Ketika kamu sedang patah hati, semua harapan yang sudah kamu rajut perlahan memudar dengan sendirinya. Anganmu kembali kepada keadaan semula. Perih memang. Tapi begitulah kenyataannya. Kamu akan merasa ada yang hilang. Seseorang yang biasanya kamu gunakan untuk bersandar dan bekeluh kesah mendadak menghilang tanpa kabar. Meninggalkan kamu sendiri tanpa ada kepastian. Padahal kamu masih mencintainya.

Disaat-saat seperti itulah, dirimu berada pada fase yang menyedihkan. Fase dimana kamu merasa bahwa dirimu sudah kehilangan arah. Tak ada tujuan yang ingin kamu tuju. Hatimu seolah terkoyak. Lukapun menganga lebar di dinding hatimu. Kecewa dan kawan-kawannya pun turut menemanimu dalam kesendirianmu. Saat itulah kamu memang memerlukan pegangan. Memerlukan bahu untuk menyandarkan kepalamu sejenak. Memerlukan hati untuk mengistirahatkan perasaanmu sebentar. Dan memerlukan penawar untuk menyembuhkan luka yang menganga lebar.

Ketika itu pulalah putus asa menghampirimu. Kamu yang sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, akan kesulitan untuk move on dari kisah lamamu. Padahal didepan sana masih banyak hal yang lebih penting dari hanya sekedar mengurusi perasaanmu yang sedang berada dalam keadaan abnormal itu.

Kamu berusaha mencari cara untuk menyembuhkan luka itu. Mengenyahkan bayang-bayangnya dari pikiranmu. Dan saat itulah Tuhan mempertemukanmu dengan seseorang yang mungkin menjadi jawaban atas pintamu. Kamu dipertemukan dengan dia yang juga sama-sama terluka. Sama-sama sakit. Dan sama-sama kecewa. Ia akan menjadi penawarmu dan kamu pun demikian.

Seiring berjalannya waktu, kamu dan dia berhasil bergerak maju. Kalian sukses untuk move on dari masa lalu. Hubunganmu dengan dia pun semakin dekat dan erat. Tidak bisa lagi dibilang sekedar teman atau sahabat. Tapi lebih dari itu.

Advertisement

Namun apa jadinya jika dia bertemu kembali dengan cinta lamanya? Ini akan benar-benar mengancam posisimu. Cinta lamanya yang telah kembali dan sukses meporak-porandakan hatinya lagi. Mendadak menggeser posisimu dari dalam hatinya. Mendadak mencuri sebagian tempatmu diruang hatinya. Mendadak mengusirmu secara halus dari kehidupannya. Kamu rela? Tentu tidak semudah itu kamu akan merelakan dia untuk kembali kepada cinta lamanya. Meskipun sebenarnya cinta lamanyalah yang menjadi sumber kebahagiannya. Bukan kamu. Karena kamu hanyalah pendatang. Pendatang yang sama terlukanya dengan dia pada saat itu. Lalu memutuskan untuk sama-sama menjadi penawar dan akhirnya memilih untuk bersama.

Sungguh itu bukanlah hal yang mudah. Harus merasakan terluka lagi untuk kesekian kalinya. Harus merasakan kecewa lagi untuk entah yang ke berapa kalinya. Mau tak mau, rela tak rela, kamu pun harus mengikhlaskan dia untuk kembali pada cinta lamanya. Cinta lamanya yang masih sangat dicintainya. Cinta lamanya dimana ialah yang menjadi sumber kebahagiannya.

Bagaimana kamu akan move on setelah ini? Harus mencari pelampiasan? Oh tentu tidak! Itu bukan cara yang bijak. Tapi bukankah kamu secara tidak langsung sudah menjadi pelarian untuknya? Begitupun sebaliknya, bukan?

Tapi move on tidak semudah itu. Kamu harus merelakan segala impian indahmu yang pernah kamu rajut bersamanya. Merelakan semua kenangan indah yang pernah kamu buat bersamanya. Jika dengan cara mencari tempat lain untuk dijadikan sebagai pelarian, maka rasanya itu sama saja akan membuat kesalahan yang sama. So, how to move on?

Cara yang paling mudah adalah dengan mencari kesibukan-kesibukan baru untuk mengenyahkan dia dari pikiranmu. Mengisi kekosongan waktumu dengan aneka kegiatan yang bermanfaat. Itu akan membuat pikiranmu teralihkan dari si dia. Menjejali otakmu dengan membaca buku. Itu akan menghentikan pikiranmu agar tak fokus hanya memikirkannya. Memilih berkumpul dengan teman-teman atau para sahabat terdekatmu. Bertukar cerita dengan keluargamu. Atau menghabiskan waktumu dengan menonton film kesukaanmu. Tentu semua itu harus bernilai positif. Agar dirimu bisa lepas dari payung hitam masa lalu.

Semua itu perlu proses. Tidak bisa instan. Karena move on bukan seperti makanan cepat saji yang sekali pinta ia akan langsung jadi. Kamu bisa melupakannya. Memaafkan dia yang pernah datang dengan membawa luka lalu pergi juga meninggalkan luka. Tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan sampai harus sibuk stalking dia lewat akun sosial media. Itu akan membuatmu malah semakin sulit untuk mengambil langkah selanjutnya. Biarkan dia bahagia dengan cinta lamanya dan biarkan pula kamu bahagia dengan cinta yang lain yang lebih baik darinya.

Karena cinta bukan hanya soal mendapatkan apalagi mempertahankannya. Tapi juga tentang merelakan dan melepaskan.