Aksi 1000 lilin terjadi di beberapa daerah setelah majelis hakim menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara untuk Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Gubernur yang secara otomatis nonaktif ini dinilai melakukan pelanggaran terhadap pasal 156 A KUHP. Tak hanya Jakarta yang menjadi lokasi aksi tersebut. Jogja juga Papua pun termasuk daerah yang tak terima dengan vonis yang diterima oleh pria yang sempat mendampingi Joko Widodo saat menjabat sebagai Gubernur 2012 lalu.

Ratusan bahkan ribuan massa yang hadir dalam aksi tersebut merasa Ahok diberlakukan secara tidak adil. Bagaimana tidak, vonis yang harus dipatuhi olehnya jauh lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum dengan satu tahun penjara dan masa cobaan selama dua tahun lamanya. Banyak tulisan Save Ahok yang juga kerap diteriakkan oleh mereka. Tak ada disitu secara langsung, aku bisa melihat jelas ribuan orang tersebut minta sosok yang diidolakan ini dibebaskan.

Inti dari apa yang ingin ku tuliskan adalah soal pemaknaan pribadiku terhadap lilin yang digunakan oleh para pendukung Ahok. Lilin yang menyala namun tak secara utuh membunuh kegelapan ini ku nilai sebagai sebuah benda yang rela berkorban untuk sekitar. Ia tak peduli sekalipun tubuhnya melebur karena semakin hancur saat ia mulai menerangi sekelilingnya. Lilin memang demikian adanya. Cahayanya tak benar-benar mengkilat tapi boleh ku akui bahwa pancaran sinarnya mampu memberi kesejukan dan sedikit titik terang bagi siapapun yang berada dalam kegelapan.

Aku tak mengatakan bahwa Ahok sepenuhnya orang baik, tidak. Karena setiap makhlukNya selalu punya dua sisi yang saling bertentangan. Sikap kerasnya tentu kerap menjadi hiasan telinga rakyat Indonesia. Namun tak adil rasanya jika kita lupa dengan apa yang telah dilakukan, salah satunya untuk pembangunan Ibu Kota. Banyak yang mengatakan bahwa hal yang seharusnya dilakukan olehnya adalah korupsi. Sebab penataan yang dilakukan terhadap pembangunan Jakarta beberapa tahun ini dibalas dengan dua tahun hukuman penatnya jeruji besi.

Itulah sebabnya penilaianku pada lilin yang lantas digunakan oleh manusia-manusia totalitas tanpa batas tersebut. Mereka merasa Ahok adalah lilin yang secara suka rela meleleh demi kepentingan masyarakat yang ada di bawah kendalinya, ketika itu. Ini hanya tafsir secara pribadi dan kritik juga saran sangat membantu dalam mengabadikan setiap fenomena di dunia dalam diksi.

Advertisement

Pasal Penodaan Agama Harusnya Direvisi?

Pasal perihal penodaan agama memang telah dibahas puluhan tahun lalu. Namun pertentangan masih ada di antara beberapa pihak tentang berlakunya. Aku bukan ahli hukum jadi tak berkapasitas berikan penilaian hukuman yang diterima Ahok sejak Selasa kemarin. Hal mengejutkan datang dari Anggota Panitia Kerja (Panja) KUHP dari Komisi III DPR, Arsul Sani. Dilansir dari kompas.com, Asrul Sani menyatakan bahwa ia juga tim tak akan merevisi pasal tersebut karena dianggap sebagai alat kontrol terhadap kemajemukan masyarakat.

"Jadi pasal ini merupakan social control tool atau sarana kontrol sosial terhadap kemungkinan adanya tindakan-tindakan anarkistis karena ketiadaan hukum yang mengatur penodaan atau penistaan terhadap suatu agama," ujarnya.

Ku sebut ada perbedaan pendapat karena menurut Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly masih ada kemungkinan untuk merevisi pasal yang menjebloskan Ahok ke rumah tahanan. Ada beberapa rekomendasi yang telah diajukan. Namun tetap semua memiliki prosesnya dan tahapan masing-masing. Final dari nasib aturan hukumnya ini pun masih cukup mengambang.

"Iya itu kan termasuk waktu saya di Jenewa kemarin dalam sidang UPR ada keinginan-keinginan seperti itu (merevisi), ada rekomendasi-rekomendasi yang diajukan tentang religious minority, tentang kebebasan berekspresi, tentang kebebasan melakukan ibadah, tentang blasphemy (penghujatan) dan lain-lain," kata Yasonna.

Kini hukum harus tetap dijalankan setelah palu hakim diketuk sebanyak tiga kali di ruang sidang yang ketika itu bertempat di Auditorium Kementerian pertanian, Jakarta Selatan. Ahok pun lantas digiring ke Rutan Cipinang namun pada dini hari selanjutnya ia dipindahkan ke Mako Brimob Kelapa II Depok. Berjalannya proses hukum ku rasa dihargai oleh seluruh lapisan. Akan tetapi tetap penangguhan juga upaya banding tak henti-henti dilakukan oleh orang-orang yang berdiri tegap di belakangnya.

Perempuan Disamping Ahok

Tak lengkap rasanya jika akhir cerita ini tak ku sebutkan peran wanita istimewa Ahok, Veronica Tan. Perempuan yang telah memberikannya tiga orang anak ini tampak tegar meski rasa sedih tentu sedang menari-nari dalam hatinya. Betapa tidak, pria yang didampinginya sejak 1997 silam tersebut harus mendekam di balik jeruji besi setelah 22 kali sidang dilakukan. Sungguh akhir sekaligus awal yang pahit. Komitmennya sebagai istri teruji. Juga peran secara lahir sebagai Ibu dirangkap peran seorang ayah untuk putra putrinya akan segera dimulai.

Wanita asal Medan ini tentu telah tahu tentang segala jenis resiko yang mungkin diterima olehnya sebagai istri dari seorang politisi, mungkin juga mempersiapkan sedini mungkin. Namun demikian, seberapa besar apapun mental disiapkan, segala hal buruk tetap tak akan membuat air matanya berhenti menetes. Dengan wajah penuh kekuatan, Veronica datang ke Rutan Cipinang untuk memastikan sang suami dalam fisik yang cukup baik.

Dini hari setelahnya, Ahok dipindah ke Mako Brimob Kelapa II Depok. Pada saat itu, Veronica Tan juga tetap setia berada di sampingnya. Ia tentu ingin menemani pria yang menjadi pendamping hidupnya selama belasan tahun terakhir. Tapi demikian, kondisi masih harus membuat keimanan dan mentalnya teruji.

Ada hal yang lantas merayu pikiranku untuk mengingat bahwa pendamping sejati diuji saat seseorang istimewanya berada pada kondisi yang tidak baik. Bagaimana kesetiaan yang ia berikan juga kekuatan mental untuk pria istimewanya. Perempuan memang demikian, ia menjadi baju untuk pria yang didampinginya di setiap waktu. Saat hujan, ia menghangatkan namun saat panas, ia menyejukkan. Untuk seluruh perempuan di dunia, mari menjadi makhluk yang pantas dan bijak di setiap keadaan.

Miftah Al Istiqomah