Merdeka berdasarkan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bebas; berdiri sendiri; lepas dari tuntutan; tidak terikat. Secara jelas kita mengetahui bahwa merdeka adalah keadaan dimana kita tidak lagi terkekang oleh apapun dan mampu melakukan segala hal yang kita inginkan. Merdeka itu sendiri bisa direpresentasikan dengan banyak hal, seperti bebas bergaul, bebas berkomunikasi, bebas bekerja, hingga yang paling penting adalah bebas berpendapat. Namun, jangan lupa disamping memenuhi kebebasan kita ada juga hak orang lain yang harus kita perhatikan.

Kebebasan Berpendapat sebagai Kebutuhan Manusia

Manusia sebagai homo socius tentu saling membutuhkan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini mampu bertahan hidup sendirian. Nabi Adam pun dianugerahkan Tuhan memiliki pasangan, yaitu Hawa. Oleh karena itu, pantaslah disebut bahwa manusia adalah makhluk sosial. Lalu, apa saja yang dibutuhkan si makhluk sosial ini? Beberapa hal diantaranya adalah berpendapat dan bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Jika asupan tenaga manusia berasal dari makanan, maka asupan ‘gizi’ sosial manusia adalah dengan berinteraksi dengan manusia di sekitarnya. Melakukan interaksi itu sendiri pastinya diselingi saling silang pendapat. Ada yang setuju, ada yang tidak. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada yang hitam, ada yang putih. Begitu seterusnya. Meski tidak berujung, setidaknya ada jalan tengah mengenai persoalan yang dibicarakan antara kedua belah pihak.

Betapa penting kebebasan berpendapat bagi manusia yang notabene adalah makhluk sosial. Namun, bagaimana ketika kebebasan berpendapat itu dibatasi? Bermasalahkah? Jawabannya “Ya, sangat bermasalah”.

Rezim Orde Baru

Advertisement

Tentu tidak asing bagi kita perihal Orde Baru. Rezim Orde Baru ini dipimpin oleh seorang presiden yang berkuasa sekitar 32 tahun, Soeharto. Melalui rancangan program Pembangunan Lima Tahun (PELITA), Soeharto kemudian sukses dijuluki “Bapak Pembangunan”. Hasil pembangunan yang diperoleh dari PELITA ini memang fantastis. Pada tahun 1966, inflasi mencapai klimaksnya hingga 650%. Namun, di periode pertama PELITA inflasi dapat ditekan hingga menjadi 85%. Selain menekan tingkat inflasi, PELITA juga berhasil menciptakan swasembada pangan dimana Indonesia bisa mandiri dalam mengelola produksi pangannya sendiri. Tidak hanya di sektor ekonomi dan pertanian, sektor pertahanan dan keamanan juga menjadi perhatian khusus pemerintahan Soeharto. Namun, untuk meraih pencapaian ini, rakyat Indonesia dipaksa untuk bungkam.

Keterbatasan Berpendapat pada Rezim Orde Baru

Kebebasan berpendapat tampaknya menjadi suatu hal yang sangat istimewa bagi rakyat Indonesia di zaman Orde Baru. Bagaimana tidak, sedikit saja salah kata atau salah ucap, bisa-bisa esok harinya jadi incaran mata-mata negara. Pada era tersebut, setiap gerak tindak-tanduk masyarakat perseorangan seperti diawasi oleh pihak yang invisible.

Membatasi ruang gerak masyarakat untuk berpendapat tentunya sangat bertentangan dengan UUD 1945. Hal ini tersirat dalam pasal 28 UUD 1945 yaitu kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Seharusnya dengan adanya pasal ini, kebebasan masyarakat Indonesia dapat terjamin. Namun, kenyatannya rakyat Indonesia selama era Orde Baru sangat terbatas. Akibat dari hal ini diantaranya timbul kekecewaan rakyat kepada pemerintah, rakyat yang merasa tertekan karena harus hidup dalam kekangan, serta hilangnya kepercayaan dan pembangkangan terhadap pemerintah.

Puncak kekecewaan ini adalah unjuk rasa pada bulan Mei 1998. Seluruh mahasiswa dari berbagai kota menyasar gedung DPR/MPR dan juga DPRD sebagai destinasi mereka membawa tuntutan agar Presiden Soeharto turun tahta. Hal yang sangat ikonik pada saat itu ketika ribuan mahasiswa dan demonstran menduduki gedung DPR/MPR. Sebuah perjuangan yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru dan terbukanya era Reformasi.

