Dulu, sebelum suaraku bisa melakukan teleportasi tepat di telinga kamu, surat cinta adalah media terbaik untuk mengungkapkan rasa. Meski tua di perjalanan, kandungan romantisnya tidak pernah sedikitpun memudar. Maka maaf untuk panggilan yang selama ini aku abaikan, atau pesan yang tak kunjung kubalas. Biarkan semua itu aku jelaskan di surat ini.

Sayang, surat cinta itu sakral.
Jika efisiensi yang kamu takutkan,
apa sanggup teknologi menyediakan romantisme didalamnya?

Sayang, sejak awal berjumpa, aku benar dibuat mabuk oleh parasmu. Andai saja ada satu kata yang dapat menggambarkan semua tentang keindahan kamu, maka akan aku lipat gandakan kata itu sebagai penghias di alinea pertama. Tapi apalah daya, kata tak mampu menyerupai cantiknya kamu. Bahkan kata "Bidadari" pun masih belum sebanding untuk sekedar bersaing.

Tak ada yang salah soal parasmu. Semua makhluk yang melihat, pasti mengerti itu. Begitu juga dengan tingkahmu. Kamu selalu berbuat baik tanpa alasan. Sama halnya dengan keluargamu. Ayah, Ibu, Kakak perempuanmu, Mereka pribadi yang baik dari keluarga baik-baik.

Satu-satunya kekurangan yang mungkin kamu miliki barangkali hanya soal usia. Kamu terlalu belia. Seperti saat teman-temanmu berbisik bahwa aku Phedopilia, jelas aku mendengarnya. Suara mereka menggelegar meski dalam bisik. Aku terima ucapan itu dengan lapang. Perbedaan 9 Tahun yang mencolok bukan alasan untuk pergi.

Advertisement

Dan saat ini, saat dimana aku kembali mengingat begitu sakralnya surat cinta, tentu adal hal sakral pula yang ingin aku sampaikan. Mungkin jika kamu lebih peka, hal ini tidak akan luput dari pengamatanmu. Sebuah penyebab dari hancurnya hubungan rumah tangga Kakak perempuanmu.

Kejadian ini adalah bukti kedasyhatan surat cinta. Kakakmu yang elok itu, nyatanya belum mau pergi ke lain hati. Ia lebih suka memandangi surat cinta dariku dibanding membelai suaminya yang terlanjur menua. Begitu juga denganku. Aku lebih suka memandangi surat cinta darinya dibanding membalas pesan singkat darimu.

Bertahun-tahun Aku simpan, bertahun-tahun ia simpan. Begitu lama aku pendam, begitu lama ia pendam. Sejalan dengan surat cinta yang dulu sering aku dan Kakakmu tuliskan, perasaan kami tidak pernah berubah.

Tulisan itu kekal.
Meski habis dimakan usia,
bahagia yang kamu baca akan tetap menjadi bahagia.

Ini bukan tentang siapa yang terbaik, atau siapa yang lebih pantas. Ini hanya tentang siapa yang lebih dulu memulai. Maka untuk yang terakhir kalinya, maaf untuk segalanya.