Pernah mengalami tiba-tiba harus mengakhiri sesuatu yang sudah mati-matian kita perjuangkan?

Sakit hingga dada serasa sesak bagai tak ada ruang bernapas mungkin begitulah rasanya. Wajar, bahkan menangis mungkin hanya dapat me-release­ sedikit rasa sakit dan emosi-emosi negative yang terasa memenuhi sudut-sudut ruang rasa. Aku ingin tinggal, tapi aku tak bisa. Aku ingin bertahan, tapi ada sesuatu yang mengharuskanku untuk menyudahi

Menjadi manusia egois

Jika diberi kuasa untuk memaksa, pasti akan aku lakukan. Sesekali menjadi manusia egois, tak boleh kah? Tanpa harus mempedulikan sekitar atau bahkan risiko yang akan aku timbulkan, berdampak pada orang lain atau tidak. Tak bolehkah aku menjadi sedikit egois untuk sesuatu yang aku ingini? Memperjuangkan apa yang aku harapkan bisa menjadi milikku.

Aku tak ingin peduli dengan orang lain, yang aku inginkan hanyalah aku, aku, dan aku. Melakukan apapun sekehendakku, memaksakan apapun hingga menjadi sesuai inginku, melarang ini-itu semauku untuk mewujudkan harapanku. Iya, jika dibolehkan aku ingin manjadi manusia paling egois untuk harapanku ini.

Apalah lajur, jika nuraniku tak izinkan untuk menjadi demikian.

Disatu sisi aku ingin menjadi manusia paling egois, tapi sebonggol darah yang ada dalam diriku tak pernah membiarkanku berbuat demikian. Kalian tau rasa seperti mempunyai dua sisi? Iya begitulah, menyiksa. Seakan-akan sebelah-sebelah hatiku saling menarik untuk saling mengalahkan.

Advertisement

Insting primitifku selalu mendorong untuk memuaskan hasrat, tak perlu memikirkan selainnya. Beruntung aku merasa mempunyai sedikit iman, setidaknya mampu meredam gejolak ego primitif, yang aku tahu suatu saat akan kusesali.

Hingga akhirnya aku sudah merasa cukup dalam memperjuangkan

Setidaknya aku pernah memperjuangkan. Aku harus berhenti. Aku dipaksa berhenti oleh keadaan dan akupun sudah sampai pada batas maksimalku. Lelah. Aku ingin beristirahat. Aku tak akan pernah menyesal telah jauh berjuang dan harus terpaksa berhenti, sampai kapanpun. Saat ini, saat untukku beristirahat, menunggu.

Keyakinanku, tak akan ada perjuangan yang sia-sia, meski jalan juangku harus terhenti di titik ini.

Pun saat ini, aku sudah bisa merasakan buah juangku. Banyak hikmah yang bisa aku dapat selama perjalanan perjuangan ini. Terimakasih, pengalaman yang tak terbeli, kenangan yang menguatkan, kecewa yang membentukku menjadi manusia baru. Perjalananku untuk perjuangan ini selesai di sini, aku tak akan memaksa untuk terus tinggal.

Dan kini saatnya hatiku untuk kutata kembali, mengevaluasi perjalanan kemarin

Banyak pelajaran yang kudapat dari rusuhnya perilakuku kemarin: pemaksaan kehendak, ketidak-pedulian, keinginan-keinginan untuk selalu dimengerti. Apa yang kudapat dari semua itu? Sesak. Sesak yang tak henti terasa ketika aku masih saja ngotot untuk memperjuangkan sesuatu yang memang mungkin bukan takdirku.

Sungguh, rasa sesaknya menyiksa, membuat aku harus sering-sering menarik napas panjang agar bisa sedikit lega bernapas. Hingga akhirnya di satu titik aku mulai tersadar. Iya, aku tak bisa terus seperti ini. Memelihara dendam karena sesuatu terjadi dengan hasil tak sesuai inginku. Aku merasa perlu waktu untuk merenung.

Kusimpulkan, jika aku tak mampu mengikhlaskan, maka tak pernah sedikitpun rasa sesak yang menyiksa itu berhenti mengungkung gerak langkah dan hidupku.

Okelah, aku harus bersiap melanjutkan hidup.

Seperti kata orang bijak “hidup bagaikan lembar-lembar buku yang diisi tulisan-tulisan kejadian dan pengalaman, jika kau selesai dengan satu lembar pengalaman, baik menyenangkan atupun tidak kau tetap harus membaliknya lagi. Mengisi dengan tulisan-tulisan baru yang kelak akan menjadi cerita dan pelajaran bagimu atau bahkan mungkin juga orang lain yang membaca cerita hidupmu.”

Sampai di sini, aku berhenti.