Merdeka Berpendapat di Masa Kini

Setelah perjuangan yang luar biasa, akhirnya rakyat Indonesia bisa bernafas lega karena sudah terbebas dari kekangan pemerintahan yang otoriter. Salah satu dampak yang dapat dirasakan adalah terciptanya situasi bebas berpendapat yang demokratis. Setiap individu bebas berkumpul serta mengemukakan pendapat dan pikirannya seperti yang tercantum dalam pasal 28 UUD 1945. Tidak ada lagi perasaan terancam untuk berbicara dan berpendapat. Namun, sudahkah kebebasan ini dimaksimalkan dengan baik oleh setiap individu?

Seiring berkembangnya kebebasan dalam berpendapat dan didukung dengan kemajuan teknologi, masyarakat jadi lebih mudah untuk mengeluarkan isi pikiran mereka baik secara lisan maupun tulisan, langsung maupun tidak langsung. Media sosial pun juga berkembang pesat. Dibantu dengan kecanggihan teknologi, media sosial online sangat mudah diakses dan seakan menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat modern. Melalui akses yang sedemikian cepat, suatu isu dapat tersebar luas hanya dalam hitungan detik saja.

Isu yang berkembang di masyarakat seringkali menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Tidak jarang perdebatan sengit terjadi antara kedua belah pihak hanya untuk membuktikan bahwa pendapat-nya lah yang paling benar. Kata-kata kasar bernada ejekan juga banyak terlontar dari sekian banyaknya orang yang berkomentar. Akibatnya, dapat timbul perpecahan di masyarakat hanya karena adanya label pro dan kontra terhadap suatu isu.

Sebenarnya, media adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam penyebaran suatu isu. Bagaimanapun, kita tidak menampik fakta bahwa media sekarang ini kebanyakan mementingkan rating dengan tujuan menjadi media yang paling populer. Akibatnya banyak berita yang tidak aktual. Headline pun dibuat mencolok agar masyarakat penasaran untuk membacanya, sedangkan isi beritanya tidak sepenuhnya sesuai dengan headline yang diberikan. Bahkan, tidak jarang sebuah berita dibuat hanya berdasarkan ‘kompilasi’ komentar serta argumen dari media sosial. Jika demikian, maka berita yang seharusnya berisi informasi yang ‘bergizi’, hanya akan menjadi provokasi di masyarakat.

Cerdas dalam Berbicara, Berpendapat, dan Berkomentar

Merdeka tidak selamanya bebas seutuhnya untuk melakukan apa saja yang kita mau. Merdeka berarti harus berani bertanggungjawab dan menerima segala konsekuensi atas tindakan yang kita lakukan. Kebebasan untuk berkomentar memang tidak dibatasi, apalagi jika dilakukan di media online. Namun, dari komentar yang kita berikan seharusnya berisi komentar yang cerdas dan berbobot. Jangan malah menimbulkan keributan karena pendapat yang kita lontarkan bersifat provokatif.

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita seharusnya memahami bagaimana sulitnya situasi ketika hak untuk berkumpul dan berpendapat dibatasi seperti yang terjadi pada rezim Orde Baru. Rakyat pada zaman itu memperjuangkan haknya dengan melawan pemerintah hingga akhirnya terwujud era reformasi yang demokratis. Jika sudah mengetahui hal itu, seharusnya kita sadar untuk menggunakan hak kita untuk berpendapat sebaik mungkin dan ‘se-elegan’ mungkin. Banyak cara dapat dilakukan untuk mengisi #MerdeKamu dalam berpendapat.

Menyadari konsekuensi setiap perkataan ketika berpendapat menjadi satu poin yang paling penting untuk dilakukan. Sesungguhnya, setiap hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, entah itu baik maupun buruk. Menyikapi hal tersebut, kita harus dapat bertanggungjawab. Karena, mungkin saja ada pihak yang dirugikan akibat perbuatan kita. Begitu pula ketika berpendapat, jangan sampai perkataan kita mengandung hal yang provokatif dan unsur SARA. Sebelum berpendapat, sebaiknya dalami dulu mengenai isu yang berkembang. Cari informasi yang terpercaya dan valid. Jika pun tidak banyak menemukan informasi terkait, ada baiknya mengambil langkah untuk diam. Setidaknya, kita dapat menghindari konflik yang tidak perlu dengan orang lain.

Apabila #MerdeKamu diisi dengan memberikan komentar dan berita yang informatif, maka akan banyak masyarakat yang mengambil manfaat dari hal tersebut. Karena kembali lagi, pada masa sekarang informasi apapun sangat mudah untuk disebarkan melalui media apapun, terutama media online. Jika pendapat dan komentar yang kita berikan itu positif, informasi yang ‘bergizi’ pun akan mudah tersampaikan kepada masyarakat luas. Sehingga bukan hanya kita, namun orang lain juga jadi semakin cerdas karena kita.