginjakkan kaki di sana, seperti ada rasa yang berbeda. Untuk sesaat aku merasakan dejavu dengan tempat itu. Malam hari, aku dengan teman-temanku berjalan dari losmen menuju Kuta, Bali. Hawa malam hari sungguh berbeda dari sebelumnya. Arus ombak terdengar jelas karena posisi kami berdekatan dengan pesisir Pantai Kuta yang eksotis, khususnya untuk menyaksikan secara langsung peristiwa matahari terbenam, yang jarang aku lihat dengan jelas sebelumnya.

Seiring langkah kaki terus bertambah, refleksiku semakn kuat. Setiap langkah yang aku ambil berbanding lurus dengan setiap langkah yang pernah terjadi padaku. Semua keputusanku yang terjadi sebelumnya. Apakah saat itu aku sedang galau atau gelisah? Entahlah, semuanya kecampur gitu aja. Susah dideskripsikan. Hal itu terus terasa selama aku berada di Bali.

Berbeda rasanya ketika sudah ninggalin Bali dan balik ke Jogja. Aku menemukan kegalauanku. Kegalauanku sama halnya dengan jejak kaki yang tersapu ombak. Jejak kaki itu adalah memori masa lalu kita. Apa yang udah diambil dan terjadi, terjadilah. Mau balik kebelakang juga gak bisa, udah kehapus aliran ombak. Walau begitu, didepanm masih ada lahan kosong. Masih bersih, belum ada pijakan kaki. Berarti aku masih bisa membuat pilihan. Pilihan yang membuatku harus memilih. Pilihan yang membuatku gelisah karena gak bisa ngambil semuanya. Itulah resiko ketika menemukan banyak pintu. Pintu yang membuatku menjalin persahabatan dengan kegelisahan. Gelisah membuatku menentukan kedepan harus ngapain. Gelisah membuatku memilih dan mencari akibat akumulasi wawasan dari berbagai arah.

Memang ada masanya pasti tersesat. Setidaknya Hukum Newton III masih berlaku. Aksi=Reaksi. Apapun reaksinya, setidaknya aku sudah memulai sebuah aksi, daripada nihil.