Tak disangka memang. Kau dulu yang kubanggakan di depan teman-temanku, aku yang menerima semua kata-kata remeh dari teman-temanku tentang jenis hubungan kita, aku yang selalu menguatkan diriku bahwa kita pasti bisa seperti pasangan-pasangan lain yang mampu bertahan lama hingga berakhir di pelaminan, aku yang sudah sangat berbahagia saat bersamamu walau kita terpisah jarak.

Namun itu semua hanya angan yang tak mampu dinyatakan dalam hidup ini. Sepertinya, kita memang tidak berjodoh sayang. Aku sebenarnya tidak akan sedih jika seandainya kita berpisah dengan saling mengucapkan selamat tinggal. Tapi kau melanggar kata-katamu. Kau bahkan tak mengucap satu kata pun saat pergi. Kau menghilang sampai waktu ini. Aku menghubungimu namun tak ada balasan.

Ya, sudahlah. Mungkin kau sudah tidak sanggup menjalani hubungan jenis ini. Atau mungkin dari diriku yang tak bisa kau terima kekurangannya. Kau tahu bukan? Bahwa hanya orang hebat yang mampu menjalani ini. Tapi, maaf. Kukatakan bahwa kau tidak sehebat yang aku kira. Padahal kita bisa bersama-sama menjadi orang hebat itu. Memamerkan kepada semua orang di dunia bahwa cinta sebenar-benarnya cinta yang terpisah jarak sejauh apapun, mampu bertahan walau dihantam badai gelombang.

Tapi ternyata kita gagal menjadi sepasang orang hebat itu.

Seindah apapun aku merangkai ceritaku, tetap Tuhan yang memiliki penghapusnya dan menulis ulang skenario hidupku dengan milik-Nya.

Advertisement

Hati ini yang dulu kau tanami benih cinta, kau siram dengan air kasih sayang, namun sekarang kau tinggalkan begitu saja ketika sudah berbunga. Bohong ketika aku katakan bahwa aku baik-baik saja. Siapa di dunia ini yang baik-baik saja ketika ditinggalkan? Apalagi ditinggal pergi tanpa kabar. Tak dapat kutolak takdir ini. Hal itu sudah di tulis Tuhan di naskah kehidupanku. Tuhan menghapus bagian skenario indahku dengan mengubahnya dengan skenario sedih milik-Nya.

Aku sudah bergelar ‘master’ dalam hal disakiti. Sakit memang luka yang kau silat di hati ini. Aku tidak marah pada Tuhan karena beginilah cara-Nya menyayangiku. Ada saja ide cerita-Nya yang Dia tulis di buku kehidupanku. Termasuk memasukkanmu di dalamnya. Sesak memang ketika mengetahui cerita indah kita hanya sementara dan tiba-tiba saja sudah berakhir.

Chip memori dalam kepala ini hanya terisi sedikit file tentang kenangan kita. Mengingat bahwa kita bahkan belum sempat bertatap muka, melihat wajah dari jarak yang dekat, dan saling memanjakan satu sama lain. Kenangan yang ada hanyalah saat kita masih sering berkomunikasi via chat di awal-awal perkenalan. Beberapa bulan hubungan kita yang masih berkomunikasi intens, saling mengucapkan ‘I love you’, kau yang memanjakanku dari jarak yang jauh.

Aku masih tersenyum ketika mengingat hal itu. Namun sedetik kemudian, ujung garis bibir ini melekuk turun saat mengingat kau yang tiba-tiba menghilang tiada kabar hingga saat ini.

Untukmu Mr. Wrong, whatever and whenever you are, be a good one for your love!

Kupikir kau adalah aktor utama yang berperan penting di kehidupan masa depanku. Namun, ternyata aku salah. Kau hanyalah salah satu pemeran pembantu dalam skenario hidupku, yang pernah mengisi beberapa lembar naskah kehidupanku. Darimu, aku menerima lagi satu pelajaran hidup yang merubah sikap dan mampu menyadarkanku. Tidak. Aku tidak ingin berterima kasih kepadamu.

Aku berterima kasih kepada Tuhan. Dia menyayangiku yang lemah ini dan membuatku menjadi kuat dengan memasukkanmu ke dalam hidupku sebagai pelajaran hidup. Bukan sebagai pembawa berkah. Namun aku berharap, di manapun Tuhan memasukkanmu ke dalam kehidupan seseorang, tolong jadilah yang terbaik bagi orang itu. Tidak ada ruginya menjadi yang terbaik. Tidak perlu menjadi yang terbaik di dunia. Cukup menjadi yang satu-satunya terbaik di hati seseorang.

Salam jauh dariku,

Your Mrs. Wrong