Wedding Planning

Ini semua bermula dari pekerjaannya, umurnya sudah akan memasuki 30 tahun sebenarnya kira-kira 3 tahun lagi tapi terlalu banyak orang yang mencampuri tentang kehidupannya sehingga semuanya harus cepat dan cepat.

“Lex, come on jangan serius-serius amat kali” terang pria yang berada di hadapanku ini,

Shut up Do… Gue mesti serius sekarang, pekerjaan gue numpuk dan belom acara pernikahan kakak gue…. aaahhhhhh” dan pada akhirnya Galaxy berteriak kesal, frustasi.

“Lo tuh apa-apa mesti serius terus, kapan sih buat lo nya? Udah ortu lo gitu terus dapet boss yang gak jauh beda” cerocos pria di depannya ini, teman kesayangannya ini yang kadang sedikit brengsek, Edo.

Advertisement

“Udah ah gue lagi gak mau bahas itu” terang Galaxy kesal dan terus bergelut di depan layar flat komputer di depannya dan tangannya menari-menari di atas keyboard. Dan Edo hanya memberi eyes rolling padanya,

“Mentang-mentang lo dapet tender besar gitu?” Galaxy menghela nafas berat,

“Mau gede mau enggak gue cuma mau semuanya pefect… daripada lo ngomong terus mending lo bantuin gue” terang Galaxy,

“Ogah” jawab Edo dan keluar dari ruangan Galaxy, setelah Edo keluar Lexy-nama panggilan Galaxy menghela nafas berat, ia memijat pelipisnya.

Galaxy Franco, 27 tahun, manager programming.

Semuanya terasa berat apalagi dengan apa yang harus dikerjakannya sekarang, baru bulan lalu ia naik pangkat menjadi ketua semua proyek pekerjaan di kantornya ini yang sudah dinaunginya 3 tahun terakhir. Belum tingkah bossnya yang rada kaku, semuanya harus kembali dia yang mengerjakan dan orang tuanya baru-baru ini meminta permintaan yang cukup sulit, MENIKAH….

Lexy tidak sempat untuk menikah, maksudnya pekerjaannya sudah menyita banyak waktunya malah semua waktunya, ia bekerja untuk membuat aplikasi atau program untuk perusahaan dengan batas waktu dan terkadang dia juga tidak bisa menghandle semuanya. Kemauan orang tuanya hampir semua sudah ia wujudkan.

Dan Edo tadi sahabatnya di sini, di kantor, pria itu tampan sangat tampan malah dengan campuran darah ayahnya yang berasal dari benua lain, tinggi, dan sangat tipenya, tapi.. mulutnya sangat pedas..

KRING…

Lexy segera mengangkat telfon itu, ia tahu itu Bossnya- Adrian.

“Bisa kamu ke ruangan pertemuan sekarang?”

“Yap, will be there” Lexy bergegas berdiri dan menyiapkan laptop untuk bertemu dengan klien baru hari ini. Jangan tanya bossnya itu sama sekali tidak mengerti masalah pembuatan program seperti dirinya, algoritma, jaringan, flowchart, and all about it…

Adrian, seumuran dengannya, mantan pacar teman kuliahnya, siapa yang tahu malah jadi bossnya saat ini? Bossnya bukan bapak-bapak berumur 40 tahun tapi laki-laki muda yang memiliki otak cemerlang. Jangan tanya dia selalu berhasil mendapat klien terbaik untuk tender perusahaan ini yang bisa menghasilkan uang dengan banyak digit nol (0) di belakangnya, Adrian kalau dilihat tampan juga, muda, kaya, hot dan seksi. Dan kalau ia berbicara seperti itu di depan Edo, pasti dia akan langsung ditempeleng.

Ia sampai di depan pintu ruang pertemuan, ruang paling besar di kantor ini. Terletak tepat di tengah kantor dengan dinding yang terbuat dari kaca transparan yang bisa dilihat dari luar, dan ya Adrian- Boss nya itu yang mendesign, sangat keren menurutnya.

