Yang Terhormat Ayah Kekasihmu—yang adalah Ayah Kandungku

Anakmu adalah perempuan terpilih yang beruntung menemukan suami seperti dia, mantan kekasih saya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya padamu, saya ingin memanggilmu ‘ayah mertua’ juga. Sama seperti mantan kekasihku memanggilmu. Salam hangat untuk anak dan calon menantu barumu, dari saya: seorang wanita hina yang pernah berbahagia.

Ayah mertua, sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kelancangan ini. Saya hanya ingin berbagi cerita kepadamu, bahwa saya pernah bahagia bersama dia: menantumu. Tenang saja, Ayah mertua tidak perlu khawatir atau cemas. Saya tidak akan sedikit pun mengganggu hari pernikahan puteri yang sangat engkau sayangi dan cintai di dunia ini.

Percayalah! Saya pasti datang pada pesta pernikahan anakmu nanti, di hari bahagia keluargamu. Saya akan hadir bersama gaun dan senyum terbaik yang saya miliki. Setidaknya, saya ingin melihat tunangan saya (di dua tahun lalu) mengenakan baju pengantin. Meski saya tahu itu bukanlah untuk saya, melainkan untuk anakmu yang juga adalah adik kandungku.

Yang Berbahagia Calon Istrimu: Adik Kandungku

Engkau adalah perempuan saleh kedua, yang pernah kukenal selain ibu kita yang kini ada bersamaku. Tak pernah sedikit pun kuingin menyakitimu, adik kandungku satu-satunya. Tak sedikit pun kuingin memberitahumu bahwa dia (yang akan menjadi suamimu dua bulan lagi) adalah tunanganku. Iya, dua tahun lalu. Sebelum aku mengendap bak lumpur kotor di dalam jeruji mati ini.

Percayalah padaku wahai adik mungilku. Dia adalah lelaki setia kedua yang kukenal selain ayahku, ayah kita. Setengah tahun pertamaku menjalani hukuman, dia lah yang selalu setia menguatkanku. Saat aku benar-benar merasa sendirian layaknya berdiri di tengah padang tandus, tanpa kenal siapa pun. Apakah dia membenciku? Apakah dia menganggap aku hina? Tidak, adikku! Dia bahkan setia menjadi penopang perih teramatku.

Dear Kamu, Tunanganku Sekaligus Calon Suami Adikku!

Advertisement

Masihkah kamu seperti yang kukenal dahulu? Pendiam dan memiliki mata indah. Ingatkah kamu saat aku dan bulan menertawakan saat kamu benar-benar putus arang mempertahankan kebenaran tentangku? Meski phonograph alam yang kini memisahkan kita. Aku yakin, kamu adalah satu-satunya insan bumi yang paling percaya bahwa aku bukanlah seorang pembunuh. Demi Tuhan mana pun, aku berani bersumpah bahwa aku bukan pembunuh anak majikanku. Saat itu, aku menemukannya sudah tak bernyawa dan tergeletak di samping lemari es.

Kamu adalah pria keras kepala yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Jika boleh jujur, kepala batumu itu tak pernah terharga oleh apa pun yang ada di dunia ini. Kamu menghiburku, membuka pikiranku, dan kamu pernah mengatakan bahwa aku adalah pahlawan devisa bagi negaraku. Bohong! Jika aku pahlawan, setidaknya ada yang menjamin keselamatan hidupku kini. Tapi apa? Hanya kamu yang ada di sini, menemaniku bahkan hingga hari terakhirku.

Tahukah kamu? Awalnya aku sempat gugup dan takut pada hari terakhirku bernapas. Tetapi rasa itu terkalahkan oleh besarnya rasa ikhlasku. Menelan kenyataan bahwa hidupku berakhir pada sebilah pedang ajudan.

Akhir hidupku adalah mencintaimu.