Ayah,

Masih ingatkah ketika aku merangkak-rangkak lalu bertengger di kedua kakimu, saat ayah berbaring melepas lelah sepulang kerja dulu? Lalu Ayah dengan mata berbinar, segera mengangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi, hingga tubuh mungilku membubung tinggi di udara. Aku terkekeh-kekeh, Ayah juga.

Karena ayah, aku tak takut berada di ketinggian.

Ayah,

Tahukah engkau? Sejak Ayah selalu menomorsatukan aku di atas semua lelah, aku pun telah berjanji akan menomorsatukan Ayah sampai kapan pun. Tapi Yah, setelah angka lilin di kue ulang tahunku makin bertambah, aku mulai tahu bahwa akan datang hari di mana Ayah tak lagi menjadi pria yang berada di baris terdepan dalam hidupku.

Advertisement

Aku masih gemetar membayangkan detik-detik ketika Ayah dengan hati-hati menyerahkan hidup anak gadismu ini kepada lelaki yang telah engkau ridhai. Namun aku percaya, pada saat yang sama, Ayah pasti akan sangat bahagia. Karena malaikat kecilmu—yang dulu hanya bisa merengek-rengek saat kakinya tersandung batu— telah bisa menjadi sandaran lelah bagi suami dan anak-anaknya kelak.

Ayah, terimakasih telah membesarkanku dengan kasih tak terbatas.

Dalam setiap marah ayah, aku tahu selalu ada cinta bersamanya.

Yah, terimakasih telah mencurahkan kasih sayang tanpa putus ke dalam aliran darahku. Dalam segala nada suara yang meninggi, tatapan mata yang tajam dan dalam segala diam, aku selalu menemukan gumpalan-gumpalan cinta yang tak pernah bisa engkau sembunyikan. Terimakasih telah mengajariku bahwa cinta adalah sebuah kebaikan. Maka sama halnya dengan kebaikan yang tak pernah putus, aku tahu bahwa cinta juga tak pernah memiliki akhir.

Ayah, terimakasih juga telah mengajariku bagaimana cara melindungi secara diam-diam. Tanpa harus membuat dia (yang kita sayang) merasa menjadi orang yang lemah. Terimakasih lagi Yah, telah mengajariku bagaimana cara merawat dan menyembuhkan luka, dengan sabar dan hati-hati.

Meski nanti tak lagi menjadi pria nomor satu, di dalam hatiku, Ayah tetap akan selalu kujunjung tinggi.

Untuk bisa memahami dan menghargai perasaanku, hati Ayah benar-benar seluas lapangan bola.

Setelah menginjak usia tujuh belas, ayah mulai melonggarkan aturan-aturan dan membiarkan pria-pria asing masuk mengisi hari-hariku. Meski pribadinya tak sesuai dengan mau dan harapan Ayah, tapi melihat bagaimana aku menjadikannya sebagai ‘rumah’ untuk segala cerita, ayah telah putuskan untuk membuka hati seluas-luasnya, untuk menampung segala suka dan tidak suka.

Ayah yang diam-diam selalu berdoa, Tuhan pasti akan menjawabnya

Ayah tak pernah banyak meminta kepadaku untuk membawa pria yang Ayah mau ke rumah kita. Tapi aku tahu, diam-diam ayah selalu meminta kepada Tuhan agar suatu saat menghadirkan dia—yang setidaknya sama seperti ayah—ke dalam hidupku. Karena Ayah selalu percaya bahwa Tuhan tak pernah bosan mendengar pinta kita.

Ayah juga percaya bahwa akan datang saatnya, di mana doa-doa yang Ayah hantarkan tiap pagi-siang-sore-malam, akan dibalas dengan kehadiran pria yang ayah bisa percayakan sisa hidupku.

Yah, tolong selalu doakan agar dia yang kini tengah menuntun jalanku, bisa menjabat tangan ayah di hadapan penghulu kelak.

Aku percaya bahwa Tuhan telah mulai menjawab doa-doa ayah satu per satu. Dengan Ia menciptakan perpisahan, lalu pertemuan. Dia yang kini telah dihadirkan Tuhan tanpa dicari-cari, kupercayai tak akan membuat ayah menyesal telah merelakannya menjadi pria nomor satu dalam hidupku kelak. 

Yah, mohon selalu doakan agar aku bisa menjadi orang seberuntung Ibu yang memiliki ayah sebagai pria nomor satu di sisa hidupnya.