Seperti yang kita ketahui, unsur dari kehidupan ini tidak pernah terlepas dari dua hal yang berlawanan, seperti hitam dan putih, baik dan buruk, hidup dan mati, sehat dan sakit serta masih banyak lagi hal-hal yang berlawanan yang menjadi unsur penyusun kehidupan di dunia ini.

Hal semacam ini sering diumpamakan sebagai dua bilah mata pisau, yang mana manusia memiliki peran vital dalam mengendalikan kedua bilah mata pisau tersebut.

Diri manusia sendiri yang diumpamakan sebagai jagad kecil dari alam semesta tak terlepas dari dua bilah mata pisau hitam dan putih.

Itu mengartikan bahwa, manusia memiliki peran langsung dalam mengendalikan atau memberdayakan bilah yang mana akan lebih digunakan.

Lantas, bisakah kita menyimpulkan bahwa kehidupan adalah seperti dua mata pisau?

Advertisement

Sepertinya memang demikian, terlepas dari manusia diciptakan dari unsur baik oleh pencipta yang maha baik.

Namun kehidupan dunia adalah ladang percobaan untuk mengukur manusia atas dua pilihan sangat condong jauh perbedaannya.

Entitas manusia dipertaruhkan di dunia ini. Apakah ia memang mampu menggali kebaikan yang diciptakan Tuhan pada diri manusia atau malah akan lebih condong kepada kerusakan yang akan merusak diri (jagad kecil) yang akan berdampak pula pada kehidupan dunia ini (jagad besar).

Manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara jagad ini, menggali entititasnya dalam menyingkap tujuan penciptaan.

Pada akhirnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa memang kehidupan dunia layaknya seperti dua mata pisau. Karena kehidupan dunia adalah ladang bagi manusia untuk menggali, memilih dan menyingkap yang baik untuknya.

Namun kehidupan manusia itu sendiri pada hakikatnya adalah berasal dari kebaikan yang diciptakan dari sumber yang baik oleh pencipta yang baik dan untuk tujuan yang baik pula.