Hai kamu yang membuatku susah lupa…

Sepertinya aku tak perlu bertanya kabarmu, dari percakapan kita yang lalu aku yakin kamu baik-baik saja.

Sakitnya perpisahan beberapa bulan lalu masih menancap kuat di hatiku.

Saat pikiran terbelenggu emosi, ketetapan hati untuk bertahan hancur dengan satu kata pergi.

“Masih bisakah kita bertahan?” tanyaku dalam sendu.

“Maaf, aku sudah tak bisa berusaha lagi. Usahaku cukup sampai disini saja” jawabmu sambil menatapku tanpa pilu.

Aku berharap kamu dan aku masih bisa menjadi kita

Setelah perpisahan malam minggu itu, kamu dan aku mencipta jarak beberapa waktu. Lalu ku putuskan menghubungimu kembali, memastikan masih adakah aku di hatimu.

Advertisement

Kenyataan yang ada, kamu justru menolak saat ku ajak berjuang bersama memperbaiki semua. Tapi cinta ini tetap kusimpan dan kenangan tentangmu tak akan berdebu.

“Aku masih disini, tak pergi kemana-mana”

Aku tak bisa apa-apa selain tetap berusaha. Jauh di lubuk hati ini, aku masih berharap kamu dan aku bisa menjadi kita.

Dari percakapan kita, dapat ku tangkap kabar bahwa kini kamu lebih bahagia.

Kamu dan aku hidup di lingkungan pertemanan yang sama. Jadi mau tak mau harus terhubung dalam banyak suasana. Kita mencoba senormal mungkin di hadapan orang lain, meski hati perih sendiri saat kita tak sengaja bertatap mata.

Suatu malam, kita tergabung dalam obrolan yang sama. Kamu terlihat bahagia menceritakan berbagai hal yang dulu tak sempat dilakukan saat bersamaku. Kamu bercerita asiknya mendaki gunung, lelahnya menjadi penanggung jawab kompetisi olahraga hingga organisasi baru yang menjadikan lebih bersemangat menunut ilmu.

Aku hanya tersenyum simpul dalam diam. Kini kamu jauh lebih berkembang….

Lalu aku merenungkan “Haruskah aku tetap berusaha?”

Masih pantaskah aku berjuang mendapatkanmu kembali, saat kamu justru bahagia tanpa aku? Sejahat ini kah aku yang memaksa kamu dan aku harus menjadi kita? padahal kamu sudah bahagia dengan duniamu yang tanpa aku?

Aku hapus semua keegoisan dan ku hentikan usaha memintamu kembali. Aku tak ingin mengikatmu dalam usahaku. Aku berhak berusaha, tapi kamu juga berhak bahagia.

Kini aku mengerti, ini pasti yang terbaik menurut Tuhan.

Kamu lebih bahagia di kehidupanmu sekarang. Walaupun kebaikan untukku atas perpisahan ini belum ku temui, semua berusaha ku syukuri. Kuucapkan terimakasih pada Tuhan yang pernah menjadikanku bagian hidup orang sehebat kamu.

Bukan aku menyerah, tapi bagiku melihatmu bahagia sudah cukup. Karena sejak dulu bahagiamu yang selalu ku perjuangkan, dengan ataupun tanpa aku.

Dari

Aku yang kini bahagia atas kebahagiaanmu