Kamu remaja dan kamu sedang mencari jati diri? Kamu bingung tentang arah hidupmu? Kamu mencemaskan masa depanmu? Ayo deh, ikut aku berselancar bersama Sean Covey yang hebat, penulis buku sekaligus inspirator yang tidak main-main. Berikut adalah tujuh kebiasaan paling efektif yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’, salah satu buku terlaris sepanjang masa!

1. Jadilah Proaktif!

Bagaimana harimu hari ini? Apa yang sedang terjadi? Orang tuamu ribut sepanjang hari di depanmu? Pacarmu memaki-makimu dan berniat memutuskanmu? Ujianmu selalu remidial dan gurumu menyebutmu sebagai salah satu siswa paling bodoh? Okelah, apapun itu, kamu harus tahu kalau semuanya balik lagi ke kamu. Kamu tidak bisa mengendalikan takdirmu kan? Tapi untungnya, kamu masih bisa mengendalikan responsmu kok! Sean Covey mengumpamakan seseorang seperti soda dan air. Begitu dikocok, soda akan mendesis dan tumpah keluar jika seseorang membuka tutupnya. Sedangkan air? Ia tetap tenang dan tidak akan keluar walau dikocok sehebat apapun. Tahu kan bedanya? Kamu boleh memilih ingin depresi, kabur dari kenyataan, putus asa dan tidak akan mencoba lagi. Atau, kamu mau memilih memperbaiki semuanya, mengampuni keadaan, dan coba lagi untuk kemenanganmu. Semuanya terserah kamu. Intinya, kamu harus memberi waktu kepada dirimu sendiri untuk berpikir sebelum merespons sesuatu!

2. Apa sih Tujuan Akhirmu?

Setiap kali kamu bangun pagi, apa sih yang kamu pikirkan? Banyak yang harus kamu pikirkan, tapi satu yang terpenting adalah soal tujuan akhirmu. Eh, apa artinya? Kamu harus punya mimpi yang jelas soal hidupmu—mau ke mana arah hidupmu, apa cita-cita dan impianmu, mau jadi apa kamu kelak. Dengan membayangkan sedetail mungkin tentang tujuan akhir, kamu jadi tahu langkah-langkah apa yang harus diambil hari ini. Apa yang harus kamu perjuangkan, apa yang harus selalu kamu lakukan, menjadi lebih jelas dan kongkrit sekarang. Ingat ya, kamu harus menetapkan impianmu sebelum orang lain yang melakukannya dalam hidupmu!

3. Utamakan yang Utama

Ini baru keren. Sudah utama, harus diutamakan pula. Sean Covey membagi hal ini menjadi empat kuadran. Kuadran satu menggambarkan orang yang suka menunda-nunda banyak hal dalam hidupnya. Kuadran ini mewakili hal-hal yang penting dan mendesak. Benar kan? Kalau sudah penting dan dilakukan di saat terakhir alias sangat mendesak, apa lagi yang pantas dikaitkan selain tipe orang yang hobi menunda pekerjaan? Oke, langsung meluncur ke kuadran tiga. Kuadran tiga ini merupakan golongan orang-orang yang tidak bisa bilang ‘tidak’ pada orang lain. Jadi ia mengiyakan semua ajakan dan permintaan orang lain. Padahal, kuadran ini memuat hal-hal yang tidak penting, namun terkesan mendesak. Sedangkan kuadran empat kebalikannya. Kuadran empat penuh dengan orang-orang pemalas, dengan kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak. Eh, lalu? Mana dong kuadran duanya? Nah, ini kuadran dua! Kuadran dua menampilkan orang-orang yang kokoh dengan prioritas hidupnya. Namanya juga mau mengutamakan yang utama kan? Tidak mendesak tapi penting, orang-orang di kuadran dua ini mau mengerjakan segala sesuatunya tanpa menunda-nunda karena ia sadar menunda itu masalah. Ia juga tegas terhadap dirinya sendiri serta orang lain—bisa menolak ajakan untuk kegiatan-kegiatan tidak penting, dan tidak sudi menjadi seorang pemalas. Empat kuadran itu setidaknya bisa menggambarkan karakteristik setiap orang

Ayo deh, di kuadran manapun sekarang kamu berada, saya percaya kesadaran untuk berlari menuju kuadran dua masih sama besarnya seperti ketika kamu akan mengejar mimpimu! Fighting!

4. Berpikir Menang/Menang!

Advertisement

Aku tidak boleh nampak lebih bodoh darinya.

Oh, tidak! Aku tidak boleh menjadi yang paling terakhir!

Jangan sampai aku kalah, deh!

Sering kali, perasaan ketakutan akan kekalahan dibandingkan orang lain menyergap masuk dalam diri kita. Konyol ya. Kita bukannya mengusahakan yang terbaik, tapi menoleh dulu dan memastikan kalau kita bukan yang terburuk dan tidak lebih buruk daripada yang lain. Kita berjuang agar tidak menjadi peringkat terakhir karena takut kalah. Mentalitas seperti ini mencerminkan kalau sebenarnya kita miskin secara hati.

Ada pikiran yang salah bahwa jika dia menang, otomatis akulah yang kalah. Ini namanya berpikir menang/kalah, yang artinya aku harus menang agar tidak disebut kalah.

