Kamu itu orangnya AMBIGU! Sering bilang CINTA pada siapapun, tapi perilakunya tidak cinta. Lain di mulut, lain di hati, lain pula di perbuatan. AMBIGU banget sih kamu, sebel.

Ambigu. Hidupnya bermakna ganda. Ya, banyak yang ambigu di sekitar kita. Ambigu, bisa gak jelas. Bisa ragu-ragu. Seperti PSSI dibekukan, Liga dibubarin. Terus dibikinin tim transisi untuk bikin turnamen.  Sama aja dong. Itulah ambigu, “makna” yang lebih dari satu. Ambigu bikin bias, bikin buram. Istilah orang bahasa, taksa. Lha, terus emang kenapa dengan ambigu?

Ya, gak kenapa-kenapa. Namanya juga ambigu. Sesuatu yang gak jelas, ragu-ragu. Masih banyak dekat kita yang ambigu. Biar kita waspada. Dan berhati-hati. Itu saja. Kita sering bilang CINTA pada siapapun, tapi perilakunya tidak cinta. Lain di mulut, lain di hati, lain pula di perbuatan.

Sebut saja di pasutri yang telantarkan anak, yang lagi rame sekarang. Katanya “cinta” pada anak. Tapi ditelantarin, semena-mena pada anak. Lalu berdalih, itu cara kita mendidik anak. Cinta pada anak, tapi perbuatannya tidak cinta. Ambigu. Jadi, apakah orang tua benar-benar cinta pada anaknya? Ahhh sudahlah, cinta memang ambigu.

Anak muda juga suka gitu. Bilang cinta, abis itu pacaran. Setelah pacaran bentar-bentar berantem, bentar-bentar menyakiti. Sampe ada polisi muda yang “nembak kepala sendiri” alias bunuh diri akibat berantem ama pacarnya. Sekali lagi, cinta itu ambigu.

Kemarin, hari ini, hingga esok. Di televisi, semakin banyak “tokoh” yang katanya akademisi, praktisi, atau politisi. Tapi justru sibuk menjelek-jelekkan orang lain, mengumbar aib orang yang bukan kelompoknya. Bikin opini publik yang ngebingungin, bikin gaduh. Masalahnya jadi makin ambigu.

Terkadang kita juga begitu. Suka minta tolong dan menuntut rasa nyaman di saat tersakiti. Tapi di lain waktu, kita malah menyakiti orang lain. Berapa banyak, orang yang hari ini tertawa lepas di siang hari, tapi menangis di malam hari. Rame dari pagi sampe sore, tapi kesepian di malam hari. Dan bilang suka padahal tidak suka. Sungguh, ambigu ada di sekitar kita.

Seperti kata anak muda. Waktu pacaran bilang, “mungkin gue memang dipertemukan untuk masa depan”. Entah karena apa, begitu putus bilang lagi, “gue udah berusaha, tapi emang gak jodoh mau diapain”. Itu anak muda, ambigunya bukan kepalang. Lagi seneng ngomong apa, lagi susah bilang apa. Welah dalahh …

Sungguh, kita perlu hati-hati. Ambigu tidak boleh berkepanjangan. Udah sukses, punya pekerjaan, punya kendaraan, uang cukup. Sayang, kalo ditanya tentang hidup, jawabnya “tidak bahagia”. Emang kebahagiaan itu apa sih? Ambigu lagi.

Sadar atau tidak sadar, kita butuh untuk menghindar dari sikap ambigu. Agar hidup sekitar kita tidak lebih buruk dari yang sekarang. Maka, kembalilah pada sikap konsisten dimana pun kita berada. Jangan sampai warna "putih" dibilang "hitam", atau sebaliknya. Karena hidup sama sekali tidak ambigu.

Menjauhlah dari sikap ambigu. Agar kita tidak membenarkan kata-kata, “kenapa kita hidup kalau pada akhirnya mati. Kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa?”. Pertanyaan itu, sungguh terlalu ambigu … Ciamikk