Membicarakan sepakbola lokal berarti membicarakan permasalahan yang tak kunjung usai, dari dualisme kompetisi, tawuran antar suporter, “sepakbola gajah” dan yang terakhir ketua federasi yang dijadikan tersangka. namun bukan berarti kita harus berhenti mendukung sepakbola lokal, atau memilih nonton bareng liga-liga eropa nun jauh disana, tapi justru tidak pernah datang ke stadion di kota yang “katanya” kita cintai.

Bangga Dengan Produk Dalam Negeri

Ketika kita mengambil keputusan untuk mendukung sepakbola lokal, maka secara tidak langsung kita menunjukan kebanggaan kita pada produk pribumi. karena kalo kita yang warga pribumi saja tidak bangga dengan produk pribumi, bagaimana warga negara lain bisa bangga dengan produk kita?

Berperan Nyata Dalam Perbaikan

Banyak orang sering protes lewat media sosial ketika terjadinya carut-marut sepakbola nasional, padahal di sisi lain mereka tidak pernah datang ke stadion dan bahkan dengan bangganya mengaku sebagai seorang fans dari sebuah klub di benua yang lain. Ini ibarat orang Zimbabwe protes kebijakan presiden Jokowi, memang tidak ada yang salah, namun protes kita akan lebih nyaman didengar jika kita juga memiliki peran dalam hal tersebut .

Advertisement

Selain itu, salah satu masalah yang sering terjadi di Sepakbola lokal adalah tidak terbayarnya gaji pemain, salah satu hal yang membuat hal ini terjadi adalah klub yang tidak memiliki pemasukan yang cukup, dengan datang ke stadion dan membeli tiket resmi, maka kita telah memberi sumbangsih keuangan kepada sebuah klub lokal yang harapanya masalah keuangan klub tersebut bisa teratasi.

Memberdayakan Ekonomi Lokal

Ada dua hal yang biasa dilalukan suporter sepakbola normal: menonton di stadion dan membeli marchandise original. Ketika kita menonton sepakbola di stadion maka sejatinya kita sedang “menafkahi” beberapa orang, dari bapak-bapak penjaga loket, keamanan yang menjaga pintu masuk, pak polisi yang mengamankan pertandingan, Kru Medis yang siap sedia di Pinggir Lapangan hingga ibu-ibu yang berjualan makanan ringan.

Selain itu tidak afdol rasanya kalau kita mengaku suporter klub lokal jika tidak membeli merchandise original, dengan membeli merchandise original artinya kita juga telah menjadi konsumen produk-produk lokal. Apalagi sekarang mulai bermunculan aparel-aparel lokal yang menjadi aparel resmi klub.

Ajang Besosialisasi Orang se-Kota

Kalau ada sebuah peristiwa yang bisa mengumpulkan 40ribu manusia 2 kali dalam sepekan, maka itu adalah sepakbola. Suporter sepakbola adlah komunitas yang sangat heterogen, ada berbagai profesi dan jenjang pendidikan di dalamnya. Di Stadion Maguwoharjo Sleman misalnya, anda bisa menjumpai Sri Purnomo yang seorang bupati sekaligus menemui Duta Modjo yang seorang Vokalis Band ternama di tribun yang sama.

Atau sesekali lihatlah saja ketika Persib Bandung bermain Jalak harupat, anda akan melihat Ridwan Kamil menyatu dengan lautan manusia yang mayoritas berbaju biru dengan tujuan yang sama.

Bahkan, di tahun 2000-an seorang manusia sesibuk Amin Rais yang waktu itu menjabat sebagai ketua MPR, sering terlihat duduk santai di tribun VIP di Stadion Mandala Krida menyaksikan PSS Sleman berlaga.

Mengenal Budaya Daerah Lain

Dalam dunia Suporter dikenal sebuah peristiwa “awaydays”, yaitu saat dimana tim yang kita dukung bertanding dengan sebuah tim yang berada di luar kota, disinilah kita akan mengenal budaya daerah lain. Seperti saat PSS bertandang ke Solo beberapa tahun yang lalu, Slemania yang merupakan suporter PSS Sleman saat itu membawa berkarung-karung salak pondoh yang merupakan buah khas Sleman untuk dibagikan pada warga solo.

Merawat Budaya Lokal

Mendukung Klub Sepakbola Lokal berarti juga mendukung Budaya Lokal, dari segi bahasa lokal misalnya, beberapa klub menggunakan bahasa lokal sebagai tagline tim mereka, Persib Bandung dengan “Persib Nu Aing”-nya atau PSM Makasar dengan “Ewako PSM”-nya adalah bukti nyata bahwa sepakbola lokal tidk bisa dipisahkan dari bahasa lokal.

Selain bahasa lokal, beberapa jersey klub di Indonesia juga mengangkat motif kain setempat sebagai bagian dari jersey, lihat saja Jersey PSIM Yogyakata yang menggunakan motif Batik Parang atau jersey Borneo FC yang terinspirasi dari motif sasirangan yang merupakan motif kain setempat .

Menjunjung langit, dimana bumi dipijak

Yang terakhir, mendukung klub lokal adalah bukti nyata bahwa kita mencitai tanah yang kita pijak, tidak terlalu berlebihan rasanya kalau “chant” yang kita teriakan dari tribun, adalah kontribusi kita untuk wilayah yang kita tempati. Meski kecil, masih lebih baik dari tidak sama sekali.