Saat kata perjuangan kuletakkan di antara beribu kata menyerah, mengapa dia selalu bersinar? Menatap corak sebuah hasil yang aku sendiri menutup mata akan usaha. Bersikukuh tentang juangku adalah batas sebuah beban, lantas samudra itu bukanlah sepetak telaga warna. Seperti itukah saat kutemukan riak yang terserak di sudut-sudut kapal yang menepi ke dermaga perjuangan. Menjemput hasil yang belum pasti datang dengan kata begitu saja. Meneriakimu sudah cukup membuat pita suaraku lelah, sedang aku berdiri di tengah kerumunan masa yang sedang menuntut sebait perjuangan.

Lebih baik aku pulang saja. Mengubur sampan di antara riuhnya bingar pejuang masa kini. Biarkan terpendam bersama tumpukan keputus asaan. Maki saja aku, agar gaungku sama sekali kosong tak terdengar pejuang masa lalu. Hanya saja, namaku tersusun paling bawah di antara deretan pecundang sementara.

Berjuang bersama pelaut baru, saat sampan itu enggak terbakar. Mendengar sendiri bahwa buat apa kutanam titik benci terhadap kesabaran. Meski pasang surut air laut bukan halangan sampan mereka berlabuh. Bukan aku benci mereka pula, namun aku selalu menghendaki sebuah puncak. Tapi bersama semilir angin tengah laut, aku melihatnya sebagai bintang tanpa kerlip. Jarakku memang mustahil kutempuh sendirian, saat bintang itu mulai hilang dan bermunculan lagi. Aku hanya duduk menikmati rinduku yang sempat kulupa.

Berpacu besama waktu yang mustahil terhenti. Berkeluh kesah memintal bait bersama kata penyesalan. Melupakan waktu yang selalu kukhianati. Membuatnya berlalu tanpa sekantong bahagia untuk masa depan. Kutinggalkan ia di sudut rumah singgahku, hanya berteman kata sia-sia yang aku sendiri lupa mengingatnya. Namun, sang waktu erat bersama dayung setiap kali tanganku mengayun. Tanpa rasa benci dan dendam sedikitpun, meski aku melupa begitu saja.

Selama matahari belum ingkar terhadap arah, lautku akan selalu ramai oleh ombak. Meski nyatanya, setiap detik estafet langkah aku melupa tanpa sengaja.

Advertisement

Selama matahari belum ingkar terhadap arah, lautku akan selalu ramai oleh ombak. Meski nyatanya, setiap detik estafet langkah aku melupa tanpa sengaja. Mengingatnya hanya langkah menuju lupa. Lalu, aku bersembunyi di balik antrian menuju penghambaan. Aku takut jika waktuku tersisa selangkah, sedang menebaknya adalah berenang di tepi pantai. Aku juga takut, seserahan duniaku tertolak tanpa sentuhan.

Dan aku pun merindu usaha, saat kulihat hasil pongah terhadap kesombongan, lalu melambai tangan tanpa ucapan. Selama ini aku tertidur lelap, di atas tumpukan kertas pembelaan terhadap lelahku. Ku lihat awan pekat hitam, tapi ujungnya hujan itu mengingkarinya. Aku bukan pecundang tentara masa lalu, terkapar tepar saat komandanya terbakar kobar. Aku juga bukan pecundang masa kini, menhilang di sela-sela terumbu karang buatan manusia. Lalu muncul saat melihat aku pantas menjadi raja.

Bersama mendung yang tersisa, dadaku sesak oleh isaknya. Saat aku menggantung rindu di ujung kabut tebal. Mencoba memisahkanku dengan rasa pahit perjuangan. Percuma, dan kini aku terbiasa dengannya.

Akhirnya, kubiarkan tubuhku menikmati hujan di sebrang dermaga. Sambil memandang batas pandangan yang samar oleh kabut hujan. Sesekali tersapu oleh angin yang aku pernah merasakan sentuhannya. Tanganku basah saat hujan kini bergantai rintik. Bersama mendung yang tersisa, dadaku sesak oleh isaknya. Saat aku menggantung rindu di ujung kabut tebal. Mencoba memisahkanku dengan rasa pahit perjuangan. Percuma, dan kini aku terbiasa dengannya. Pergi saja, silahkan bawa juangmu bersama sekantong mustahil. Lalu, kulanjutkan pelayaranku bersama segudang kepercayaan.