Dan lagi. Kamu menyakitiku dengan kata-katamu. Padahal kita bukan apa-apa lagi. Aku bukan milikmu lagi. Kubuka sedikit ruang untukmu agar dapat menanyakan kabarku, bukan kembali mengatur kehidupanku. Aku rasa harusnya kamu masih ingat.

Sebelumnya sudah pernah ku jelaskan padamu, sekalipun rindu datang menyiksaku, sedikitpun tak pernah terbersit dalam benakku untuk memintamu kembali memelukku seperti dulu. Bukan karena tak adanya lagi rasa, aku hanya takut terluka kembali dengan alasan yang sama.

Ku buka sedikit pintu maaf bagimu bukan untuk mempersilakanmu masuk kembali dalam ruang yang sebelumnya pernah kamu tempati, tapi untuk mempersilahkanmu duduk dalam ruang dimana teman-temanku pun menempati ruang itu. Aku memang ingin melepaskanmu tapi tidak menginginkan pertambahan musuh. Bila cinta tak dapat lagi dijalin apakah kita harus saling menatap sebagai musuh?

Kututup cerita cintaku darimu bukan karena aku membencimu, tapi karena aku tahu bahwa kelak akan ada orang lain yang harus ku persilahkan masuk. Lantas bagaimana dia akan masuk bila kamu terus berdiam didepan pintu atau yang lebih parah kamu tinggal didalamnya dan memenuhi tempat yang seharusnya dia tempati?

Bila dia melihat itu. Iya, dia yang kamu katakan padaku mungkin lebih baik daripada kamu datang dan menginginkanku lalu melihatmu masih menempati tempat lamamu, kurasa dia tak akan mau lama-lama menunggu atau bersusah payah membuatmu pergi, karena setahuku pria dewasa takkan mau membuang waktu untuk melakukan itu.

Advertisement

Aku sama sekali tak membencimu. Tidak sama sekali. Aku sendiri bahkan tak pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku yakin apapun yang terjadi dalam kehidupanku tidak ada yang kebetulan. Dari sekian juta orang Tuhan pasti punya maksud kenapa dia mempertemukan kita. Aku justru ingin berterimakasih padamu. Berterimakasih untuk setiap hal yang pernah kamu lakukan padaku.

Terimakasih karena sudah membawaku pada titik ini. Dimana aku merasa lebih baik. Aku belajar banyak hal darimu. Aku belajar tentang kesabaran, setia, percaya, tidak berharap terlalu berlebihan pada manusia, menghargai diri sendiri, dan masih banyak lagi pelajaran yang sudah kamu beri yang tak bisa satu persatu aku sebutkan, karena mungkin akan menghabiskan milyaran kata untuk hal itu dan aku rasa aku tak punya cukup waktu untuk itu.

Tak perlu terus berfikir bahwa mungkin aku wanita terakhir yang akan membuatmu jatuh cinta. Kamu salah! Jangan khawatir, aku sendiripun pernah melakukan kesalahan itu. Pernah aku berpikir bahwa aku takkan pernah sanggup berpaling darimu. Seberapapun sakit keadaan yang harus kuhadapi saat bersamamu tak pernah membuatku berkeinginan meninggalkanmu. Sampai akhirnya kamu yang memintaku pergi.

Bila ku ingat malam itu, malam dimana percakapan kita sebagi kekasih merupakan percakapan terakhir, dunia serasa mau runtuh. Aku bingung harus berbuat apa. Aku harus melanjutkan hidup tanpa kamu. Saat itu aku berfikir mungkin hati ini tidak akan pernah terbuka lagi untuk hati yang lain selain kamu, tapi ternyata aku salah.

Hidupku masih terus berjalan. Aku masih tetap bisa tertawa bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Aku bebas pergi kemanapun aku mau. Aku bebas memilih dengan siapa aku mau membunuh waktu senggangku. Aku merasa hidup tak seburuk apa yang aku pikirkan. Walaupun mungkin belum kutemukan penggantimu.

Bukan karena aku tak mau mencari atau bukan juga karena kamu yang terbaik, bukan sama sekali. Tapi karena aku tak ingin gagal lagi. Aku hanya sedikit lebih menjaga hatiku dari orang-orang yang hanya mencoba masuk dan pergi lagi. Aku hanya sedang mempersiapkan diri bagi dia yang tulang rusuknya telah dicabut Tuhan demi untuk menghadirkan ku kedunia.

Beberapa pria yang mendekati mulai kuperhatikan dengan baik. Tidak lagi hanya nyaman yang kucari dari mereka. Aku mulai belajar lebih banyak mendengarkan mereka daripada berbicara untuk menilai cara berfikir mereka. Aku lebih banyak belajar memberi untuk melihat seberapa mampu mereka menghargaiku.

Aku belajar untuk tidak menuntut untuk melihat seberapa besar dia mampu melihat apa yang aku perlu dengan perasaan sadar bukan karena tuntutanku. Aku belajar untuk lebih mengandalkan doa daripada usahaku mati-matian untuk mendapatkan cinta.

Entah siapapun nanti yang mendapingiku. Kumohon padamu untuk ikut berbahagia. Kelak kita akan sama-sama menemukan dia yang telah kita pilih dengan segala pertimbangan dan restu Tuhan. Jangan khawatir, bila bukan denganku, berarti sudah Tuhan siapkan dia yang lebih baik dari aku. Kamu hanya perlu bersabar dan menikmati setiap proses seperti aku yang belajar menikmati setiap proses yang terjadi setelah aku kehilangan kamu.