Perjuangan untuk mendapatkan tiket promo itu berbuah manis. Perjalanan ke luar negeri untuk pertama kalinya sudah di depan mata. Padahal passport sudah dibuat lima tahun yang lalu. Tapi belum ada cap dari imigrasi manapun di halaman pertama. Mungkin sebagian dari kalian akan merasa simpati pada saya, karena yang dimaksud ke luar negeri disini hanya menyebrang ke negara tetangga, Malaysia. Tapi it's okay, nothing’s late for the new experience. Iya kan?

Saya bukan traveller sejati seperti orang-orang. Hari libur lebih banyak diisi dengan nonton dan baca buku. Kalian bisa bilang, travelling isn't my desire. But, thanks a lot untuk adik saya yang berhasil memprovokasi dengan membagikan info tiket promo dari maskapai yang berusaha membuat semua orang bisa terbang.

Kuala Lumpur menjadi tujuan kami. Terbang selama 2 jam dari bandara Soekarno Hatta ke kota metropolitan yang termasuk 10 kota terbaik di dunia ini. Kota yang dibuat sebagai one stop destination. Jadi jika kalian hanya bisa ke kuala lumpur dalam waktu yang terbatas, kalian tidak perlu khawatir. Tengok kanan kiri, ada saja yang bisa kita kunjungi. Seakan setiap sudutnya bisa dijadikan tempat wisata. Dari museum, galeri, shopping mall, taman, pusat belanja dan tak ketinggalan bangunan-bangunan megah seperti Petronas Twin Towers dan KL Tower.

Pun kalian tidak perlu bingung soal transportasi. Pemerintah setempat berusaha mengintegrasikan seluruh transportasi dengan tempat wisata yang ada, seperti KL monorel, LRT, KTM Komuter yang berbasi rel ataupun bus. Bahkan ada bus gratis yang disediakan yang biasa disebut GO-KL. Bus ini akan melalui banyak tempat termasuk tempat wisata yang sering dikunjugi turis. Saya sarankan kalian untuk meminta peta terbaru GO-KL ini. Karena ternyata peta yang saya print dari web, bukan versi ter-update. Akibatnya, ada seorang turis Vietnam yang kebingungan setelah meminjam peta saya. Untung saja kami segera dibantu orang lokal di sekitaran. Yang jelas, dari tata kota dan transportasi ini, saya bisa merasakan keseriusan pemerintah setempat menjadikan Kuala Lumpur sebagai modern city di Asia bahkan dunia.

Hari pertama saya gunakan untuk banyak berbagi cerita dengan tuan rumah. Ya, saya tidak menginap di hotel. Saya menginap di apartmen (baca: rumah susun) seorang kawan yang sedang melanjutkan studi S2 di InCEIF (International Centre for Education in Islamic Finance). Selagi punya kawan, mengapa tidak kita manfaatkan saja. Inilah yang kita sebut dengan kekuatan relasi, hehe. Tapi memang ke manapun pergi, saya usahakan untuk bisa menginap di rumah seorang kawan. Pertama, agar kita bisa mengunjungi dia dan kedua, agar kita bisa secara langsung bersinggungan dengan masyarakat dan melihat lebih dekat bagaimana kehidupan di daerah itu. Dan benar saja, saya seakan menjadi bagian dari mereka. Sedari pagi keluar rumah bersama segerombolan anak-anak berwajah India yang berangkat sekolah, menyapa tetangga rumah yang sepertinya berasal dari keturunan arab, bertemu Pakcik yang berjualan sayur juga makcik-makcik yang sedang membuka toko kelontongnya. Terasa betul keberagaman etnis penduduk di kota ini.

