Bagi kamu yang berusia 20an ke atas dan belum menikah pasti pernah atau bahkan sering mendapat pertanyaan “KAPAN MENIKAH?”

Bagi saya itu adalah pertanyaan jorok. Layaknya kata-kata jorok yang tabu untuk diucapkan, pertanyaan “Kapan Menikah” juga tidak pantas untuk ditanyakan. Apalagi pertanyaan tersebut muncul saat kita fakir asmara.

Menyandang status jomblo saja membuat beban hidup bertambah karena sering dibully dimanapun kita berada, apalagi ditambah dengan pertanyaan serupa, mungkin peribahasa yang cocok dengan kondisi itu adalah “Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga, Diinjak Gajah” sakitnya sungguh luar biasa.

Sebenarnya menikah bukan masalah usia apalagi omongan tetangga, kesiapanlah yang menjadi dasarnya. Kalau memang tidak siap apa harus dipaksa?

Siap di sini bukan melulu tentang materi, namun juga tentang hati.

Advertisement

Siapkah kita menyingkirkan ego kita dan bekerjasama dengan dia sang belahan jiwa dalam membangun tujuan bersama?

Siapkah kita berkorban untuk memberikan yang terbaik baginya?

Siapkah kita hidup bersamanya dalam keadaan suka maupun duka?

Sudahkah kita mengenal pasangan kita dan sanggup menerima segala kelebihan maupun kekurangannya hingga akhirnya dapat saling melengkapi dalam membangun kesempurnaan cinta?

Tetapi pertanyaan yang lebih penting dari itu semua adalah : Siapkah seseorang yang akan kita nikahi atau menikahi kita? (Jangan-jangan semuanya sudah siap tapi ternyata pasangannya belum ada… hihihi)

Pernikahan bukanlah merupakan ajang perlombaan, siapa yang cepat dia yang hebat. Bukan itu!!! Yang benar adalah siapa yang dapat bertahan dalam ikatan perkawinan yang sehat dialah yang hebat.

Pernikahan juga bukan merupakan suatu cara untuk meningkatkan harga diri, hanya untuk mengganti label “tidak laku” menjadi “sold”. Kalau hanya sebatas itu, setelah lebel “sold” sudah dipegang, bagaimana jika status janda/duda terus menghantui? Apakah harga diri tetap tinggi?

Pernikahan adalah sebuah ikatan suci, sebuah perjanjian di hadapan Tuhan antara dua anak manusia untuk hidup saling mengasihi sampai mati.

Bray,Sist… ikuti saja suara hatimu, karena nantinya yang menjalani adalah dirimu, susah senangnya hanya kamu yang tahu, sedang orang lain hanya bisa memberi komentar melulu.