Dear Kamu,

Mungkin kamu berpikir, untuk apa aku repot-repot mengurusi kehidupanmu. Mungkin, kamu pun merasa tidak ada seorang pun didunia ini yang berhak mengatakan apapun tentang pola pikirmu. Karena kamu adalah korban dari keadaan, korban dari kesalahan yang dilakukan oleh orangtuamu.

Ya, memang benar. Tidak ada seorang pun didunia ini yang berhak ikut campur pada kehidupan orang lain. Namun, inilah bentuk kepedulianku padamu. Apakah aku harus diam melihatmu menghancurkan hidupmu, hanya karena pola pikirmu yang tidak pada tempatnya?

Dear kamu,

Sebelum membaca tulisan ini, hilangkanlah semua kekeraskepalaanmu itu. Aku tidak berniat untuk menghakimi atau berusaha mengatur hidupmu. Aku hanya ingin membuatmu menyadari semua yang kamu lupakan. Semua hal yang sebenarnya kamu tahu, tetapi dengan keras hati selalu berusaha kamu sangkal.

Advertisement

Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing, dengan ujian-ujian kehidupan yang berbeda pula. Memangnya kenapa bila keluargamu bukanlah keluarga yang sempurna? Tidak semua keluarga yang kurang sempurna, melahirkan seseorang yang tidak sempurna pula.

Begitu pula, tidak semua keluarga yang sempurna, melahirkan seseorang yang sempurna.

Aku tahu, jalan hidupmu memang tidak mudah. Aku pun tahu, kamu selalu menyalahkan kedua orangtuamu untuk kehidupanmu yang sulit, yang berbeda dengan teman-teman seusiamu.

Namun, pernahkah kamu berpikir, kehidupanmu sekarang juga karena pilihan-pilihan yang sudah kamu ambil kemarin? Ketika kamu lebih memilih untuk tidak bersekolah dengan baik, saat orangtuamu sudah bersusah payah menyekolahkanmu disekolah yang baik? Ketika orangtuamu selalu mencoba mengingatkanmu, tetapi kamu selalu menganggap omongan mereka sebagai angin lalu?

Kehidupan kita saat ini, memang ditentukan oleh takdir, dan juga ditentukan oleh pilihan-pilihan yang sudah kita ambil selama hidup kita.

Keberhasilan, tidak hanya dinilai dari sekaya apa dirimu, sepintar apa dirimu, setampan/secantik apa dirimu. Keberhasilan adalah ketika kamu mampu selalu ada disaat orang-orang disekitarmu membutuhkanmu.

Kamu bukanlah orang yang gagal. Usiamu masih sangatlah panjang untuk mencapai semua kesuksesan yang kamu inginkan. Maka dari itu, berhentilah meratapi masa lalu. Berhentilah menganggap dirimu adalah korban.

Sekarang, bukan lagi saatnya orangtuamu memenuhi semua kebutuhanmu. Sekarang, saatnya kamu mencoba meringankan semua beban mereka dengan seluruh kemampuanmu.

Dear kamu, semakin bertambahnya usiamu, semakin bertambah tua pula kedua orangtuamu. Kamu adalah anak sulung mereka. Wajar bila mereka menjadikanmu sebagai tumpuan harapan.

Coba sekarang perhatikan orangtuamu. Apakah kamu tega melihat mereka masih bekerja begitu keras diusia yang tak lagi muda?

Saat ini, kamu pun sudah berhasil memiliki penghasilan sendiri. Itu adalah salah satu contoh kecil keberhasilanmu. Namun, ketika penghasilanmu habis sebelum waktunya, tegakah kamu meminta sedikit uang kepada mereka untuk kebutuhanmu? Padahal, mereka pun tidak mencicipi hasil kerja kerasmu itu.

Bila saat ini kamu sedang bersenang-senang dengan teman-teman, atau mungkin dengan kekasih hatimu, coba pikirkan sejenak, apa yang sedang dilakukan orangtuamu. Sanggupkah kamu tidur dengan nyenyak, ketika kamu tahu, orangtuamu masih saja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya disaat yang sama?