Advertisement

Keesokan harinya, barulah saya mulai perjalanan di Kuala Lumpur dengan berkeliling InCEIF dan IIUM (International Islamic University of Malaysia). Kemudian melanjutkan perjalanan ke KLCC, untuk mengambil foto wajib bagi siapa saja yang pergi ke Kuala Lumpur dan menikmati water fountain di pelataran Petronas Twin Towers. Namun hari itu yang paling mengesankan bagi saya bukanlah bangunan kembar tersebut. Tapi kenyataan bahwa kami tersesat saat pulang. Kami baru menyadari hal itu ketika kami akhirnya sampai pada kuil kecil yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Kuil itu berada di ujung jalan dengan penerangan seadanya. Ada beberapa orang terlihat disana, satu sedang beribadah dan lainnya merupakan penjaga kuil. Sebenarnya, kami ingin bertanya pada mereka tapi urung, karena tiba-tiba kami merinding dengan suasana yang sunyi dan terasa sedikit mistis saat itu. Kami pergi dengan langkah cepat. Memutuskan untuk kembali ke stesyen Bangsar dan bertanya pada petugas. Dan ternyata, bingo! Kami bertemu seorang pakcik berwajah India yang menuju arah yang sama dengan kami. Terimekasi Pakcik 🙂

Hari terakhir, kami gunakan untuk melanjutkan jalan-jalan dan belanja. Kami keluar pagi-pagi, sekaligus berpamitan. Di perjalanan dari Bangsar menuju KL Sentral, kami berhenti membeli sarapan di warung nasi lemak. Eh ternyata, ibu penjualnya wong jowo juga. Tiba di KL Sentral, kami segera mencari tempat penyimpanan tas berdasarkan info yang saya kumpulkan hasil blogwalking sebelum berangkat. Kami pun akhirnya bertanya pada petugas. Saya bertanya dengan bahasa melayu seadanya "nak titip bag dimane?" Dan petugas langsung faham. Syukurlah… Sebenarnya, kami sudah bertekad untuk menjadi turis seutuhnya. Kami sepakat untuk full english selama perjalanan ini. Tapi, kesepakatan itu tidak kami hiraukan lagi setelah berkali-kali orang lokal yang kami ajak bicara menjawab dengan bahasa melayu. Wajah memang ngga bisa bohong kalau kita ini satu rumpun ya xD

Dimulai dari Masjid Negara, kemudian ke Dataran Merdeka dan KL City Gallery. Selain landmark I LOVE KL, di KL City Gallery ini kita bisa mengetahui sejarah Kuala Lumpur dari awal dibuka oleh Raja Abdullah hingga pencapaian saat ini juga proyeksi 30 tahun yang akan datang. Setelah itu, kami singgah sebentar di Masjid Jamek yang berada di percabangan Sungai Gombak dan Sungai Klang. Dan sebagai penutup, kami berbelanja oleh-oleh di Petaling Street untuk segera menuju bandara KLIA 2.

Ada satu hal yang saya sadari kemudian dalam perjalanan menuju bandara, bahwa saya dan teman saya sama-sama orang yang hemat (baca: itung-itungan). Pengeluaran yang tidak penting harus diminimalisir. Termasuk soal air minum. Dimanapun ada keran air minum, pasti kita isi penuh tumbler besar yang selalu dibawa. Begitu pun di bandara. Tanpa ragu, kami bertanya pada petugas dimana tempat untuk isi ulang air minum sambil menunjukkan botol besar kami. Dan kemudian, beliau mengarahkan kami ke ruang ibu dan anak. Lantas kami bingung. Kenapa jadi ke ruang ibu dan anak. Si pakcik ngga salah tangkep apa yang kita maksud kan? Walaupun begitu tetap kita ikuti arahannya dengan berharap semoga bukan zonk. Rupanya, pakcik itu faham maksud kami. Ternyata, di setiap ruangan ibu dan anak disana disediakan fasilitas lengkap yang salah satunya adalah dispenser. Jadilah kita kegirangan seakan bertemu oase. Sampai-sampai saya bilang "wah, seharusnya kita bawa mi seduh kesini. Kan enak sambil nunggu, sambil makan mi, hahaha"

Dan akhirnya, selamat tinggal Kuala Lumpur. Kami pulang dengan ribuan kenangan. Sampai jumpe lagi dengan bawa mi seduh, haha. Bye!