Kepada sebuah nama. Sosok yang tengah dan sangat aku harapkan dalam diam. Ketika kamu membaca tulisan ini, aku rasa jantungku akan lebih kuat berdetak. Mungkin kamu pun akan setengah berdecak. Atau mungkin, kedekatan kita akan mulai berjarak. Aku masih mengingat jelas saat percakapan awal kita untuk pertama kalinya terjadi. Sesungguhnya aku tidak mengerti, rencana apa yang kiranya tengah dirancang oleh Tuhan ketika Ia mempertemukanku denganmu. Yang aku tahu, sejak mata ini menangkap sosokmu, hati ini seolah ingin menjelaskan sebuah rasa. Sebuah rasa yang sementara kuartikan hanya kekaguman semata.

Maafkan atas kebingunganku yang harus memulai ini darimana, yang aku tau aku hanya bisa menginginkan dan merindukanmu dalam diam. Karena berada di dekatmu pun aku sudah merasa nyaman dan surga terasa dekat denganku. Aku tidak sedang bergurau, diam-diam semua gerak-gerik konyolmu selalu aku rekam dalam ingatan. Setiap hal kecil tentang dirimu tak ada yang ingin aku lewatkan. Ingin rasanya aku menertawakan kebodohanku sendiri yang ingin terlihat istimewa di matamu. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau jadikan alasan untuk menganggapku lebih dari sekadar teman, kan?

Kegiatan perkuliahan memegang andil akan kedekatan kita. Aku bukan lagi penganggum rahasia yang tak memiliki nyali untuk sekadar menyapa. Dekat dengan sosokmu bukan lagi sesuatu yang langka. Berbalas pesan singkat sudah kita lakoni tiap saat. Kini, segala hal tentang keseharianmu tak pernah ada yang kualphakan dan kulewatkan. Ada kecemasan yang tidak ku mengerti saat aku tak menemukan sosokmu seharian di antara padatnya rutinitas perkuliahan.

Ada kecemburuan yang tidak ku pahami saat melihatmu asik bercengkrama dengan lelaki lain yang tidak ku kenal. Berkali-kali hati ini seolah muak dan ingin mati rasa. Tapi, apalah daya… Sedekat apapun jarak tak membuatku memiliki hak untuk pembelaan. Bagaimana bisa aku begitu takut kehilangan seseorang yang bahkan aku tidak tahu pasti kepada siapa hatinya ia tambatkan. Perasaan kagumku seolah menjelma menjadi cinta dengan lancangnya. Lalu, salahkah? Kepada sebuah nama.

Sosok yang tengah dan sangat aku harapkan. Ketika kamu membaca tulisan ini, aku rasa jantungku akan lebih kuat berdetak. Mungkin kamu pun akan setengah berdecak. Atau mungkin, kedekatan kita akan mulai berjarak. Aku masih mengingat jelas saat percakapan awal kita untuk pertama kalinya terjadi.

Advertisement

Sesungguhnya aku tidak mengerti, rencana apa yang kiranya tengah dirancang oleh Tuhan ketika Ia mempertemukanku denganmu. Yang aku tahu, sejak mata ini menangkap sosokmu, hati ini seolah ingin menjelaskan sebuah rasa. Sebuah rasa yang sementara kuartikan hanya kekaguman semata. Maafkan atas kebingunganku yang harus memulai ini darimana, yang aku tau aku hanya bisa menginginkan dan merindukanmu dalam diam. Karena berada di dekatmu pun aku sudah merasa nyaman dan surga terasa dekat denganku. Aku tidak sedang bergurau, diam-diam semua gerak-gerik konyolmu selalu aku rekam dalam ingatan. Setiap hal kecil tentang dirimu tak ada yang ingin aku lewatkan. Ingin rasanya aku menertawakan kebodohanku sendiri yang ingin terlihat istimewa di matamu. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau jadikan alasan untuk menganggapku lebih dari sekadar teman, kan? Kegiatan perkuliahan memegang andil akan kedekatan kita.

Aku bukan lagi penganggum rahasia yang tak memiliki nyali untuk sekadar menyapa. Dekat dengan sosokmu bukan lagi sesuatu yang langka. Berbalas pesan singkat sudah kita lakoni tiap saat. Kini, segala hal tentang keseharianmu tak pernah ada yang kualphakan dan kulewatkan. Ada kecemasan yang tidak ku mengerti saat aku tak menemukan sosokmu seharian di antara padatnya rutinitas perkuliahan. Ada kecemburuan yang tidak ku pahami saat melihatmu asik bercengkrama dengan lelaki lain yang tidak ku kenal. Berkali-kali hati ini seolah muak dan ingin mati rasa. Tapi, apalah daya… Sedekat apapun jarak tak membuatku memiliki hak untuk pembelaan. Bagaimana bisa aku begitu takut kehilangan seseorang yang bahkan aku tidak tahu pasti kepada siapa hatinya ia tambatkan. Perasaan kagumku seolah menjelma menjadi cinta dengan lancangnya. Lalu, salahkah?