Setiap manusia pasti sangat bahagia apabila dia yang dicintai ternyata membalas cinta kita. Sama hal nya denganku. Aku berkenalan dengan dia karena dia adalah teman sekampusku. Awalnya kita hanya sekedar mengenal nama satu sama lain. Tak ada yang istimewa dari dia sebab aku tidak pernah memperhatikan dia. Yaa kita hanya teman tidak lebih.

Semua berubah ketika dia baru putus dengan kekasihnya. Dia mulai curhat dengan apa yang sudah terjadi soal hubungan dia dengan mantannya. Aku bersikap sewajarnya teman yang ingin menolong dia keluar dari rasa sedih yang mendalam.

Sejak saat itu dia mulai menceritakan segalanya kepadaku. Dia mulai menunjukan semua kekurangan dia ataupun kelebihan dia di hadapanku. Aku menikmati semuanya dan aku tak pernah protes dengan kelakuan buruk dia.

Entah sejak kapan dia mulai bersikap berbeda dari biasanya. Dia mulai memperlihatkan bahwa hubungan kami lebih dari teman. Aku pun disadarkan oleh orang-orang disekelilingku yang selalu meyakinkan aku bahwa dia menyukaiku lebih dari teman.

Akhirnya suatu hari dia mengakui bahwa dia menyayangiku. Aku juga tidak bisa berbohong pada saat itu. Aku juga menyayangi dia lebih dari teman. Hampir 4 bulan kita sering bersama, rasa itupun muncul secara perlahan. Kami saling jatuh cinta.

Advertisement

Ternyata menerima dia sebagai pacar adalah kesalahan terbesarku. Aku telah buta dengan keadaan disekelilingku. Aku terlalu mencintai dia dan karena itu pula aku takut kehilangan dia. Aku selalu menahan tangis saat aku mengetahui bahwa aku hanyalah sebagai pelarian dia. Dia masih sangat mencintai mantannya. Aku hanyalah tameng dia untuk menutupi bahwa dia sebenarnya belum bisa move on.

Aku selalu berusaha mempertahankan hubungan ini. Tetapi kalau saja hanya aku yang berusaha, pasti tak akan bisa berjalan dengan baik.

Betul saja, hubungan kami akhirnya renggang dan kami pun memutuskan berpisah. Sampai sekarang aku selalu bertanya. Aku punya salah apa sama kamu hingga kamu memilih aku untuk kamu sakiti?