Takdir. Betapa patuhnya kau padaNya, hingga tak ada setitik kau khianat padaNya. Membayangkanmu bukan sebuah kepastian, tapi bersamamu adalah suratan. Saat takdir menaruhku jauh dari bahagia, justru bahagia itu bukanlah takdir. Karena berbicara takdir adalah takdir itu sendiri. Takdir menutup mataku, menyumbat telingaku, membungkam mulutku untuk memaksanya melirik bualanku. Percuma, karena takdir telah kering jauh sebelum takdir itu ditakdirkan.

Takdir. Bawalah aku pada baris yang kau tulis kata bahagia padaku. Meski aku tak tahu pada lembar mana buku takdirku habis. Selembar berlalu, mengulanginya adalah keangkuhanku. Karena angkuhku, takdirpun angkuh membuka lembar silam. Takdir itu guru tanpa bicara dan teladan, mengajariku belajar dari kepingannya yang berserak entah kemana. Aku belajar maaf darinya, meski terkadang maaf bukan berarti tidak mengulangi.

Bahkan aku melupa bahwa lupa adalah bagian dari takdir. Karena takdir menulis, hidup adalah tentang maju dan berhenti. Entah berhenti untuk bernafas atau behenti bernafas.

Takdir. Aku menunggumu dengan kejutan yang belum tersingkap.

Aku sering membicarakanmu dari belakang meski itu adalah rencanamu. Justru rencanamu sudah ada sejak rencana itu belum direncanakan. Meski aku harus mematung melupakan takdir, ia setia bersamaku. Membersamaiku meski kehadirannya adalah tabu. Maka, melupakan takdir adalah takdir itu sendiri.

Advertisement

Takdir. Lencanaku sebagai hamba lusuh oleh ketidak syukuranku. Jika tintamu kembali basah, sudikah kau tuliskan untukku lencana yang kembali bersih? Takdir menulisku sebagai hamba. Mengagumi Pencipta lebih dari apa yang dicipta. Saat aku memuji makhluk, sungguh sebenarnya aku terkagum-kagum pada Sang Pembuat takdir itu. Aku benar-benar menunggu hingga nantinya kulihat Khaliq menyebutku sebagai kekasihNya.

Takdir. Bawalah aku pada lembah sunyi, yang jauh dari manusia. aku ingin jauh dari kata dengki, agar aku tak selalu mencemburu. Bawalah aku hingga aku hanya bersamamu saja. Menukar nasib dengan duduk bersila khusyu’ menghadapNya. Tutuplah mataku dari pandangan indah mempesona, yang seketika menghapus ingatan tentang indahnya pergulamanku denganNya. Lempar aku pada masa Ibrahim dan sifat tangguhnya, yang selalu bersabar saat ditempa dan dibebani. Berikan sekat dan jarak antara aku dan rasa malu, supaya aku bisa berjalan di tengah ramainya dunia.

Takdir. Jika takdirku adalah ajal. Ingin aku berpisah denganmu dengan khasanahNya. Aku tak takut jika harus terpisah dari setiamu, namun aku takut jika harus berpisah dengan agamaNya. Bawalah aku pada lembar sahabat yang meninggalkanmu dengan syahidnya. Agar aku tahu bahwa berjuang bukan hanya menuntut hasil yang gemilang, karena dengan mati bersama syahid adalah puncak yang diidamkan.

Takdir. Aku selalu berusaha payah untuk mendugamu dengan kebaikan. Bukankah Baginda berjanji bahwa apa yang datang darimu pada hambaNya adalah berupa kebaikan. Sesengsara apapun kau tempa aku, bukankah itu yang terbaik bagiku? Karena penilaian hamba adalah hanya praduga dan prasangka semata. Sementara penilaianNya adalah berada di atas segalanya. Selama ini aku meminta sabar selalu di sampingku, maka aku harus menanggung resiko untuk ditempa terus-menerus. Supaya aku kebal dengan tempaan lantas sabar adalah kebiasaan.

Takdir. Seberapa dekat engkau denganNya, sampai kau begitu dipercayaiNya? Jika aku bisa merayumu, ingin ku intip selembar hari esok. Ingin kuhapus kesalahan di lembar kemaren sore. Meski sebait, begitulah berarti pada masa penghisaban kelak. Tapi mustahil bukan? Karena merayumu seperti menunda kematian, meski sedetik.

Takdir. Tak ada alasan untuk ingkar padamu. Tak ada penutup mata untuk memandangmu sebelah mata. Esok adalah milikmu, yang akupun buta olehnya. Kemaren adalah milikku yang hari ini adalah milikmu, yang aku telah tuli mendengarnya. Dan hari ini, kita masih saling rebut, agar lusa, aku mendengar hari ini sebagai kemarin yang merdu dan syahdu.

Takdir. Maukah berdamai denganku?