Potret Gunungkidul di jaman dulu yang merupakan daerah yang sering dilanda kekeringan dan kelaparan membuat orang yang berasal dari daerah tersebut seringkali malu kalau ditanya asal daerahnya. Apalagi kalau mereka merantau ke kota lain seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Rata-rata mereka pasti akan menyebutkan kalau asal daerahnya adalah Jogja. Tidak salah sih, karena Kabupaten Gunungkidul sendiri merupakan bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tapi juga kurang tepat, sebab Jogja itu identiknya dengan kota Yogyakarta itu sendiri, yang sebenarnya merupakan kotamadya tersendiri yang jaraknya kurang lebih 20 km dari Gunungkidul.

Apalagi bagi perantau yang tujuan merantaunya tersebut adalah untuk melanjutkan studi seperti kuliah. Bullying semacam "oh daerah yang kekeringan itu to?", "sudah mandi belum?" atau "woo…wong ndeso" pasti menjadi semacam kalimat wajib yang terucap dari mulut orang ketika mereka mendengar bahwa kita berasal dari Gunungkidul. Malu pasti hya. Tapi mau bagaimana lagi kalau kenyataan pada saat itu memang demikian. Karakter Gunungkidul sebagai daerah berkapur memang membuat wilayah tersebut susah mendapatkan air. Jadi tiap musim kemarau tiba, untuk kebutuhan mandi atau minum masyarakat disana terbiasa dengan membeli air dari truk tanki air.

Namun kondisi tersebut sekarang telah jauh berbeda. Kamu yang dulunya minder kalau asli Gunungkidul sekarang justru menjadi bangga kalau menyebutkan daerah asalnya Gunungkidul. Berikut alasan-alasannya

1. Dengan semakin majunya teknologi, masalah kesulitan air kini sudah teratasi

Kalau ada yang tanya "sudah mandi belum?" saat kamu bilang kalau berasal dari Gunungkidul, ada baiknya orang tersebut langsung kamu bawa ke tempat tinggalmu di Gunungkidul terus langsung kamu semprot air sampai basah kuyup. Adanya banyak sungai bawah tanah yang airnya berhasil dinaikkan ke permukaan dengan teknologi terkini membuat masalah kesulitan air teratasi. Selain itu teknologi sumur bor yang biayanya terjangkau juga membuat masyarakat semakin mudah dalam mencari sumber air.

Advertisement

2. Di tahun 2017 ini siapa sih yang gak kenal sama objek wisata di Gunungkidul ?

Dulu orang mungkin hanya tahu kalau hanya ada pantai Baron yang menjadi objek wisata di Gunungkidul. Tapi sekarang, mulai dari air terjun, pendakian gunung, outbond, panjat tebing, panorama alam, goa, sampai danau buatan di puncak gunung ada semua di Gunungkidul. Jangan heran kalau saat weekend tiba jalanan di daerah ini mendadak menjadi macet seperti di Jakarta. Bahkan tidak jarang, saat hari kerja sekalipun bus-bus pariwisata masih terlihat berseliweran di jalanan Gunungkidul.

3. Kamu yang lapar tidak perlu khawatir, ada berbagai macam kuliner yang tersedia di sin

Berhubung daerah wisata yang lagi nge-hits, maka secara otomatis warung makan yang tersedia pun akan semakin banyak. Di kiri kanan jalan sepanjang jalur utama Jogja-Wonosari banyak tersedia warung makan dengan berbagai menu. Yang terbaru tentu saja taman kuliner di tengah kota Wonosari. Selain terdapat berbagai macam makanan, di tempat itu kita juga bisa menyaksikan pertunjukan musik perkusi yang dibawakan musisi lokal setempat. Dan yang lebih penting, harga-harga makanan di Gunungkidul ini tergolong "harga damai".

4. Tiwul yang dulunya menjadi pengganti nasi, kini justru menjadi komoditi dagang khas Gunungkidul

Dulunya tiwul merupakan makanan yang digunakan untuk menggantikan nasi sebagai pengganjal perut ketika lapar. Maklum saja di jaman itu karena kesulitan air, maka penanaman padi pun tidak bisa dilakukan. Alhasil beras pun menjadi sangat terbatas. Jadilah gaplek yang berasal dari ketela pohon yang dijemur berhari-hari diolah menjadi tiwul yang kemudian digunakan sebagai pengganti nasi. Namun saat ini tiwul justru menjadi komoditi dagang sebagai makanan khas Gunungkidul yang diperjual belikan di toko-toko khas oleh-oleh. Lebih hebatnya lagi sudah ada kemasan instan-nya hlo.

5. Gadis Gunungkidul itu terkenal cantik-cantik

Kalau berbicara soal kecantikan sih sebenarnya relatif. Akan tetapi anggapan bahwa perempuan Gunungkidul itu cantik-cantik justru sudah ada semenjak dari dulu dan bertahan hingga sekarang. Anggapan itu justrumuncul bukan dari orang Gunungkidul sendiri, tapi dari orang di luar daerah. Ada yang tidak percaya ? silahkan datang sendiri ke Gunungkidul untuk mengecek kebenarannya.