Seperti layaknya di terpang hujan angin yang sangat kencang, sesekali aku menghela nafas. Karena aku mencoba mengungkapkan hubungan kita kepada ayah dan ibuku. Kamu tidak akan tau bagaimana rasanya mengutarakan tentang semua ini. Perjalanan kita yang begitu panjang yang terombang ambing tanpa kepastian. Aku ingin segera dipastikan apakah hubungan kita bisa di persatukan? Karena aku tau ridho orang tua adalah ridho Yang Maha Kuasa. Mulutku kaku dan bergeming, mengucapkan satu kata pun rasanya aku tak mampu.

Ketika ayah dan ibuku mendengar pengakuanku, semua serasa hening. Bak di ruang hampa yang bingung entah kemana. Sesekali aku menelan ludah yang teramat dalam, entah bagaimana jadinya. Aku hanya berusaha memperjuangkanmu karena aku tau ketulusanmu selalu membuat aku merasa kuat. Saat ayah dan ibuku berbicara mengenai hubungan ini, bak di sambar petir di gurun pasir hati ini hancur berkeping-keping. Aku selalu berusaha menahan air mata ini agar tak menetes dan membasahi pipi. Walau aku tau kenyataan yang te

ramat pahit yang aku terima. Entah sampai kapan perjalanan kita akan berlabuh, entah sampai kapan kita bersatu.Aku selalu berdoa agar Tuhan menjawab semua doa yang aku panjatkan. Restu ayah dan ibu ku lah yang pertama, entah bagaimana penilaian mereka terhadapmu. Karena hanya aku yang mengenalmu lebih dulu, denganmu hari-hari ku terasa lebih berwarna, dan kamulah yang mengingatkan ku kepada Tuhanku agar selalu berdoa kepadaNya. Mungkin ini ujian dari Tuhan untuk hubungan kita. Tetapi, aku tau Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya.

Aku percaya usaha ini tak sia-sia, dan aku yakin semua akan terjawab dengan bergulirnya waktu. Mungkin tidak sekarang, tetapi nanti di saat waktu yang Tuhan telah rencanakan. Tetapi, dengan pengakuanku ini batinku sedikit terasa lega. Walau aku tau kenyataan itu, amatlah sakit. Karena bertahun-tahun aku tak berani untuk mengungkapkannya, sebab penilaian dan pandangan yang berbeda antara aku dan orang tuaku terhadapmu.

Tetapi ini bukanlah akhir dari sebuah perjuanganku, karena ketulusanmu yang rela menunggu restu orang tuaku membangkitkan ku bahwa kita harus tetap berjuang meski kita tak tau sampai kapan. Asal dengan niat yang baik, semoga Tuhan memberi kita arah kemana kita akan berlabuh dan bersinggah.