Usiamu memang masih muda. Disaat teman-teman seusiamu masih bersenang-senang untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, kamu sudah harus belajar untuk mencari rezeki. Memangnya kenapa? Toh, suatu saat nanti, kamu pun bisa memiliki status sebagai mahasiswa. Apakah kamu tidak tahu, nikmatnya kuliah dengan menggunakan hasil keringatmu sendiri?

Dan nantinya, ketika teman-temanmu bersusah payah mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, setidaknya kamu sudah memiliki pengalaman bekerja yang akan sedikit memudahkanmu untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Dear kamu,

Mungkin kamu pernah merasa iri melihat motor ataupun mobil bagus milik teman-temanmu. Apakah kamu tahu, mobil itu bukanlah milik mereka, melainkan milik orangtua mereka. Mereka tidak pernah merasakan kenikmatan membayar cicilan bulanan motor atau mobil itu dengan keringat mereka sendiri.

Bagaimana denganmu? Tidakkah kamu bangga ketika melihat motormu, milikmu sendiri? Yang berhasil kamu beli dengan hasil jerih payahmu? Itulah salah satu contoh lain keberhasilan kecilmu.

Aku hanya ingin mengingatkanmu, bersyukurlah untuk semua proses kehidupanmu. Tidaklah pantas bila kamu terus menerus merasa hidupmu hancur hanya karena beberapa kejadian dimasa lalu.

Bila kamu masih merasa dirimu adalah korban keadaan, bagaimana dengan adik-adikmu? Bukankah diusia mereka yang jauh lebih muda daripada kamu, mereka jauh lebih pantas bila disebut korban dibandingkan kamu sendiri?

Sebagai kakak tertua, bukankah kamu pun memiliki tanggung jawab moral pada adik-adikmu?

Bagaimana perasaanmu ketika melihat adikmu yang sedang dalam masa peralihan menjadi remaja, berusaha untuk meringankan beban orangtuamu disaat kamu tidak berpikir untuk melakukan hal itu?

Bagaimana perasaanmu ketika melihat adikmu yang masih sangat kecil, menahan kantuknya karena ingin memijat ibumu yang kelelahan karena bekerja? Padahal saat itu, kamu lebih memilih untuk tidur dengan alasan, kamu pun sedang lelah.

Dear kamu,

Masihkah kamu merasa dirimu sebagai korban keadaan? Tanyakan pada hatimu, apa yang sudah kamu lakukan untuk keluargamu? Untuk orangtuamu, untuk adik-adikmu?

Pernahkah kamu mencoba bertanya pada adik-adikmu, kesulitan apa saja yang mereka alami?

Maaf, tetapi aku ragu kamu pernah melakukan hal itu. Karena, dengan semua pola pikirmu tentang dirimu sebagai korban, kamu hanyalah akan berpikir tentang penderitaanmu sendiri. Kamu telah menjadi orang yang egois.

Sampai kapan kamu akan bersikap sebagai orang yang egois pada keluargamu? Bukalah matamu, perhatikan setiap anggota keluargamu. Cari tahulah, setiap kesulitan yang dihadapi oleh orangtuamu, yang dihadapi adik-adikmu.

Kamu akan sangat menyesal bila terlambat.

Kamu sudah menjadi seorang yang dewasa, berpikirlah secara dewasa pula.

Setiap ujian yang diberikan Tuhan kepada kita, tak lain untuk membimbing kita menjadi orang yang lebih kuat. Ini hidupmu, kamu pula yang berhak memilih. Apakah kamu ingin terus menerus menjadi orang yang egois, selalu berkubang dalam lumpur masa lalu? Ataukah kamu akan mulai mengubah dirimu menjadi orang yang berhasil, orang yang selalu sanggup ada untuk orang-orang yang menyayangimu?

Kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu. Namun, masa depan kita, bergantung dengan pilihan-pilihan hidup yang kita ambil saat ini.