Rumah memang tempat paling nyaman di dunia yang penuh dengan kepalsuan. Zona ternyaman yang pernah ada dan juga tempat makan gratis dengan berbagai menu yang bisa kita request sendiri pada ibu. Hanya saja semakin dewasa terkadang ada beberapa hal yang terjadi diluar ekspetasi kita. Dan yang banyak terjadi ketika kita sudah selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan di luar kota atau bahkan di luar pulau. Sebagai sarjana tentu dengan segala ke-idealisme-an kita, berpikir inilah saatnya untuk mengembangkan diri. Memang benar kita akan menjadi pribadi yang lebih baik ketika keluar dari zona nyaman.

Dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu pasti tidak kita dapatkan dengan mudah. Ada saja hal-hal menyakitkan atau pun menyenangkan yang akan kita dapatkan. Apalagi jika ini menjadi pengalaman pertama kali kita kos sendiri. Belajar gimana caranya mengatur keuangan dengan lebih baik itu keharusan. Nggak lucu juga kalau kita kerja jauh-jauh dari rumah tetapi malah numpuk hutang. Rugi sama merantaunya kalau kita nggak bisa menabung hasil kerja keras kita.

Kita boleh saja jajan dan membeli apa yang kita mau, hanya saja bukan berarti kita harus boros. Sudah bukan jamannya kita menjadi korban produk. Sebagai pekerja kita dituntut untuk lebih pandai dan teliti dalam segala hal. Apalagi yang berhubungan dengan keuangan. Selain Tuhan, uang menjadi hal penting yang harus kita punya saat jauh dari keluarga. Nggak lucu juga ketika kita kerja di luar kota tetapi minta kiriman dari rumah. Mungkin untuk satu atau dua bulan pertama nggak masalah. Tapi untuk bulan-bulan berikutnya tentu nggak banget. Kalau memang masih minta kiriman dari rumah kenapa nggak duduk manis di rumah aja.

Selain keuangan yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Kita juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan. Bersikap ramah seperlunya saja nggak usah alay. Apalagi saat ini kejahatan ada dimana-mana, bukan curiga hanya saja kita harus waspada. Selain itu, jadi anak rantau kita dituntut untuk mandiri. Jangan berharap pada teman, meskipun kalian kelihatan dekat belum tentu juga dia teman yang baik.

Contoh simplenya teman kita minta diantarkan ke mini market dan kita mau nganterin. Eh, pas kita lagi pingin beli makan dan minta dianterin dianya nggak mau. Kalau pas lagi nggak baper mungkin biasa aja, tapi kalau kita lagi baper yang ada sensi dan dongkol. Apalagi kalau teman kita tipe orang yang nggak peka. Widih, dongkol sendiri kan jadinya. Untuk itu, selama kita bisa melakukan apapun itu sendiri lakukan. Nggak perlu manja dan baper. Jadi anak rantau manja bakalan bikin kamu kelaparan dan nggak mengenal dunia luar selain lingkungan kerjamu. Apalagi kalau kamu baper, bisa-bisa tiap malam kamu nangis di kamar.

Advertisement

Jadi, jelas 'kan kalau baper itu nggak baik. Jadi anak rantau memang bikin pribadi kita lebih berkembang. Kita jadi mengenal banyak orang dengan beragam sikapnya. Sebagai manusia wajar kalau kita merasa sedih, sebel dan marah. Hanya saja kita juga harus jadi pribadi yang berani untuk berlapang dada. Sudah nggak jaman menyimpan dendam dan amarah. Buat apa? Nggak ada manfaatnya. Maafkanlah sikap teman yang menyebalkan, dan mulai belajar lebih mandiri tanpa harus mengandalkan orang lain. Kita boleh minta tolong jika memang kita benar-benar membutuhkan pertolongan. Jika hanya untuk membeli makan atau ke mini market kita bisa melakukannya sendiri.

Jadi anak rantau itu harus open minded, tetapi tetap punya komitmen. Kita hidup dijaman di mana namanya empati sudah hampir lenyap. Untuk itulah, segala hal yang baik harus kita mulai dari diri sendiri. Kita juga nggak perlu mengharapkan orang lain membalas kebaikan kita ketika kita menolongnya. Buat apa mengharapkan balasan orang lain, jika balasan yang diberikan Tuhan jauh lebih baik.

Tidak hanya itu, yang sering terjadi ketika kita bertemu dengan teman yang berasal dari provinsi atau kota yang sama atau mungkin suku yang sama kita akan berpikir mereka adalah teman kita. Dan kita pun berharap lebih pada mereka. Hanya saja apa yang kita pikirkan terkadang tidak sama dengan fakta yang ada. Belum tentu juga yang satu kota atau satu provinsi dan satu suku bisa menjadi teman kita dan yang berasal dari suku lain juga belum tentu tidak sebaik yang kita kira. Sudah nggak seharusnya kita berpikir seperti itu.

Yang harus kita yakini hanyalah siapapun dia entah suku yang sama atau berbeda, dari kota yang sama atau berbeda, kita tetap yakin mereka orang baik. Terlepas dari itu ketika kita mendapati sikap mereka yang nggak banget kita bisa mundur perlahan. Tetap bersikap baik kepada orang lain, miliki empati dan jangan berharap apapun pada orang lain karena berharapa hanya kepada Tuhan.

Semoga dengan kita merantau kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijaksana. Toh bijaksana dan kedewasaan bukan hadiah cuma-cuma, tetapi melalui tahapan dan proses-proses yang terkadang menyedihkan dan menyakitkan. Selamat menjadi anak rantau. Selamat belajar untuk menjadi dewasa dan lebih bijaksana lagi. Tetap berpikir positif dan depend on God.