Banyak orang yang menganggap bahwa seseorang itu bisa dikatakan move on jika sudah tak lagi mengingat mantannya di masa lalu. Namun faktanya ingatan manusia itu sulit dihapuskan. Tak seperti file dalam flasdisk, atau seperti tumpukan dokumen dalam komputer yang mudah kita delete secara permanen.

Ingatan manusia itu sangat kuat, walau setiap momen tidak bisa diingat setiap saat. Namun jangan pula salahkan ingatan kita, jika kita selalu ingat si dia yang pernah hadir dalam kehidupan kita. Mungkin banyak teman kita yang mengatakan,

“Idih udah lama pisah dengannya, tapi kok masih saja teringat dia terus? Jangan-jangan loe gak bisa move on!”

Perkataan semacam itu seolah men-judge kita bahwa diri kita itu orang yang tak bisa move on dari cinta yang lama. Jika kita mengiyakan perkataan-perkataan seperti itu tentulah kemungkinan kita akan terlarut kembali dalam memikirkannya.

Kita jadi berfikir dalam-dalam dan bertanya pada diri sendiri terus menerus. Apakah kita benar-benar tak bisa move on? Apakah kita memang ditakdirkan tak bisa melupakannya?. Bahkan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih ekstrim dari itu.

Advertisement

Sekarang sudah saatnya kita menyadari, mungkin diri kita tak diciptakan sama dengan teman-teman kita yang mudah berkata telah melupakan masa lalunya. Atau mungkin juga mereka sama seperti kita, tak bisa melupakan masa lalunya bersama seseorang. Namun bedanya, mereka bisa menutupinya tak seperti kita.

Terus sebenarnya apa sih yang kita rasakan, kenapa kita masih saja ingat tentanngnya. Walau tak ingat selalu, namun sesekali banyak kenangan yang terbersit begitu saja tanpa kita minta. Sehingga memori-memori kita seolah diputar balik kala tengah bersamanya dahulu.

Entah itu momen membahagiakan, yang akhirnya malah membuat kita tersenyum-tersenyum sendiri. Atau momen yang membuat kita sakit hati, yang justru membuat kita merasa menyesal kenapa dulu mau menjalin hubungan bersamanya. Pada dasarnya ingatan itu memang sulit dihapuskan, karena Allah menginginkan kita untuk bisa belajar dari masa lalu kita.

“Bukankah guru terbaik dalam hidup ini adalah pengalaman?”

Hal itu karena pengalaman membuat kita belajar secara langung. Orang yang bisa belajar dari pengalamannya, tentu ia akan menjadi semakin baik. Sebaliknya, orang yang tak bisa atau bahkan tak mau mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya tentu dia akan menjadi seperti biasanya. Tak ada perubahan yang berarti dalam hidupnya.

Kala kita ingat si dia, mungkin kita bisa mengingat kenapa hubungan kita bisa berakhir begitu saja. Kalau memang karena ketidakcocokan, mungkin kita bisa mengikhlaskannya. Karena memang buat apa memaksakan tetap bersama, jika itu justru tak nyaman buat kita. Jika si dia saat itu yang membuat hubungan kita hancur, entah karena dia bermanin hati atau sering melukai.

Mungkin dengan mengingat itu, kita bisa meyakinkan diri bahwa memang dia itu tak pantas buat kita. Karena buat apa sih bertahan, jika memang dia selalu menyakiti hati. Namun jika kau mengingat dirinya dahulu yang begitu membahagiakanmu, tetapi kamu lah yang sering menyakitinya karena sifat-sifat burukmu padanya. Mungkin dengan ingat dia, kita mau belajar untuk memperbaiki diri. Bukankah hal tersebut sangat bijak jika kita lakukan.

Maka sadarilah, kenapa kita masih mengingatnya hingga sekarang. Hal itu bukanlah karena kita yang tak bisa move on, tetapi karena memang mungkin Allah sengaja menanmkan ingatan itu pada kita. Agar kita bisa belajar dari masa lalu kita, kedepan supaya mau mengambil hikmah demi kebaikan diri kita masing-masing.

Ketahuilah bahwa seburuk-buruknya masa lalu, kita masih punya masa depan yang bisa kita jadikan indah. Serta seindah-indahnya masa lalu, maka kita pun masih punya masa depan yang bisa kita jadikan lebih indah.