Perekonomian global menunjukan arah yang negatif bagi negara berkembang seperti negara kita yang kita cinta. mata uang USD mulai merangkak naik dari level terandah sampai tertinggi. negara-negara berkembang semakin terpuruk dengan kenaikan nilai matauan mereka dengan USD. investor-investor memborong dolar sampai dolar dipredaran sedikit yang mengakibatkan lonjakan tinggi. khususnya di Indonesia para pelaku bisnis mulai terlihat lesu dengan adanya kenaikan hampir semua mata uang. pabrik-pabrik muluai mengurangin jumlah karyawannya. bertambahlah jumlah pengangguran dan memperburuk bangsa, sedangkan orang-orang kaya pada takut uangnya habis karena nilai uang rupiah kian jatoh. karena itulah semua pusing menghadapi krisis ini yang entah kapan berujung.

masyarakat Indonsia menjadi dua golongan, yaitu golongan orang kaya dan orang miskin. dari dua golonga ini yang paling panik menghadapi situasi seperti ini adalah orang kaya. orang kaya semakin pusing memikirkan nilai uangnya yang semakin menciut. mulailah mereka mencari akal agar nilai uangnya tidak menciut, dengan cara membeli USD dalam jumlah besar. rupanya ini yang semakin membuat USD menghilang diperedaran pasar yang menjadikannya melonjak naik.

Sekarang yang terlihat pusing adalah orang yang memiliki uang banyak direkening dan disejumlah bentuk aset yang lain. bisnis jadi lesu gara-gara krisis ekonomi, banyak penganguran-penganguran baru. Padahal orang-orang kaya itu sudah memiliki kekayaan berlimpah tapi kenapa masih aja pusing, masih aja tidak pernah bersyukur dengan keadaan yang sekarang. Walau terlihat sederhana tapi gaya bicara tetap saja meninggi, sombong dan angkuh. Wajar sih, mereka kaya, ya mereka mau menunjukan kekayaaanya, tapi hal ini yang membuat kita bertanya-tanya kenapa mereka masih saja pusing?, sedangkan kekayaan milyaran Rupiah terdapat di dalam rekening beberapa bank nasional. Bahakan ada orang yang kaya uangnya milyaran, datang kesebuah bank dan dia komplain “saya gak pake kartu kredit, kok saya dikenakan biaya 16.000?, wah gak bener ini, saya dirugikan ini.” dengan nada meledak-ledak seperti orang yang abis makan sambel pedas. Padahal kalau memeang dia orang yang kaya uang 16.000 itu tidak ada apa-apanya, kecil gak perlu marah-marah atau emosi tinggal bayar saja kok repot. Timbul pertanyaan “Anda orang kayak kah?”.

Orang -orang miskin yang jauh sangat berbeda keadaanya, yang hidup saja masih memikirkan, adakah makanan untuk esok hari. Mereka saja masih tenang-tenang saja dan masih bisa bercanda dengan anak dan tetangga mereka, gak peduli dengan dolar naik, krisis global dan prekonomian nasional, bahkan mereka masih bisa menertawakan orang-orang kaya yang sedang pusing dan sedang bingung uangnya mau dikemanain. Bagimereka kehidupan ini harus dijalanin dengan senyuman dan dengan kelapangan hati menerima apa yang dikehendaki Tuhan.

Kaya itu memang perlu, kaya hatilah yang sangat diperlukan bagi setiap manusia. Banyak yang hanya kaya harta tapi tidak kaya hati, rasa tidak puas mereka membuat mereka hina dihadapan orang lain. orang miskin yang kaya hatinya akan lebih tenang dalam menghadapi kehidupan ini dari pada orang kaya yang miskin hatinya. Usman Bin Affan adalah orang yang terkaya dijaman Nabi Muhammad, kekayaanya sanggup membeli wilayah di Arab. Dia bingung dengan kekayaannya, karena sudah di keluarkan begitu banyak untuk umat Islam tapi dia malah mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Lain halnya dengan orang kaya sekarang, yang takut uangnya habis padahal uangnya hanya disimpan tidak dikeluarkan untuk sedekah dan ibadah.

Advertisement

Kalau pun harta kita kita gunakan untuk sedekah kita gak pelu pusing-pusing lagi mengamankan harta kita. Bukan kita lagi yang mengamankan harta, tapi harta yang mengamankan kita. Banyak-banyaklah member dan berbuat baik kepada orang yang tidak mampu, itu akan buat kita semakin kaya dan tidak pusing. Bagi yang belum beruntung memilki kekayaan milikilah rasa kaya hati dan iman agar kita selalu bersyukur atas pemberian yang maha kuasa kepada kita.

By: OrangBiasaAJJA