Bu, memiliki seorang suami, anak-anak yang lucu juga impianku. Aku mengerti kau juga menginginkan cucu dalam gendonganmu. Aku juga tahu, hal ini akan meringankan kecemasanmu mengenai masa depanku. Tapi, Bu, aku berbeda dengan mereka.

Bu, aku mempunyai impian yang belum terlaksana…

Aku belum memiliki pekerjaan impian, Bu. Aku belum mencecap rasanya memeras peluh.

Baru saja Ibu memintaku untuk segera menyelesaikan pendidikanku. Baru saja kurasakan kebebasan atas tugasku, merenggangkan otot-otot yang selama bertahun-tahun berkutat dengan rumus-rumus yang tak pernah kumengerti. Kini, kau memintaku lebih.

Aku tahu, Bu. Kau ingin yang terbaik untukku. Tapi, ada masanya aku menurut, dan adakalanya, aku memberontak.

Bu, aku belum pernah merasakan bercengkeraman dengan orang-orang yang tak pernah kukenal. Aku ingin menjelajahi Indonesia.

Saat aku telah dipinang nanti, kemungkinan untuk menjelajah dunia sangat kecil. Sebagai seorang perempuan, kami harus mematuhi apa kata suami. Bu, aku tak ingin menyesal nantinya dan menyalahkan semua kepadamu. Biarkan aku hidup dalam pilihanku sendiri.

Advertisement

Jangan cemaskan masa depanku, Bu. apa pun yang terjadi nanti biarkan aku yang akan menghadapi.

Bu, jodoh adalah proses. Saatnya tiba kelak, aku dengan senang hati akan menjalaninya.

Ini bukan masalah umur. Tak ada umur yang tepat untuk menikah, tapi kesiapan diri adalah hal terpenting. Proses tak diperoleh dalam sehari dua hari, Bu. Kita butuh beradaptasi terlebih dahulu tuk saling mengenal satu sama lain. Sungguh, aku tak ingin merepotkanmu. Aku sudah berusaha semampuku.

Kini, saatnya aku memilih, biarkan jodoh datang sendiri saat aku sudah pantas tuk dinikahi.