Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi juga memicu hadirnya berbagai media sosial. Kehadiran media sosial ini lah yang menurut saya pribadi perlahan medoktrin pemikiran remaja di Indonesia menjadi lebih peendiam dan kurang bersosialisasi di dunia nyata. Jika tak ada pembenahan dan kesadaran dari para netizen terkait dampak yang mereka alami, bukan tidak mungkin Indonesia di beberapa tahun ke depan akan menjadi negara dengan generasi yang lemah dalam segala bidang.

Salah satu media sosial paling berbahaya yang sekarang justru paling populer digunakan di seluruh dunia adalah Instagram. Media sosial berbagi foto dan video pendek tersebut memang terlihat biasa saja, namun di sisi lain Instagram juga secara tidak langsung mendorong pengguna memiliki sifat pamer, sombong dan riya' (ingin dipuji orang). Dan ini tentu bukan perilaku yang baik bagi kehidupan sosial maupun secara agama.

Dari sinilah nantinya akan memunculkan kegelisahan di antara remaja-remaja yang pemikirannya masih labil dan berbahaya. Kita tahu bahwa tentu pengguna Instagram tidak hanya dari kalangan pengguna kelas atas, melainkan juga kelas bawah (mengingat begitu mudahnya akses Instagram).

Pengguna dari kalangan bawah (cenderung pada gaya hidup biasa dan sebut saja sebagai si A) nantinya akan merasa iri bahkan dengki ketika meilhat orang lain memamerkan barang atau kesempatan yang tidak dimililki oleh si A. Dengan demikian akhirnya si A akan merasa rendah diri, bahkan yang paling berbahaya adalah menyalahkan orang tua hingga Tuhan.

Kesimpulannya, manusia (terutama remaja Indonesia) telah dibodohi oleh media yang sepertinya tidak mungkin bisa ditanggulangi. Celakanya, tidak banyak dari para pengguna media sosial yang tidak tahu dampaknya sehingga mereka tetap saja menggunakannya meski terkadang perasaan mereka jauh lebih buruk ketika mengakses media sosial.

Advertisement

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak akan ada perubahan besar yang diperoleh tanpa ada proses kecil sebelumnya. Sebagai pengguna media sosial, kita setidaknya harus bijak dan mengetahui apa tujuan menggunakan media sosial tersebut sehingga tidak merugikan diri sendiri.

Tidak sedikit remaja yang stres, frustasi, dan melakukan berbagai tindak kriminal hanya gara-gara melihat teman media sosialnya lebih kaya darinya padahal apa yang dilakukannya selama ini jauh lebih baik daripada menghabiskan uang pemberian orang tua. Semoga kita menjadi pengguna media sosial yang berkulitas dan bermanfaat!