Harus bagaimana aku memulai?

Ucapan terima kasih yang tulus dariku, ataukah makian yang tersembunyi dalam tetesan air mata….

Katamu, aku perempuan yang sangat kuat. Maka aku memulai dengan ucapan terima kasih.

Terima kasih telah mengalihkan dunia gilaku darinya ke duniamu, meskipun lebih kejam, tak mengapa, aku sudah lebih gagah karena kau memukulku dengan paksa kepala yang penuh dengan romansa indah tentangnya. Aku bersyukur waktu itu. Setidaknya aku bersama orang yang sudah kukenal.

Terima kasih, telah menumbuhkan kepercayaanku pada lelaki Indonesia, pun tak kalah romantisnya dengan lelaki di drama korea. Terima kasih, telah membuatku merona kembali meski kelelahan yang kubayar seakan membuat tulangku rontok semua. Terima kasih, membuatku mengenal kota ini lebih jauh, banyak sisi indah yang tidak kukenal. Terima kasih, telah menempa mentalku, terima kasih telah menguji kewarasanku. Terima kasih tetap menjadi temanku, meskipun aku harus bekerja denganmu sebagai imbalan pertemanan dan pertemuan.

Advertisement

Hanya saja, aku kesal dengan percaya dirinya kau mengikat hatiku, dan dengan memelasnya kau memotongnya dengan tiba-tiba. Seolah-olah kau yang paling menderita di dunia, kau minta untukku bersabar dan merelakan. Kau membuatku gila setelah kau pinta aku mencoba jalin dengan yang lain saja. Kau menjauhiku saat kau tahu aku tertatih mengelap air mata. Kau datang lagi saat kau rindu dan memerlukan bantuanku, dengan rona merah dan senyum merekah.

Hanya saja, aku marah pada diriku. Setiap saat kau mengingatkanku bahwa kita tidak bisa bersama. Kita hanya bisa berteman tapi mesra kita hanya bisa biasa-biasa saja. Kita hanya bisa mengenal seperti biasa. Kita adalah dua orang yang harus melupakan kejadian syahdu di tepi laut.

Hanya saja, akhirnya aku memilih mendoakanmu dan tetap berteman denganmu. Berteman yang sewajarnya. Menutup erat rasa getaran yang kadang muncul jika terlalu lama bersama. Setiap hari aku berkata, kau adalah temanku, maka kejadian sesaat yang sempat kita buat adalah salah satu dinamika pertemanan. Aku harus meyakinkan diriku sendiri dan membujuk hati ini agar lebih kuat untuk tidak terjatuh lagi.

Ya sudahlah. Sudah berhari-hari aku terlena dengan kebingungan tentang kisah ini. Inilah batas akhirku. Mungkin cinta, mungkin saja hanya percik biasa karena biasa.

Ya sudahlah. Sudah lama aku memaafkan keteledoran kata-katamu. Bukankah sudah kukatakan hati ini amat rapuh dengan sikap dan kata lembut, hati ini akan berjuang sekuat tenaga ketika ada sinyal cinta yang dikirimkan. Jadi hampir mati aku meyakinkan hati agar berhati-hati dengan sinyal apapun yang masuk. Kamu jangan begitu lagi ya, teman….

Ya sudahlah. Sepertinya aku sudah terbiasa dengan kisah ujungnya. Aku hanya ingin tidak ada dendam diantara kita, tidak ada janji yang harus ditagih dan tidak ada tangisan pengharapan lagi. Selamanya teman, tidak mengapa.

Ah, susahnya, jika selesai tanpa masalah, aku sering berharap kau putus saja dengannya, kembali padaku untuk selamanya. Maaf ya.

Mungkin aku harus buat cerita baru, selesai tanpa masalah. Ada tapi tidak ada, itulah pertemanan antara laki-laki dan perempuan.

Bukankah tidak ada sesal diantara kita?

Ya sudah. Aku hanya bisa memohon pada-Nya, mengubah rasa yang dulu sedikit tercemar dengan kata "cinta" menjadi rasa kesetiakawanan. Aku harus sadar. Nyatanya aku tidak peduli kau anggap aku apa.