Lexy masuk keruangan itu dan dapat melihat beberapa orang karyawan perempuan bolak-balik di dekat ruangan ini. Lexy dapat melihat Adrian yang duduk di bagian kiri meja sedang berbincang dengan tiga pria yang membelakanginya, pintu petemuan ada di ujung meja yang lain. Lexy masuk dengan perlahan namun Adrian langsung melihatnya dan berdiri,

“Nah ini dia yang terbaik di sini, The Queen” terang Adrian sedangkan Lexy hanya mengangguk dan tersenyum, ia malu. Ia berhenti di ujung meja dan melihat ketiga pria itu, pria paling ujung seorang pria berumur sekitar 40 tahun dengan muka yang berwibawa dan baik, yang berada di tengah-tengah seorang pria yang berumur sekitar 50 tahunan yang berwibawa namun sedikit keras, seperti pengacara, dan yang paling ujung yang duduk berhadapan langsung dengan Adrian, pria yang mungkin seumuran dengannya dan Adrian dengan memakai kaos hitam, membuatnya ingin pingsan. Dia mengeratkan pegangan laptopnya

“So Lexy, ini Gerdy Lazuardy. Siapa yang gak tau dia kan? Rocker terkenal yang paling Hot di Indonesia. Sebelahnya Pak Gio, Kuasa Hukum Gerdy dan Pak Danny, Manager Gerdy” Adrian mengenalkan Gerdy pada Lexy. Dan Lexy yang duduk di depan pria bernama Bapak Gio hanya menunduk, ia merasa sakit, ingin muntah.

“Kamu baik-baik saja?” tanya pria yang bernama Pak Danny tadi lembut dan perhatian, ah dia benar-benar baik pikir Lexy, Lexy mendongak dan membetulkan posisi duduknya.

“Yap, saya baik-baik saja” terang Lexy dengan senyum yang meyakinkan, walaupun sedikit memaksa. Lexy berdiri untuk mengenalkan diri, dan karena pelototan dari Adrian yang seperti mengatakan ‘PROFESIONAL LEX!’

“Saya Galaxy Franco, saya di sini biasa mengurus semua urusan pemograman di kantor ini. Dan bapak-bapak sekalian bisa memanggil saya Lexy, maaf untuk ketidaksopanan saya tadi” terang Lexy sambil membungkukan badan sedikit, dan ia tidak ingin ada kontak mata dengan pria itu, Gerdy. Ia hanya melihat ke arah Pak Gio dan Pak Danny.

“Lo gak mesti manggil gue bapak kali dan kita kan temen. Santai kali Lex” dan semua mata tertuju kepada Galaxy dan Gerdy, bergantian. Lexy menghela nafas berat

“Sejak kapan kita berteman ya Bapak Gerdy? Sepertinya saya baru melihat anda sekarang ini” terang Lexy sambil menatap Gerdy yang daritadi di hindarinya itu. Gerdy malah tertawa,

“Oh Come On.. apa lo secepet itu lupain gue? Hmmm 11 tahun?” tanya Gerdy sambil menghitung-hitung

“Mungkin bapak salah orang” terang Lexy lagi kukuh sambil tersenyum kesal dan orang lain di ruangan itu hanya melihat saja tanpa mengelurkan komentar sedikitpun, mungkin mereka tertarik, Gerdy berdiri dan mendekati Lexy saat sudah di belakang Lexy dia membalikannya dan memeluknya hangat,

Long time no see, my angel” Lexy kaku beberapa saat namun dengan sekuat tenaga ia meninju perut Gerdy sampai ia jatuh terduduk, semua orang yang ada di ruangan itu kaget dan orang-orang di luar ruangan rapat yang dapat melihat dengan jelas sudah mulai memenuhi ruang kaca itu.

Gerdy hanya tertawa dan Adrian membantu Gerdy berdiri, Lexy membereskan bajunya. Sedangkan, Pak Gio dan Pak Danny bingung dengan apa yang baru mereka lihat. Gerdy duduk lagi di tempatnya dan Adrian mengusir karyawan di kaca dindingnya dengan suruhan tangan dan menarik Lexy untuk keluar ruangan dengan izin ketiganya tentunya.

“Galaxy! Apa maksudnya yang tadi itu?” tanya Adrian dingin dan kesal

“Apaan sih Dri? Gue gak boleh lawan gitu? Dia meluk gue duluan!!” jawab Lexy setengah berteriak, sudah tidak ada kesopanan lagi, jika mereka berdua sedang berdebat memang selalu seperti itu. Adrian melihat ke dalam ruangan Pak Danny dan Pak Gio tampak mengobrol tapi Gerdy malah memperhatikan mereka berdua, Adrian menghela nafas berat,

“Ok.. ok… kita balik ke ruangan dan bersikap profesional. Ok? Gimana? Kita omongin ini nanti dan serius” terang Adrian dan Lexy hanya melewatinya dan melewati ruangan rapat,

“LO MAU KEMANA?!” tanya Adrian dengan nada berbisik dan berteriak dan agak melotot, Lexy berbalik dan menghadap Adrian lagi,

“Balik ke ruangan gue. Pekerjaan gue masih banyak Dri dan kalau lo suruh gue untuk nanganin tender yang ini gue gak bisa. Kasih aja ke Edo kalo gak Hanif. Lebih enak tuh kayaknya” terang Lexy memberi penjelasan, saat Galaxy akan berbalik Adrian menahan tangannya lagi dan membawa mereka ke tempat yang jauh dari pandangan Gerdy,

“Gak bisa-gak bisa. Lo lepas tender lo yang sekarang kasih ke Edo, ambil yang ini” perintah Adrian

“Gue gak bisa Dri, kenapa mesti maksa terus sih?” tanya Lexy kesal,

“Terus alesan lo gak bisa ambil yang ini kenapa?” tanya Adrian balik dan membuat Lexy bingung menjawab apa, karena belum menyiapkan jawaban yang tepat, bodoh, rutuk Lexy pada dirinya sendiri.

