Ayolah, kalian bukan orang bodoh kan? Mau kalian injak, buang, jepitin di ketek, ataupun kalian puter, jilat terus dicelupin, memangnya perusahaan itu peduli? Bagi mereka kalian tetap membelinya, dan tetap memberikan keuntungan bagi mereka. Terlepas apa yang kalian lakukan setelah membeli? You can do whatever you want, They don’t give a f*ck!

Sebagai muslim saya cukup KZL dengan klarifikasi dari pihak Sari Roti –yang terkesan menganggap aksi super damai 212 kemaren tidak Nasionalis dan tidak turut serta menjaga keutuhan NKRI. Namun, sebagai mahasiswa Teknologi Pangan saya lebih marah dan jengkel ketika orang-orang dengan seenak menginjak-injak makanan. Kalian ngaji?

Kalau kalian bener-bener ngaji, setidaknya kalian taulah arti al-maidah itu apa? Hidangan cuy! Dan ketika kalian menginjak roti itu sebenarnya kalian telah menginjak-injak Al-Maidah. Secara harfiah!!

Sorry agak emosi nih hehe..

Hmm kalau masalah boikot. Aku setuju!! Pake banget malah! Tapi jangan nanggung.. Boikot semua produk roti sekalian dah~

Advertisement

Soalnya roti –terserah mau Sari Roti kek atau Syar’i Roti kek, sama aja- terbuat dari gandum. Yap gandum yang merupakan komoditas bukan asli Indonesia.

Bukan masalah sok lokal atau gimana sih. Tapi kalau bahan bakunya aja udah diimpor dari luar negeri, gimana kita mau bilang kalau kita turut membantu menjaga Nasionalisme?

Lha wong kedaulatan pangan kita aja ga bisa tercapai karena sudah ketagihan Impor. Padahal kedaulatan politik bisa terwujud di atas terwujudnya kedaulatan pangan.

Selama kedaulatan pangan belum di tangan, keberadaan NKRI masih belum selayaknya aman.

NKRI akan selalu dibayangi ketakutan apabila Negara-negara supplier bahan pangan kita akan meng-embargo. Hasilnya mau tak mau kita akan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Terpaksa mau melakukan apa saja untuk mereka asalkan suplai makanan kita tetap dipenuhi. Miris ndes!

Btw kalau bicara dari sudut pandang Teknologi Pangan, kita taulah bagaimana efek-efek negatif roti seperti kandungan Gluten yang memicu beberapa penyakit seperti Celiac Disease, Non Celiac Gluten Sensitivity, Wheat Allergy, Gluten Ataxia, dan Dermatitis Herpetiformis. Belum lagi kandungan gizi roti yang hanya karbohidrat dan minim protein lemak dan vitamin.

Selain itu kandungan fruktosa berlebih sebagai pemanis yang sering kali digunakan pada pembuatan roti bisa bikin Diabetes. Apalagi penggunaan pengawet Kalium Propionat yang jika berlebihan bisa membuat Attention Deficit Disorder atau ganguan kesulitan berkonsentrasi pada anak. (kalau kalian ga mudeng pada paragraf ini, iyain aja dah)

Huft, kebayang ga sih penyakit-penyakit degeneratif yang bakal bermunculan jika masyarakat kita membiasakan roti sebagai makanan pokoknya.

Oleh sebab itulah, yhaa saya selaku rakyat jelata hanya bisa menghimbau masyarakat buat BOIKOT PRODUK ROTI.. Kalau terlalu keras, yaudah mulai kurangi konsumsi roti aja deh hehe.

Kembalilah ke ajaran leluhur kita. Konsumsi pangan hasil bumi kita sendiri. Indonesia itu kaya guys. Walaupun ga bisa nanem gandum, kita masih bisa makan Growol, Tiwul, Gethuk, Grontol, Gatot, Papeda, Nasi Jagung, Bubur TInutuan,dan masih banyak lagi.

Terus tiba-tiba ada yang nanya..”Tapi kan kalau kita boikot produk sari roti, ga kasian sama penjualnya mas?”

Hlah? Kok sekarang jualan cerita sedih..

Hmm memangnya kalian ga kasian sama karyawan pabrik rokok ketika pada melakukan kampanye anti-rokok? Kalian ga kasian sama pedagang di pasar tradisional ketika pembangunan Minimarket gila-gilaan dilakukan? Bahkan kalian ga kasian sama UMKM roti kecil-kecilan yang gulung tikar karena produk Sari Roti menguasai pasar?

Sebuah tindakan pastilah akan memiliki dampak negatif di salah satu sisinya.Tak bisalah kita membuat senang semua pihak.

Namun, yang paling berbahaya adalah ketika kita tidak percaya kalaupun Sari Roti atau produk roti yang lain diboikot, para penjual itu tetap bisa makan?? Hal ini berarti kita sudah menistakan Allah. Menistakan Al-Quran.

Bukankah Tuhan sudah menjamin rezeki setiap hambanya bahkan sampai hewan yang melata di muka bumi in? Think again!

AW Fatkhurrochman
InsyaAllah masih muslim.