Ketika awal pertemuan tanpa kesengajaan itu terjadi, ketika tanpa aku sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan diri yang tidak ada apa-apanya ini. Ketika kamu tidak berani mendekat, dan tanpa malu aku yang harus maju lebih duluan. Karena seperti biasa naluriah seorang pria yang jauh dari kepekaan. Tak apa, sampai pada akhirnya kita menjadi lebih dekat. Mengamati sisi satu sama lain, mencoba berbagi, berusaha saling membahagiakan dalam sebuah cerita.

Entah di masa lalu, aku selalu bertemu dengan orang yang salah. Kehadiranmu benar-benar mengubah segalanya. Yap, aku bersyukur, aku temui engkau orang yang berbeda. Di mataku kau begitu sempurna, tanpa cela.

Aku sadar, untuk saat ini kita masih terlalu kecil untuk membicarakan hal-hal yang serius. Tetapi aku mensyukuri cerita ini. Cerita nanti biar nanti, syukuri ini dulu. Yap, kita masih terlalu kecil, tetapi kita mencoba berpikir bak orang dewasa, mencoba menjalaninya dengan seksama, untuk akhirnya kita ikhlaskan, tergantung kebijaksanaan yang Di Atas sana, Sang Maha Kuasa.

Aku bahagia menjalani cerita ini denganmu, cerita yang mengalir dengan biasa dan apa adanya. Tidak terlalu mendalam dan tidak pula kekanak-kanakan. Cerita yang bahkan belum genap mencapai usia 100 harinya. Kita tahu, ini hanya suatu awal. Perjalanan masih sangat panjang, bukan ?

Rasanya begitu mengesankan, ketika dua orang yang berbeda saling mencoba memasuki kehidupan satu sama lain. Mencoba menggali diri yang lain, agar tidak menjadi orang lain. Agar menjadi salah satu bagian dari kehidupan satu sama lain.

Advertisement

Belum banyak kenangan yang tercipta, hanya saja setiap hari yang dilalui benar-benar terasa berwarna. Mengais senyuman dan tawa, memahami, mengerti, belajar mempercayai, dan menjaga hati satu sama lain agar tetap utuh. Aku begitu menikmati cerita ini, cerita yang dipenuhi kesederhanaan dan tidak mengada-ada.

Kita mengerti, belum sepantasnya kita untuk menjadi berlebihan dari segi rasa dan waktu. kita memahami, sekedar komunikasi biasa saja sudah sangat cukup untuk menjalin cerita ini. Bahkan untuk bertemu pun kita harus berpikir dua kali. Bukan karena cerita ini tidak menarik lagi, bukan karena rasa ini mulai hambar, BUKAN !! Hanya saja, kita saling memahami, ada batas-batas tertentu yang perlu kita bentengi.

Kepadamu, aku benar-benar berterima kasih. Karena telah menjadi orang pertama yang nyata dalam cerita ini. Orang pertama yang kelak di masa depan, entah apa yang terjadi. Orang pertama yang bisa aku ceritakan dengan bangga di hadapan seluruh dunia 🙂