“Gue…Gue….” jawab Lexy menggantung

“Karena Cuma lo yang bisa” tambah seseorang di belakang punggung Adrian dan keduanya kaget dengan yang ada di belakangnya, Gerdy.

Akhirnya dengan setengah diseret Galaxy mau kembali ke ruang rapat dan memasang wajah terbaik-palsu nya di depan Pak Gio dan Pak Danny.

“Ok jadi begini Lexy, kita langsung ke point nya aja. Gerdy butuh bantuan untuk membuat program untuk musiknya, dan sepengetahuan semua kolega kami, kamu adalah orang yang terbaik untuk hal ini. Jadi bisa kamu bantu Gerdy untuk hal itu?” tanya Pak Gio

Lexy melihat ke arah Adrian,

“Tentu Lexy bisa, dia yang selalu paling bisa diandalkan untuk semua hal” Jawab Adrian dan Lexy langsung ingin menarik rambut Adrian sampai botak. Kenapa perasaan dan pendapat dia tidak dipikirkan,

“Hanya saja mungkin kita dapat menunggu mungkin satu bulan lagi kira-kira” komentar Lexy dan semua pandangan mengarah ke arahnya dan Adrian menatapnya dengan tatapan seperti ‘WHAT THE HELL’S ARE U DOING?!’

Kamu sedang memegang program besar?” tanya Pak Gio

“Seperti itu dan mungkin saya harus mempersiapkan beberapa hal….” terang Lexy namun segera dipotong oleh Adrian

“Lexy bisa kapanpun, oke. Jika seminggu lagi bagaimana?” tanya Adrian wajah Pak Gio dan Pak Danny berubah cerah berbeda dengan Gerdy yang sedari tadi hanya memperhatikan perubahan mimik wajah Lexy. Dia sungguh sangat lucu, masih sama seperti dulu.

“Lebih cepat lebih baik tentunya” terang Pak Danny kali ini. Lexy bingung mau mulai darimana berbicara masalah ini,

“Maaf, tapi kalau untuk seminggu lagi saya tidak bisa. Mungkin bisa dipercepat” Lexy kembali memberi saran dan Lexy dapat melihat dari ujung matanya, Gerdy tersenyum lebar dan hal yang ingin dilakukannya adalah menonjok muka pria itu.

“Tentu saja, itu lebih baik lagi. Kamu besok bisa ke kantor Gerdy kalo gitu” terang Pak Danny, lalu pembicaraan terus berlanjut antara Pak Gio dan Pak Danny. Sedangkan Lexy tetap dengan sikap angkuhnya tetap fokus pada laptopnya, menjadwal ulang semua schedulenya dan untuk menghindari tatapan Gerdy.

Sampai akhirnya waktunya mereka pulang. Adrian dan Lexy mengantar sampai lift,

“Terima kasih untuk Lexy, kami tunggu besok di kantor” terang Pak Gio dan Pak Danny, Lexy mencoba memberi senyum sehangat dan semanis mungkin. Pak Gio, Pak Danny dan Adrian asik membicarakan sesuatu dan sehingga Gerdy berada di sampingnya kini,

“Untuk kejadian tadi…” pembicaraan Gerdy segera dipotong oleh gerakan tangan Lexy yang mengatakan untuk diam.

“Mungkin kita bisa keluar bareng. Untuk…” lagi-lagi Lexy memotongnya,

“Saya sibuk” jawabnya dingin

“Seminggu lagi ada acara apa?” tanya Gerdy lagi tidak mau kalah,

TING

Pak Gio, Pak Danny, dan Adrian masuk ke lift terlebih dahulu,

“Bukan urusan anda” jawab Lexy sambil menatap Gerdy tepat di manik mata dan hal itu menusuk tajam, Gerdy langsung masuk ke lift. Sebelum pintu lift tertutup, tidak lupa Lexy memberi senyuman kepada Pak Gio dan Pak Danny, Gerdy kira dia akan mendapat senyuman manis milik Lexy juga tapi ternyata ia langsung membalikkan badan dan pintu lift tertutup.

***