Yang paling tak terlupakan dari malam itu adalah gerimis di Rabu malam dan gemerlap Alun-alun Kapuas yang menari-nari di antara genangan madu pada senyumanmu. Ini adalah kali pertamanya kau melakukan kesalahan terindah yang kuyakin kau pun tak sesali—kau membuatmu tersenyum kembali.

Telah sekian lamanya aku menunggu sebuah pertemuan ini. Kamu tak setampan orang-orang seperti biasanya. Rambut cepak yang biasanya kamu angkat berdiri dikepala membentuk jarum kecil yang membingkai wajah sayu-mu. Aku sudah sangat merindukan senyum sendu itu, jorokan hidung mancung yang lama kupandangi itu membalut di antara mata dan bibirmu—tampan.

Begitukah definisi tampan? Ah, bukan. Bukan itu yang kumaksud. Meski kau tak tampan sekali pun, hati ini telah berlabuh pada pelabuhan yang tidak salah.

You brush away this loneliness from me.” Aku mencoba tenangkan hati, mencoba menahan desahan ini dengan berbisik lembut.

I need you here with me.” Kau memelukku dengan sejuta rindu.

Advertisement

Sebentar. Hanya sebentar saja semua berlalu penuh kenangan. Bahkan kau tak sempat menjadi kekasihku.

Kenangan: Snapshoot Rencana Tuhan Untuk Aku dan Kamu Yang Tak Sempat Menjadi ‘Kita’

Berawal dari ketakutan, hal inilah yang aku rasakan malam ini. Kala semilir angin mulai menghembus hingga merasuk sanubariku. Aku tertatih menahan rasa hati yang mungkin tak akan pernah orang lain tahu, bahkan mungkin tak pernah orang lain rasakan. ini adalah ketakutanku, bukan ketakutan orang lain. Sudah pasti perih dan menghujam dasar hati. Bagi orang lain mungkin ini hanya hal sepele yang tak perlu dipermasalahkan. Tapi sekali lagi ini masalah hati, hanya aku yang dapat mengerti isi hatiku sendiri.

Disela rasa ini, yang senantiasa menggerayang kenangan manis saat-saat bersamamu. Waktu yang kita lalui bersama kemesraan. Saat pipiku menjadi bahan curianmu setiap aku lengah. Saat keningku selalu menjadi pendaratan ter-erat bibirmu—kau kecup erat. Memasak bareng yang membawa kemesraan itu larut dalam goresan tinta hati yang tak akan mungkin pernah terhapus oleh apapun, termasuk guliran waktu.

Jujur, aku merindukan kemesraan itu. Candamu, tawamu, senyum manismu yang membuatku tak pernah lupa kala menjelang pagi. Sering kubenci pagi, dan mungkin hingga saat ini aku masih menyimpan benci itu untuk pagi. Tapi, entah kenapa di hari ini hanya pagi yang menggoreskan kenangan manis itu bersama kita. Terima kasih atas pagi ini.

Kehilanganmu Adalah Ketakutan Terperih Yang Belum Kurasakan Sebelumnya.

Inilah ketakutan yang aku maksud. Ketakutan akan kehilangan. Ketakutan akan pagi yang akan membawa kenangan itu pergi kembali. Aku takut, sangat takut. Aku masih belum sanggup kehilangan dia, aku masih belum sanggup hadapi pagi itu sendirian tanpa dirinya, aku masih belum sanggup untuk lebih membenci pagi yang baru saja ingin ku berdamai. Entahlah, aku tak tau sampai kapan rasa takut ini membayangi pagiku, yang aku tau saat ini, cinta, sayang dan kenangan yang kini tercipta antara aku dan dia telah menjadi warna dalam kisah pagi yang tak akan pernah kulupakan.

Jika Seandainya Ada Reinkarnasi di Kehidupan Berikutnya, Aku Berharap Tak Dipertemukan Lagi Denganmu

Menyingkapkan tirai jendela hati ini—Hening, damai. Entahlah. Bahkan aku sendiri tak mampu definisikan rasa ini. Mungkin saja ini hanya perasaan aku yang masih belum sepenuhnya melupakan masa lalu. Iya, dia yang dulu selalu menyita banyak ruang di otakku, dan aku pun tak tahu harus berapa lama lagi merasakan rasa sakit yang terpendam jauh di lubuk hati yang terdalam. Mungkin selamanya—selama cinta tetap tumbuh antara kita.

Untuk masa lalu. Aku memang tak boleh menyalahkan siapa pun. Bila aku harus menyalahkan seseorang, sudah pasti orang yang pertama itu adalah Diriku sendiri. Bahkan aku tak bisa menyalahkan Tuhan mau pun dirimu yang kini telah menjadi kenangan.

Aku tahu Tuhan mempertemukan aku dan dia (dulu) itu pasti menyimpan suatu rahasia yang tak bisa ditebak siapa pun. Mungkin Tuhan memang belum mempertemukanku dengan seseorang yang tepat. Aku hanya berharap tak akan mengulang kembali kesalahan di masa lalu.

Sudah terlalu lama, sudah terlalu sakit. Jika seandainya ada reinkarnasi di kehidupan berikutnya, aku berharap tak dipertemukan lagi denganmu—sosok yang pernah menjadi seseorang paling spesial dalam hidup.