Apa kabar wahai pemilik pelangi di dua pasang bola mata? Sudahkah dia yang sekarang melihat hal yang sama? Bagaimana jika sebenarnya rinduku masih sama? Bagaimana jika rasaku masih seperti yang dulu? Tapi sudahlah, aku akan berhenti bertanya tentang ke egoisanku karena sekarang yang paling ingin aku tahu adalah keadaanmu.

Bagaimana kabarmu disana? Seolah-olah pertanyaanku menunjukkan bahwa kita sudah terpisah oleh jarak yang sangat jauh? Padahal kita selalu bertemu. Ya, karena bagiku dekat bukan hanya ketika bertemu tapi menjadi yang paling sering menghabiskan waktu bersamamulah baru aku merasa dekat. Terdengar sangat egois bukan?

Maaf jika aku terlihat seperti orang yang membencimu. Mungkin itulah caraku untuk melupakanmu.

Maaf jika akhir-akhir ini sikapku menyebalkan di depanmu, karena aku sendiri belum tahu apakah maksud dari semua itu. Mungkin itu semua sebagian dari cara caraku untuk melupakanmu, sebab aku juga tak ingin munafik untuk berkata “Aku tak ingin melupakanmu”.

Kini kita sudah seperti saling membenci,aku dengan sikap menyebalkan didepanmu dan dirimu dengan sikap tak peduli dengan semua itu. Ada apa ini sebenarnya? Sudahkah kau menemukan dia yang kau cari? Dia yang berjuang terus terusan seperti yang kau inginkan? Atau bayangan yang sebelum-sebelumnya masih saja selalu menghampiri?

Aku mohon kepadamu, jangan jadikan dirimu seperti piala sebuah kompetisi.

Advertisement

Apapun itu, tolong hargai dia yang betul-betul berjuang. Tolong jangan tiba-tiba lupa terhadapnya ketika ada yang berjuang lebih keras darinya, sebab mendapatkanmu bukanlah sebuah kompetisi. Dirimu terlalu indah jika hanya dijadikan sebuah piala.

Jika menurutmu dia sudah benar-bernar berjuang, maka balaslah dengan kesetiaan pula. Jangan kau terus mencari yang lebih dari itu, sebab apa artinya jika kau terus terusan membuka hati pada siapapun yang ingin berjuang untuk mendapatkanmu?

Terima kasih pernah singgah di hatiku. Dan maafkan jika suatu saat nanti aku tak lagi memikirkanmu.

Tolong, tolong jaga kesehatanmu baik-baik sebab hal yang jauh lebih sakit dari melihatmu bersama yang lainnya adalah ketika harus melihatmu terbaring sakit tanpa bisa memperhatikanmu. Aku minta maaf jika suatu saat aku tak bisa memikirkanmu lagi. Maaf jika suatu saat aku sudah tidak peduli lagi, karena mungkin disaat itu aku sudah sadar bahwa memikirkanmu hanyalah menimbulkan jerawat yang baru.

Terima kasih sudah pernah sempat singgah, dan terima kasih sudah pernah percaya pada setiap perkataan suka, sayang, dan cinta yang seharusnya tak kutujukan pada orang yang menyia-nyikan seperti dirimu. Jujur kini aku harus hidup dalam penuh dusta ketika harus berkata seperti itu lagi kepada yang lainnya.