Mungkin karena media sosial, kita bisa tahu apa saja. Dari kejadian kecil, hingga yang besar. Dari masalah enteng sampai yang berat. Segala rupa masalah di negeri ini menjadi gamblang dan terbuka. Semuanya, mudah kita ketahui.

Tapi sayang, sebagian dari kita mungkin juga saya, gara-gara banyak informasi dan tahu segalanya, menjadi hobby mendramatisir masalah. Setiap ada kejadian, kita menjadi begitu peduli, ikut tegang dan membesar-besarkannya. Mendramatisir keadaan, mendramatisir masalah. Hal yang sepele dibikin besar, terasa amat gawat. Padahal belum tentu juga kan, ya.

Entahlah, kita terkadang memang suka membuat hal-hal kecil menjadi besar. Dan lalu dipersoalkan. Apa saja, inginnya dipermasalahkan. Akhirnya, waktu kita terbuang percuma. Jadi cepat lelah, stress, gak produktif, apalagi positif.

Memang sih, sudut pandang kita soal masalah kecil atau besar itu beda. Mulai dari Presiden yang dianggap gak becus, soal rupiah anjlok, BPJS haram, dsb. Gak tau itu soal kecil atau besar, tapi yang pasti semua itu sudah ada orang yang menanganinya. Untuk cari jalan keluar, untuk cari solusi. Sedang kita kalo ikutan juga mau ngapain?

Didramatisir. Atau didramatisasi. Apalah namanya. Kadang kita lebih senang memperkarakan hal-hal yang sepele.

Dikit-dikit pencemaran nama baik, dikit-dikit mengganggu ketenangan orang. Sampai urusan utang piutang dipolisikan. Nenek-nenek ambil kayu, bukan dibilangin malah diadili.

Duhh, kita ini makin pintar, makin banyak informasi, makin doyan mendramatisir masalah. Dibikin tegang, dibikin rumit sendiri. Seakan amat gawat. Nyatanya, setelah dijalani biasa-biasa aja kok. Maaf ya, kita memang harus saling mengingatkan soal ini. Biar gak kebablasan aja, Ok?

Advertisement

Kita, kamu, saya dan setiap orang pasti punya masalah. Tapi itu bukan berarti, apa saja bisa dipermasalahkan bukan? Apalagi didramatisir? Bayangkan, kalo kita lagi ngobrol bertiga. Tahu-tahu bau kentut, terus main salah-salahan. Tapi tetap gak ada yang ngaku. Akhirya musuhan. Lha kok, kentut aja dimasalahin. Apalagi sampe dibawa ke pengadilan atas delik perbuatan tidak menyenangkan. Nanti namanya pengadilan kentut dong haha…

Andai kita tahu. Tiap ada masalah, kita pasti ingin menyelesaikannya. Betul gak? Tapi tidak perlu juga didramatisir. Masalah itu, mau ringan atau berat, yang penting menyelesaikannya bukan memikirkan masalahnya. Itu kata nenek moyang kita zaman dulu lho …

Amat rugi bila cara pikir yang gemar mendramatisir masalah terjadi berulang-ulang. Amat meletihkan dan sama sekali gak jadi solusi. Bisa jadi, malah menambah masalah baru.

Namanya orang hidup, selalu saja ada hal untuk dipermasalahkan. Selalu ada teman atau pejabat yang melakukan kesalahan. Namun jika tidak kita dramatisir, maka amarah dan tekanan emosi juga gak ada kan. Sungguh, kamu dan saya punya energi mental dan kreativitas yang lebih besar ketimbang masalah-masalah yang gak terlalu besar itu.

Jadi, gak usah deh mendramatisir masalah. Karena bikin hidup jadi lebih lebih berat. Akhirnya, kita atau negeri ini jadi tambah stress. Tambah ruwet kayak es dawet.

Bangkitlah kita, sudahilah untuk mendramatisir masalah. Karena tidak ada manfaatnya. Malah bikin cemas, bikin takut. Atau malah jadi memperkeruh suasana. Mendramatisir itu sama dengan menciptakan kesalahan di atas kesalahan. Sayang kan, mendingan mencipta karya drama beneran. Iya gak?

Sungguh, mendramatisir masalah ujung-ujungnya bikin mental kita jadi emosional dan tidak stabil. Bahkan mungkin tidak lagi objektif dalam melihat suatu persoalan.

Ingat, mereka yang tidak berhasil menyelesaikan masalahnya adalah orang-orang yang menutup mata dan sibuk mencari dukungan dan berlebihan dalam berkomentar.

Jadi, untuk apa kita sibuk menyesali dan mengeluhkan masalah yang itu-itu saja. Sungguh, jangan biarkan kita terpuruk dalam penyesalan dan keluhan yang tak berkesudahan.

Oke anak muda. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Tanpa perlu didramatisir. Karena apapun, ada hikmahnya. Semua itu bagian dalam proses hidup kita. Seperti kata orang sekarang,"The show must go on."