Untuk wanita yang selalu kusebut namanya di sujud terakhir dalam setiap shalatku, semoga kita segera dipertemukan, kemudian dipersatukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang hanya akan dipisahkan ketika salah satu dari kita sudah menghadap Ilahi.

Untuk wanita yang entah di mana engkau sekarang berada, entah bagaimana wujudmu, tunggulah aku memantaskan diri untuk segera menjemputmu, meminta restu orang tuamu, untuk meminangmu dan menjadikanmu bidadari surga dalam rumah tanggaku.

Untukmu wahai tulang rusukku, berdoalah agar jalanku dimudahkan kejalanmu, semoga doamu membimbingku menemuimu suatu saat nanti entah di mana itu, dan kapan kita pun belum tau tapi keyakinan itu akan selalu ada. Maka bersabahlah wahai bidadariku, tunggulah aku memantaskan diri menjadi pendampingmu, bantulah aku dengan doamu agar kerja kerasku dapat meyakinkan orang tuamu bahwa kelak ketika engkau bersamaku, anaknya tidak akan kekurangan apapun.

Bantulah aku dengan doamu, agar engkau bisa meyakinkan orang tuaku engkaulah wanita yang tepat bersanding denganku dan kelak akan jadi menantu yang baik untuk orang tuaku.

Untukmu wahai surga anak-anakku, pantaskanlah dirimu. Jaga ibadahmu, jaga hatimu, dan jaga matamu sampai kelak aku akan ada di sampingmu dan mata itu hanya tertuju padaku dan hatimu hanya untukku.

Advertisement

Untukmu wanita yang kelak akan jadi bahu untukku bersandar, ketika aku mulai penat dengan rutinitas yang ada, maka hanya tangan lembutmu lah yang kuharap akan mengelus mesra pipiku, membalai lembut rambutku, hingga aku terlelap di pangkuanmu.

Untukmu wanitaku, jangan lelah menungguku, seperti aku yang tak kenal lelah mencarimu, memantaskan diri untukmu. Tunggulah aku menjemputmu dan memintamu di depan orang tuamu, tunggulah.

Untukmu wanitaku, bersabarlah hingga waktunya nanti teriakan kata “sah” dari para saksi disambut tepuk tangan dan sambutan para sahabat, maka saat itulah engkau sah menjadi milikku, akan kujaga engkau layaknya orang tuamu menjagamu, akan kusayangi engkau seperti aku menyayangi orang tuaku.