Menjadi seorang kaum minoritas memang tidak mudah, apalagi minoritas secara ras di Asia yang menurut saya cukup rasis kalau sudah bicara tentang warna kulit. Lahir dari rahim perempuan berdarah Jawa-Sunda dan Ayah berdarah pure Afrika menjadikan Saya sebagai orang Indonesia dengan fisik orang Afrika. Atau dengan kata lain Saya ini Blasian (Black-Asian). Orang-orang sering sekali salah mengira dari mana saya berasal, Ambon, Papua, Timor, sepertinya semua daerah timur sudah mereka sebutkan semua.

Saya tumbuh di lingkungan menengah kebawah di mana kebanyakan orang-orang yang saya kenal poorly educated dan yah, menjadi minoritas di lingkungan keluarga yang seperti ini sudah pasti berat. Sering sekali Racist Remarks yang saya dapatkan datang dari anggota keluarga sendiri, yang tentu saja semua itu Supposed to be a joke (menurut mereka). Mereka tanpa sadar telah mem-bully anggota keluarganya sendiri karena saya merasa di-insult di sini, orang yang mereka jadikan bahan joke tidak menganggap apa yang mereka lakukan itu lucu. Ingin sekali rasanya memberi edukasi secara subtle terhadap mereka tetapi sering kali rasa sakit hati dan amarah saya memuncak dan saya lebih memilih diam jika sedang dalam keadaan seperti itu.

Hal ini sangat problematic, jika seseorang meresa dibedakan dan teralienasi bahkan dari keluarganya sendiri, bagaimana mereka akan bertahan di dunia luar? Selama ini saya sudah banyak menerima verbal bullying semenjak di bangku SD, saya memang tidak melihat itu sebagai hal yang harus dipedulikan dulu, namun sekarang saya sadar bahwa hal itu dan bagaimana saya bereaksi dapat berpengaruh terhadap psikologi saya. Saya cukup beruntung memiliki teman dekat saat di sekolah yang selalu ada di samping saya kemanapun kami pergi, inilah yang membuat saya mampu bertahan. Saya tidak bisa bayangkan jika saya saat itu selalu sendiri, kemungkinan besar saya akan mengalami masalah psikologi pastilah besar. Terlebih lagi, orang-orang yang loner lah yang biasanya menjadi target empuk para bullies.

Namun bagaimana jika ternyata bullies-nya adalah keluarga sendiri ? well then you should stand up for yourself. Idealnya, keluarga seharusnya tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka lewati dalam bercanda, terlepas mereka adalah keluarga ataupun teman dekat. Jika kita terus menerus diam saat ditindas, mereka akan mengira bahwa ini dibenarkan, bahwa our silences are green lights for their racist jokes. Pernah ada salah satu keluarga saya, di depan anggota keluarga lainnya, mengatakan bahwa warna kulit saya yang gelap adalah kekurangan. Banyak juga yang tertawa mendengar hal itu, namun saya satu-satunya di ruangan itu yang menunduk dengan wajah datar, tidak bereaksi apa-apa. Saya sangat marah saat itu dan saya sampai sekarang menyesal hanya bisa diam.

Jika saya bereaksi lebih keras dan stand up untuk diri saya sendiri mungkin saja dapat membantu menyadarkan mereka akan betapa racist remarks itu sangat tidak pantas, tidak sopan, dan tentunya menyakiti orang lain. Saya paham betul keluarga saya memang kebanyakan tidak teredukasi dengan baik, narrow minded dan tipikal orang yang tidak mau menerima perubahan. Mungkin dahulu kala racist jokes sangat populer di Indonesia, saya tidak tahu, namun betapa insensitif nya mereka untuk mengatakan hal itu kepada keluarganya sendiri. Mereka tidak tahu, saya yang saat itu masih berumur belasan, benar-benar berpikir bahwa saya worth less dari orang lain yang memiliki kulit lebih terang. Dan tidak ada tempat mengadu maupun ada yang datang untuk comfort saya pada saat sulit itu.

Advertisement

Saya bisa saja terkena depresi dan memiliki krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan. Namun, entah seberapa sering saya menerima bully atau seberapa parah bully itu, saya selalu dapat bangkit kembali dengan sendirinya. Belakangan saya baru sadar bahwa saya orang yang sangat berambisi dan ambisi saya itulah yang menjadi pemacu saya setiap hari untuk bersabar, terus menjadi orang yang lebih baik dan tidak pernah menyerah terhadap keadaan.

Kepercayaan saya bahwa society akan menjadi lebih baik pada akhirnya juga berperan penting dalam peningkatan kepercayaan diri saya. Saya berpikir, tidak hanya saya yang mengalami hal seperti ini dan saya harusnya bersyukur saya diberi cobaan seperti ini yang pada akhirnya membuat saya menjadi lebih kuat dan tentunya lebih sensitive terhadap orang lain. Orang-orang yang tidak peka terhadap perasaan orang disekitarnya bisa berpotensi menjadi seorang bully. Dengan dalih hanya bercanda, ia mengatakan hal-hal yang menurut orang lain sebenarnya tidak lucu dan terkesan menyakiti hati. Tapi dia tidak tahu itu, atau terkesan mengabaikan perasaan orang lain.

Untuk kalian yang berada di posisi yang sama dengan saya, bagaimana untuk menyadarkan orang semacam itu? Stand up for yourself. Itulah satu satunya cara agar orang lain menghargai kita dan tidak bertindak sewenang wenang lagi terhadap kita. I know it’s easier said than being done, tapi sampai kapan kita bisa menerima perlakuan tidak menyenangkan ini? Kita tentunya ingin punya kehidupan yang nyaman tanpa khawatir di perlakukan berbeda ataupun dicemooh orang lain. Dan karena itulah you need to be strong for yourselves. Kesampingkan rasa takut, jangan terus diam, lakukanlah hal yang menurutmu benar dan baik untuk semua pihak.