Payah kan? Kamu mati-matian berjuang dan akhirnya menang, lalu melihat orang lain kalah. Bagaimana perasaanmu? Sama halnya dengan perasaan menang/kalah, ada juga perasaan kalah/menang yang tak kalah kacaunya. Kalah/menang membuat kita seperti keset kaki, kata Sean Covey. Kita mengizinkan orang lain menang di atas kekalahan kita. Hal paling kongkrit dari perasaan kalah/menang adalah mengiyakan permintaan orang lain tanpa mampu mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya. Orang lain memang akan bahagia dengan keputusan ‘ya’ yang kita ambil untuknya, tapi kalau kita sendiri tidak merasakan kebahagiaan yang sama, apa artinya dong? Lanjut, ada perasaan kalah/kalah. Sama payahnya dengan dua sikap di atas, sikap kalah/kalah menekankan perasaan seperti ini, “Kalau aku kalah, maka kamu juga (harus) kalah! Harus!”. Hal ini menggambarkan kalau sebenarnya kita tidak ingin sendirian menghadapi kekalahan dalam hidup. Lalu? Tiga-tiganya sama buruknya dong? Eits, masih ada satu sikap yang paling tepat kok. Sikap menang/menang mengajarkan kita tentang kemungkinan bahwa setiap orang bisa menang. Kita mengusahakan setiap orang bisa menang, bukan aku yang menang, atau kamu yang menang. Kita yang menang! Pikiran semacam ini perlu kita kembangkan dengan berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, serta tanpa bersaing hanya untuk mengejar kemenangan semata.

Persaingan yang sehat mengajarkan kita tentang arti motivasi dan berusaha lebih keras, bukan hanya melirik kemenangan di akhir pertandingan.

5. Memahami Dulu, Baru Dipahami

“Kalau aku jadi kamu sih, aku bakal…..”

Please, stop katakan kalimat itu ya. Dia bukan kamu dan kamu bukan dia. Jangan pakai kacamatamu sendiri untuk mengerti persoalan orang lain. Atau yang lebih parah, kamu memaksa memakaikan kacamatamu ke dalam mata orang lain. Kalau kamu bersikap begitu, selamanya kamu tidak akan memahami orang lain yang datang kepadamu. Pemahaman dimulai dengan mendengarkan secara tulus. Omong-omong, Tuhan saja kasih satu mulut dan dua telinga. Jadi, tahu sendiri kan artinya? Kamu harus lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara, atau lebih-lebih menghakimi seseorang. Namun ternyata, mendengarkan saja tidak cukup untuk bisa memahami orang lain secara utuh. Mendengarkan yang baik adalah mendengarkan dengan tulus dan empati. Bagaimana caranya sih? Kamu cuma perlu bersikap seperti cermin yang memantulkan tanpa berniat menghakimi. Begini contohnya.

“Aku galau deh. Ayahku melarangku pacaran dengan si X karena katanya lelaki itu tidak bisa bertanggung jawab.”

“Jadi kamu bingung karena Ayahmu tidak merestui hubunganmu dengan pacarmu ya?”

Itu trik awal untuk memahami seseorang. Setelah itu, kamu perlu menerima orang tersebut secara utuh. Lihat saja, perlahan-lahan, penerimaan itu sendiri yang nanti akan mengubah orang tersebut, membuatnya membuka diri terhadap perubahan tanpa perlu kamu mengguruinya.

6. Wujudkan Sinergi!

Kalau sebulan lagi kamu ingin pergi berlibur dengan teman-teman dekatmu, sedangkan keluargamu juga merencanakan liburan di hari yang sama, apa yang akan kalian lakukan? Ayahmu ngotot kamu harus ikut bersama mereka, sedangkan kamu tak kalah bersikeras untuk tetap menghabiskan liburanmu bersama sahabat-sahabat terdekatmu. Gimana dong? Sean Covey menguraikan masalah kehidupan ini dengan jalan mencari sinergi. Apa sih sinergi itu? Sinergi itu mencari jalan keluar yang lebih tinggi. Bukan keputusanmu yang jadi, atau keputusanku yang menang, tapi menemukan sesuatu yang kreatif di antara dua perbedaan pendapat. Hebat ya? Dalam hal ini, kamu memang harus berperan menjadi manusia kreatif yang menyarankan banyak ide lain yang lebih baik ketimbang ikut ayahmu berlibur atau tetap berlibur bersama teman-temanmu. Cari ide lain yang lebih kreatif, yang menguntungkan dua-duanya.

Kuncinya sederhana, dengarkan dan pahamilah orang lain dulu, lalu kamu mulai bisa mengungkapkan keinginanmu. Setelah itu, yuk wujudkan sinergi!

7. Asahlah Gergajimu!

Nah, akhirnya kita sampai di poin terakhir. Setelah berpetualang bersama Sean Covey tentang enam kebiasaan efektif tersebut, kebiasaan terakhir ini akan membantumu menjadi pribadi yang seimbang. Tahu maksudnya? Pernah lihat orang yang hebat soal menulis tapi emosinya naik-turun? Atau mengenal seorang teman dengan peringkat pertama yang sangat mudah tersinggung? Oke deh, kamu tahu kan, kalau dalam hidup kita harus menyeimbangkan banyak hal. Sean Covey berpatokan pada empat hal yang akan menuntun orang menjadi pribadi yang seimbang. Tubuh, otak, hati, jiwa. Lewat tubuhmu, kamu bisa menyeimbangkan hidupmu melalui olahraga yang teratur. Atau otakmu perlu nutrisi lain dengan membaca dan menulis yang akan membantumu ke arah situ. Hatimu sendiri juga perlu diasah. Melayani, tertawa, dan bergurau membuatmu makin baik dari hari ke hari. Selain itu,

Penyegaran jiwa bisa dilakukan dengan berdoa, merenung, dan mengintropeksi diri. Intinya, selamat memperbaharui hidupmu!