Ketika mulai menuliskan beberapa kata tentang kakek dan nenek yang sedang berada jauh di kota seberang sana, tiba-tiba hati berdegup. Saya kira, rindu sedang bertamu. Hidup berkalang rindu sungguh bukan perkara mudah. Apalagi berada dikota yang beda. Yang paling membuat saya kangen adalah Masakan dan Kehangatan.

Senangnya bisa berbagi kenangan tentang mereka melalui wadah ini. Kepalaku penuh dengan file-file kebahagiaan, gelak tawa dan canda. Sedih? Saya kira mereka tak mengizinkanku untuk merasakannya. 😊

Dulu jaman masih sekolah dasar, pada liburan ramadhan. Saya selalu ingin pulang kampung. Bertemu dan berkumpul dengan kakek dan nenek. Alasannya, karena berada disekitar mereka saya bisa bermain sepuasnya, makan sekenyangnya dan tidak pernah dimarahi. 😁

Umi adalah panggilan bagi nenekku. Paling jago memasak masakan khas minang. Menu favoriteku adalah Gulai Bebek atau dalam bahasa minang β€œTumi Itiak” hihihi pokoknya selain umi yang masak gulai bebek ini, saya ga pernah mau makan. Karena rasa tidak bisa dibohongin. Koki terhebatku Hihihi

Yang paling membekas dihati waktu ramadhan kami para cucu-cucunya diwajibkan berpuasa, kalo ga puasa. Kami ga boleh makan. Nenekku tergolong wanita tegas tapi berhati penyayang. Pernah sekali waktu itu saking haus habis bermain, saya diam-diam minum air. Karena perasaan bersalah saya sembunyi dan pergi kerumah tetangga. Takut dimarahi. Waktu itu Saudara sepupu malah ngasih tahu umi kalo puasa saya bolong. Umi awalnya marah tapi malah ga jadi marah. Perasaan kasihnya luarbiasa. Dia ngajak saya pulang dan suapin makan kesukaan. Hahahaha beruntung banget. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan. 😊

Advertisement

Menjelang tidur, umi selalu ngelus-elus ubun-ubun kepalaku. Itu yang bikin hati nyaman dan tentram. Surga pertama setelah ibuku. Bener dah, rambut kalo sudah dielus lembut siapa coba yang ga takhluk. Jadi bang, jangan berani pegang rambutku sebelum kamu halalin aku dulu yahhh *wkwkwk baper* *ehmaapkeluarjalur*

Paling ngangenin dengerin umi baca alquran habis sholat. Teduh dan damai.

Paling beda sendiri, kakekku tercinta Mr. Firman 😁😁 bener-bener sosok pejuang sejati. Tak pernah kudengar keluhan apapun. Malah jadwal pekerjaannya bener2 padat. Ngangkut padi dan memberi makan sapi. Duh, jika melihat kakek ngangkut padi dipunggungnya. Hatiku benar2 merasa kecil. Kakekku tak pernah malu bekerja apapun selagi hasil itu halal. Kakekku yang paling rajin, kakekku yang penyuka kopi itam. Kakekku yang ga pernah marah walau makan hanya dengan sisa ikan asin dan petai. Kakekku yang tak malu turun ke dapur, membantu umi masak dan menyediakan kayu bakar. Duh kek, betapa beruntungnya umi memiliki sosok pejuang dan pemimpin. Padamu, aku belajar banyak hal.

Kakekku bukan tipe lelaki tukang bual. Dia menunjukkan perhatian melalui tindakan bukan ucapan. Tipe lelaki yang susah ditemui di dewasa ini. Kakekku yang keras luar tapi amat penyayang. Kakekku yang penyuka kucing, bahkan kucing pun sangat suka berada disekitarnya.

Kakek dan umi bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Kami telah biasa hidup dalam kesederhanaan. Satu hal yang pernah umi sampaikan pada kami anak cucunya, β€œGa papa kita hidup sederhana seperti ini, asal masih bisa makan dan ga kelaparan. Untuk apa kita kaya, jika itu bukanlah hak kita. Itulah yang membuatku berusaha dan berjuang dulu untuk mendapatkan yang diinginkan. Jadi saya sangat menghargai segala hasil tak peduli banyak atau sedikit. Karena saya mendapatkannya dengan usaha sendiri.

Yang masih terpatri dalam ingatanku hingga kini, adalah ketika sakit dan terbaring dirumah mereka. Kakekku yang kutahu mungkin tidak terlalu memiliki banyak uang. Tapi malah membawakanku bubur kacang ijo. Bagi sebagian orang itu adalah hal biasa. Tapi bagiku itu adalah kejutan yang baru pertama kali kudapati dari kakekku yang kaku itu. Hihihihi kakekku memang kaku. Jarang bercanda.

Kini, waktu telah merubah warna pada rambut mereka. Usia yang mulai senja. Pemandangan yang tidak pernah berubah adalah ketika saya cuti kerja dan berada diantara mereka. walau hidup dalam kesederhanaan selalu kudapati mereka duduk berdua dekat jendela sembari menikmati secangkir kopi hitam favorit mereka berdua. Selalu sama. Secangkir kopi, senja dan dekat jendela. Yang berbeda. Usia yang memakan raga. Hitam yang memutih.

Tapi, rasa selalu sama. Mungkin begitulah cinta yang sejati. Tak perlu banyak ucapan, hanya perlu pembuktian. Pemandangan yang indah. Tampak bagiku sepasang muda mudi yang sedang bahagia. Harap dalam hati, semoga nanti ketika usia meninggalkan kerutan pada wajah. Saya juga bisa menikmati secangkir kopi berdua dengannya. Yah, seseorang yang seperti kakek. Semoga disemogakan.

Umi dan kakek, tetaplah sehat tetaplah kuat. Semoga Allah senantiasa memberi jeda pada usia, melebihkan bahagia, memperbanyak kemuliaan. Salam kangen dari rantau yang jauh. Tetaplah menunggu kepulangan cucu-cucumu. Kami menyayangi kalian.